Anda Berada di halaman : Berita » Content of Learning Diklat Calon Kepala Sekolah/Madrasah
 

Layanan Utama

Berita Foto

<a href='http://lppks.kemdikbud.go.id/berita_foto/129'>Pembukaan Diklat IN 1 Prov. Sumatera Barat</a> <a href='http://lppks.kemdikbud.go.id/berita_foto/130'>Peserta Diklat IN 1 Prov. Sumatera Barat</a> <a href='http://lppks.kemdikbud.go.id/berita_foto/131'>Pembukaan Diklat In Service Learning-2 Program PKB KS/M SMP Prov. Jatim Peserta Th. 2014</a> <a href='http://lppks.kemdikbud.go.id/berita_foto/133'>Peserta IN 1 Prov. Riau mengikuti Kegiatan Pembukaan</a> <a href='http://lppks.kemdikbud.go.id/berita_foto/134'>Kasi SI LPPKS menghadiri Pembukaan Kegiatan Diklat In 1 Prov. Riau</a>
Prev Next

Polling

Seberapa penting pelaksanaan Diklat Kepala Sekolah Pembelajar yang merupakan tindak lanjut hasil Uji Kompetensi Kepala Sekolah dalam upaya meningkatkan Kompetensi Kepala Sekolah?





Content of Learning Diklat Calon Kepala Sekolah/Madrasah
Kategori : Artikel Oleh : administrator Ditulis : Senin, 16 Mei 2016 Hits : 513

Pada akhirnya, kita membutuhkan seorang calon kepala sekolah/madrasah yang 1) menguasai berbagai permasalahan di sekolah/madrasah dengan gambaran yang jelas; 2) berpotensi untuk bisa memimpin dan bertindak dengan mental kreasi dan fisikal kreasi yang seimbang dan baik; dan 3) menguasai semua dimensi kompetensi kepala sekolah/madrasah secara maksimal. Demikian kata inspiratif dari penulis artikel berikut:

JUDUL ARTIKEL

Content of Learning Diklat Calon Kepala SekolahMadrasah

FOTO DAN KONTAK EMAIL/WA/HP

cahyonosastroprayitno@yahoo.com

WA/HP: 081201756510

PENULIS

Drs. Yuli Cahyono, M,Pd/196807151994031019

Lahir di Magetan, 15 Juli 1968. Pendidikan S2 Jurusan Penelitian dan Evaluasi Pendidikan. Widyaiswara LPPKS sejak tahun 2009-2016. Widyaiswara Berprestasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2015.

KALIMAT INSPIRATIF

Pada akhirnya, kita membutuhkan seorang calon kepala sekolah/madrasah yang 1) menguasai berbagai permasalahan di sekolah/madrasah dengan gambaran yang jelas; 2) berpotensi untuk bisa memimpin dan bertindak dengan mental kreasi dan fisikal kreasi yang seimbang dan baik; dan 3) menguasai semua dimensi kompetensi kepala sekolah/madrasah secara maksimal (Yoel Yoel Yoel)

PENDAHULUAN

Dari awal LPPKS membangun diklat calon kepala sekolah, di era akhir tahun 2009 sampai tahun 2011, berbagai pertanyaan secara simultan membayangi kita para pengembang diklat yang bekerja saat itu dan bahkan getarannya masih terasa sampai saat ini. Diklat seperti apakah yang kita ingin kembangkan? Apakah diklat ini nantinya akan menjadi yang sebuah inovasi baru dan terbaik yang bisa kita ciptakan untuk peningkatan kualitas kepala sekolah kita di masa depan? Apakah diklat ini nantinya akan sebanding setara atau bahkan lebih baik lagi integritasnya di mata publik, jika dibandingkan dengan sekian banyak memori terindah dari diklat-diklat kepala sekolah misalkan Talent Scouting yang sudah pernah ada sebelumnya? Dan pada akhirnya, kita para pengembang saat itu, yang harus mampu menjawab, materi apa saja yang dibutuhkan oleh seorang calon kepala sekolah? Yang notabene adalah seorang guru, yang belum pernah menjabat sebagai seorang kepala sekolah. Itulah beberapa pertanyaan di awal perjalanan dari perencanaan diklat calon kepala sekolah kita di masa itu.

