Anda Berada di halaman : Berita » Tips 3 OJL: Melakukan Rencana Tindak Kepemimpinan (RTK)
 

Layanan Utama

Berita Foto

<a href='http://lppks.kemdikbud.go.id/berita_foto/129'>Pembukaan Diklat IN 1 Prov. Sumatera Barat</a> <a href='http://lppks.kemdikbud.go.id/berita_foto/130'>Peserta Diklat IN 1 Prov. Sumatera Barat</a> <a href='http://lppks.kemdikbud.go.id/berita_foto/131'>Pembukaan Diklat In Service Learning-2 Program PKB KS/M SMP Prov. Jatim Peserta Th. 2014</a> <a href='http://lppks.kemdikbud.go.id/berita_foto/133'>Peserta IN 1 Prov. Riau mengikuti Kegiatan Pembukaan</a> <a href='http://lppks.kemdikbud.go.id/berita_foto/134'>Kasi SI LPPKS menghadiri Pembukaan Kegiatan Diklat In 1 Prov. Riau</a>
Prev Next

Polling

Seberapa penting pelaksanaan Diklat Kepala Sekolah Pembelajar yang merupakan tindak lanjut hasil Uji Kompetensi Kepala Sekolah dalam upaya meningkatkan Kompetensi Kepala Sekolah?





Tips 3 OJL: Melakukan Rencana Tindak Kepemimpinan (RTK)
Kategori : Artikel Oleh : administrator Ditulis : Senin, 16 Mei 2016 Hits : 1073

Selama hampir 7 tahun saya membimbing peserta diklat calon kepala sekolah melaksanakan Rencana Tindak Kepemimpinan (RTK), selama itu pula tidak mudah bagi saya untuk memberikan pemahaman tentang konsep dan penerapan Rencana Tindak Kepemimpinan (RTK) seperti yang tergambarkan  di atas. Khususnya untuk calon kepala sekolah yang berlatar belakang guru sekolah dasar, atau guru murni yang tidak begitu aktif dengan upaya pengembangan program dan pelaksanaan kegiatan di sekolah selama ini, atau mereka yang potensi kepemimpinannya biasa saja (biasanya karena proyeksi kebutuhan), dan kemampuan IT-nya belum memadai, rasanya perlu analogi atau penjelasan yang lebih mudah untuk dipahami, disamping bantuan wawancara yang lebih mendalam oleh Master Trainer (MT) dengan peserta secara individu, sehingga kebutuhan akan bantuan untuk mengatasi kesulitan memahami tugas-tugas OJL bagi peserta diklat calon kepala sekolah terlayani dengan baik. Artinya, pemahaman dan daya serap calon kepala sekolah/madrasah tentang semua tugas On-the Job Learning (OJL) bukanlah sesuatu yang mudah untuk dicapai. Demikian pengantar pria kelahiran Magetan yang menulis artikel berikut:

 

JUDUL ARTIKEL

Tips 3 OJL: Melakukan Rencana Tindak Kepemimpinan (RTK)

FOTO DAN KONTAK EMAIL/WA/HP

 

cahyonosastroprayitno@yahoo.com

WA/HP: 081201756510

PENULIS

Yuli Cahyono / 196807151994031019

Lahir di Magetan, 15 Juli 1968. Pendidikan S2 Jurusan Penelitian dan Evaluasi Pendidikan.

Widyaiswara LPPKS sejak tahun 2009-2016. Widyaiswara Berprestasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2015.

KALIMAT INSPIRATIF

Belajar dari kesalahan dan kelemahan serta merevisi strategi atau metode itu penting dalam kepemimpinan (Yoel Yoel Yoel)

PENGANTAR

Selama hampir 7 tahun saya membimbing peserta diklat calon kepala sekolah melaksanakan Rencana Tindak Kepemimpinan (RTK), selama itu pula tidak mudah bagi saya untuk memberikan pemahaman tentang konsep dan penerapan Rencana Tindak Kepemimpinan (RTK) seperti yang tergambarkan  di atas. Khususnya untuk calon kepala sekolah yang berlatar belakang guru sekolah dasar, atau guru murni yang tidak begitu aktif dengan upaya pengembangan program dan pelaksanaan kegiatan di sekolah selama ini, atau mereka yang potensi kepemimpinannya biasa saja (biasanya karena proyeksi kebutuhan), dan kemampuan IT-nya belum memadai, rasanya perlu analogi atau penjelasan yang lebih mudah untuk dipahami, disamping bantuan wawancara yang lebih mendalam oleh Master Trainer (MT) dengan peserta secara individu, sehingga kebutuhan akan bantuan untuk mengatasi kesulitan memahami tugas-tugas OJL bagi peserta diklat calon kepala sekolah terlayani dengan baik. Artinya, pemahaman dan daya serap calon kepala sekolah/madrasah tentang semua tugas On-the Job Learning (OJL) bukanlah sesuatu yang mudah untuk dicapai.

 

Tulisan ini dimaksudkan untuk mendorong para Master Trainer (MT) untuk melakukan tindakan paedagogik yang bermutu dengan memberikan analogi dan penjelasan tentang Rencana Tindak Kepemimpinan (RTK) untuk mengatasi ketidakpahaman peserta diklat calon kepala sekolah. Pembahasan tentang Rencana Tindak Kepemimpinan (RTK) akan berkisar di seputar rambu-rambu OJL, konsep Rencana Tindak Kepemimpinan (RTK, dan penerapan Rencana Tindak Kepemimpinan (RTK) berupa analisis judul Rencana Tindak Kepemimpinan (RTK). Selamat Membaca. Tetap Semangat Gembira dan Sehat (Yoel Yoel Yoel)

 

PEMBAHASAN

1. Rambu-Rambu RTK

 

Berdasarkan Petunjuk Teknis Pelaksanaan On The Job Learning (OJL) Diklat Program Penyiapan Calon Kepala Sekolah/Madrasah Tahun 2013, dinyatakan bahwa Rencana Tindak Kepemimpinan (RTK) adalah upaya untuk meningkatkan kompetensi dan kualitas kinerja calon kepala sekolah/madrasah.1) Rencana Tindak Kepemimpinan (RTK) harus relevan dengan hasil analisis AKPK individu yang terlemah dan dipadukan dengan hasil EDS mencakup salah satu dari Standar Isi, Standar Proses, Standar Penilaian, atau Standar Komptensi Lulusan dalam upaya peningkatan kualitas kinerja sekolah/madrasah.

 

Rambu-Rambu On The Job Learning (OJL)  Diklat Program Penyiapan Calon Kepala Sekolah/Madrasah Tahun 2013 menyatakan, bahwa Rencana Tindak Kepemimpinan (RTK) adalah penjabaran rencana pengembangan sekolah/madrasah secara operasional yang di dalamnya memuat tindakan-tindakan kepemimpinan calon kepala sekolah/madrasah dalam menjalankan program/ kegiatan untuk peningkatan kinerja sekolah/madrasah. Rencana Tindak Kepemimpinan (RTK) disusun sebagai upaya untuk meningkatkan kompetensi dan kinerja sekolah/ madrasah. Pelaksanaan Rencana Tindak Kepemimpinan (RTK) yang dilakukan calon kepala sekolah/madrasah hendaknya mencerminkan nilai-nilai spiritual, kewirausahaan dan kepemimpinan pembelajaran.2) Pelaksanaan RTK dilakukan minimal 2 siklus.

 

Selanjutnya, di dalam Petunjuk Penyusunan Rencana Tindak Kepemimpinan (RTK) Diklat Program Penyiapan Calon Kepala Sekolah/Madrasah Tahun 2013 dinyatakan juga bahwa tindakan-tindakan kepemimpinan yang dilakukan calon kepala sekolah/madrasah hendaknya mencerminkan nilai-nilai spiritual, kewirausahaan dan kepemimpinan pembelajaran.3) Tujuan penyusunan RTK yaitu 1) peningkatan kompetensi kepribadian, sosial dan kewirausahaan calon kepala sekolah, dan 2) peningkatan kinerja sekolah.

 

Secara konseptual, Rencana Tindak Kepemimpinan (RTK) adalah tindakan kepemimpinan yang dilakukan calon kepala sekolah/madrasah yang bertujuan untuk meningkatkan kompetensi calon kepala sekolah/madrasah dan kualitas kinerja calon kepala sekolah/madrasah.  

 

Sedangkan secara operasional, Rencana Tindak Kepemimpinan (RTK) adalah tindakan kepemimpinan yang dilakukan oleh calon kepala sekolah/madrasah untuk meningkatkan kompetensi kepribadian, sosial dan kewirausahaan dan kinerja sekolah/madrasah di dalam diklat Program Penyiapan Calon Kepala Sekolah/Madrasah, yang mencerminkan nilai-nilai spiritual, kewirausahaan dan kepemimpinan pembelajaran, yang merupakan penjabaran dari rencana pengembangan sekolah/madrasah.

2. Konsep Rencana Tindak Kepemimpinan (RTK)  

 

Pada dasarnya Rencana Tindak Kepemimpinan (RTK) terdiri dari dua bagian, yakni pertama, berupa program kegiatan, misalnya Workshop, In House Training (IHT), Pendampingan, Kelompok Kerja (Guru), Coaching, Mentoring, Focus Group Discussion (FGD), atau Lesson Study, dan lain lain; dan yang kedua berupa pelaksanaan kegiatan, yang terdiri dari 4 tahapan, yakni 1) Tahap Persiapan, yakni serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk melaksanakan workshop; 2) Tahap Pelaksanaan, yakni serangkaian kegiatan dari workshop itu sendiri dari awal sampai akhir; 3) Tahap Monitoring dan evaluasi (Monev), yakni serangkaian kegiatan pengumpulan dan analisis data untuk melihat keterlaksanaan dan ketercapaian program dan pelaksanaan program tadi; 4) dan yang terakhir adalah Tahap Refleksi, yakni serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk menganalisis bagian-bagian dari program dan pelaksanaan kegiatan yang belum baik, yang masih kurang, atau yang masih lemah, dan sebagainya, lalu kemudian disusun kembali sebuah program kegiatan selanjutnya, bisa berupa program kegiatan perbaikan, atau bisa juga program kegiatan peningkatan, atau bisa juga program kegiatan penguatan atau bisa juga sebuah program kegiatan pengembangan, sebagai rencana tindak kepemimpinan selanjutnya di siklus yang ke-2.

 

Demikian seterusnya, seperti penugasan dalam salah satu kegiatan Outbound manajemen kepemimpinan, yakni Kotak Misteri, pesan yang ingin disampaikan salah satunya adalah 1) belajar lah dari kekurangan dan kelemahan diri untuk kemudian dilakukan perbaikkan secara terus menerus; dan 2) Strategi yang tepat itu tidak begitu saja secara kebetulan diciptakan, tapi dengan berkali-kali kesempatan perubahan pergantian dengan banyak kesulitan dan kegagalan.

 

3. Rumus Sederhana Melakukan Rencana Tindak Kepemimpinan (RTK) 

 

Misalnya dalam penyusunan judul Rencana Tindak Kepemimpinan (RTK). Judul ini diambil dari salah satu upaya peningkatan kinerja sekolah di Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Judul Rencana Tindak Kepemimpinan (RTK) seperti ini tidak bisa diterima karena bertentangan dengan prinsip kepemimpinan pembelajaran, yakni jika gurunya baik maka pembelajaran akan baik dan hasil belajar siswa akan makin baik. Judulnya “Upaya meningkatkan kemampuan guru berakhlak mulia dan bertakwa melalui IHT”. Sepintas kelihatannya seperti tidak ada masalah. Namun jika kita telaah secara lebih mendalam, judul seperti itu memberi pesan bahwa gurunya yang tidak atau kurang berakhlak mulia dan kurang atau tidak bertakwa. Ya tentu saja nanti gurunya akan marah, karena mereka akan dilatih, di-IHT-kan, diceramahi dan diajak kembali ke jalan yang benar.

 

Lalu judul seperti apa yang bisa diterima? Perhatikan baik-baik dengan judul berikut ini, yakni “Upaya meningkatkan kemampuan guru menciptakan pembelajaran yang berakhlak mulia dan bertakwa melalui IHT”. Nah, pada judul yang seperti ini, pesan yang ingin disampaikan bahwa yang bermasalah adalah pembelajaran guru yang tidak atau kurang mampu menciptakan pembelajaran yang berakhlak mulia dan kurang atau tidak bertakwa atau hasil pembelajaran guru. Atau bisa jadi juga, yang bermasalah adalah hasil pembelajaran guru yang tidak atau kurang bisa membuat siswa menjadi individu yang berakhlak mulia dan kurang atau tidak bertakwa. Jadi pada judul seperti ini, yang akan terjadi kegiatannya adalah 1) Workshop Pembelajaran Berakhlak Mulia dan Bertakwa (atau terserah apa metode menggerakkannya). Dan hasilnya berupa RPP buatan guru yang pada bagian kegiatan pembelajarannya sudah direncanakan kegiatan pembelajaran yang membuat siswa berakhlak mulia dan bertakwa. Ini adanya di siklus 1; dan lalu bapak/ibu calon kepala sekolah akan mengobservasi pembelajaran guru di kelas, guru melaksanakan pembelajaran yang berakhlak mulia dan bertakwa tadi. Inilah yang menajdi siklus ke-2 nya.

Jadi sederhananya; 1) kalau RPP guru sudah ada atau sudah mengandung aktivitas pembelajaran yang berakhlak mulia dan bertakwa berarti RPP guru sudah benar; 2) kalau di pelaksanaan pembelajaran guru sudah melaksanakan RPP-nya dan itu artinya guru sudah melaksanakan kegiatan pembelajaran yang membuat siswa berakhlak mulia dan bertakwa, berarti guru sudah benar.

 

Coba perhatikan lagi judul Rencana Tindak Kepemimpinan (RTK)  yang seperti ini: “Upaya meningkatkan kemampuan siswa berakhlak mulia dan bertakwa melalui IHT”. Sepintas judul seperti itu baik-baik saja, energinya masih positif. Pada judul yang seperti ini, pesan yang ingin disampaikan adalah, yang bermasalah itu siswa yang tidak atau kurang berakhlak mulia dan kurang atau tidak bertakwa atau dalam bahasa learning output hasil pembelajaran guru tidak maksimal. Namun jika kita lakukan depth interview dengan peserta diklat yang bersangkutan, siapa nanti yang akan menjadi peserta In House Trainning (IHT)? Maka jawabannya adalah siswa. Nah, di sinilah letak ketidaklogisannya, ketidakberterimaannya dengan prinsip kepemimpinan pembelajaran di atas. Jadi jelas, mana judul Rencana Tindak Kepemimpinan (RTK) yang bisa diterima dan mana yang tidak akan bisa dilaksanakan karena tidak sesuai dengan prinsip kepemimpinan pembelajaran yang baik.

 

PENUTUP

Permalasahan yang sering terjadi adalah pemahaman peserta diklat calon kepala sekolah/madrasah tentang Rencana Tindak Kepemimpinan (RTK) yang masih kurang. Oleh karena itu Master Trainer (MT) harus senantiasa mengingatkan peserta calon kepala sekolah/madrasah untuk selalu membaca Rambu-Rambu On-the Job Learning (OJL) yang dibagikan kepada calon kepala sekolah/madrasah pada akhir kegiatan In Service Learning 1. Namun pemahaman dan daya serap calon kepala sekolah/madrasah tentang semua tugas On-the Job Learning (OJL) bukanlah sesuatu yang mudah untuk dicapai. Masih diperlukan penjelasan dan pengarahan dari Master Trainer (MT) yang lebih mudah dipahami calon kepala sekolah/madrasah dengan bahasa yang berbeda. Atau bahkan wawancara secara mendalam (depth interview) dengan peserta secara individu untuk mendapatkan gambaran secara lebih detil, seperti apa sebenarnya yang dimaui dan direncanakan oleh peserta.

REFERENSI

1)       Kemdiknas. 2013. Petunjuk Pelaksanaan Pendidikan dan Pelatihan Calon Kepala Sekolah/Madrasah. Kemdiknas: Jakarta.

2)       LPPKS. 2013. Petunjuk Teknis On The Job Learning (OJL). LPPKS: Karanganyar.

3)       LPPKS. 2016. Petunjuk Penyusunan RTK (soft file)