 

Berbagai pemikiran baru dan lama menjadi bahan pertimbangan. Pemikiran baru misalnya CPD (Continuing Proffessional Development) atau sekarang dikenal sebagai PKB yang secara intens diperkenalkan saat itu oleh teman teman konsultan Aus-Aid, Ross Davies, Graham, dkk. Pemikiran lama misalnya pengalaman praktis teknikal pelatihan Talent Scouting yang banyak diintrodusir oleh teman teman mantan pelaku Talent Scouting. Ada yang bisa kita terima dan digunakan sampai sekarang misalnya penerapan Outbound untuk penyajian materi kepemimpinan, namun juga ada yang belum bisa diterapkan sampai sekarang, misalnya materi penyiapan pidato pengangkatan kepala sekolah baru dan berbagai teknik pembelajaran kekepala-sekolahan yang lain misalnya pengelolaan konflik internal-eksternal, menangani perbedaan persepsi, pengelolaan perubahan, dll.

 

Pada awalnya yang kita kembangkan terlebih dulu adalah Unit of Learning (UoL) untuk calon kepala sekolah, kepala sekolah dalam jabatan, calon pengawas sekolah dan pengawas sekolah dalam jabatan. Dalam pemikiran kita saat itu, harus jelas perbedaannya antara materi dan penyajian materi untuk diklat kepala sekolah dan diklat kepala sekolah dalam jabatan. Demikian juga untuk diklat calon pengawas dan diklat pengawas dalam jabatan. Unit of Learning (UoL) ini kemudian kita kembangkan lagi menjadi struktur program diklat dan pola diklat In-On-In yang kita kenal sekarang ini.

 

Pengembangan materi dan pola diklat dilakukan melalui berbagai kegiatan workshop dan piloting di beberapa lokasi. Diawali dengan serangkaian workshop AKPK (Analisis Kebutuhan Pengembangan Keprofesian), yang telah menghasilkan AKPK Calon Kepala Sekolah, AKPK Kepala Sekolah dalam jabatan, AKPK Calon Pengawas Sekolah, dan AKPK Pengawas Sekolah dalam jabatan. Lalu diikuti dengan uji coba berupa kegiatan Piloting Diklat Calon Kepala Sekolah di Gresik dan Kota Malang dan Diklat Calon Pengawas Sekolah di Bengkulu pada era tahun 2009. Kemudian dilakukan workshop evaluasi program diklat tahun 2010, yang disusul dengan workshop Revisi AKPK dan Unit of Learning (UoL) yang pertama. Hasil kegiatan evaluasi dan Revisi yang pertama ini kemudian kita gunakan untuk mempersiapkan kegiatan Piloting yang kedua di 15 lokasi kab/kota, dan kemudian disusul di 45 lokasi lain di era tahun 2010. Langkah yang sama kita lakukan kembali dengan workshop evaluasi program diklat dan Revisi AKPK dan Unit of Learning (UoL) untuk yang kedua kalinya. Hasil kegiatan evaluasi dan Revisi yang kedua ini berujung dengan ditampilkannya diklat calon kepala sekolah secara nasional melalui kegiatan Piloting Penyiapan Calon Kepala Sekolah Nasional APBNP di era tahun 2011.

 image

 

 

 

 

 

 

 

Sebagai acuan dalam penyusunan program diklat calon kepala sekolah, melalui serangkaian kegiatan evaluasi program diklat, Revisi AKPK dan Unit of Learning (UoL) serta Piloting di beberapa lokasi seperti yang sudah dijelaskan di atas, lalu hasil-hasilnya dilakukan pengembangan program diklat calon kepala sekolah melalui beberapa analisis berdasarkan pendekatan/metode dan prinsip-prinsip berikut ini, yakni: 1) Analisis esensialitas; 2) Analisis prioritas; 3) Penyusunan program diklat Generik; 4) Analisis fleksibilitas; 5) Penyusunan Materi Kepemimpinan dan 6) Penyusunan Materi Penunjang. Hasilnya adalah beberapa temuan inovatif berikut ini:

 image

 

 

 

 

 

 

 

 

image

 

 

 

 

 

 

 

 

image

 

 

 

 

 

 

 

Tulisan ini akan membahas secara lebih detil bagian per bagian dari materi sajian pada diklat calon kepala sekolah yang sekarang ini sudah kita terapkan secara nasional sejak tahun 2010-2016. Tentu saja sudah pula dilakukan beberapa kali revisi terhadap bahan pembelajaran dan standar operasionalnya. Tapi perubahan-perubahan pengembangan selanjutnya tidak pernah menyentuh struktur program, AKPK dan Unit of Learning (UoL). Selamat membaca.

 

 

PEMBAHASAN

3.1. Pandangan Tentang Peran Kepala Sekolah

Kepala sekolah/madrasah adalah tokoh sentral dalam peningkatan mutu, relevansi dan daya saing pendidikan. Perannya sangat strategis dalam upaya mewujudkan sekolah/madrasah yang mampu membentuk insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif. Kepala sekolah/madrasah sebagai pemimpin di sekolah/madrasah diharapkan mampu menjadi penyumbang keberhasilan dalam penguatan tata kelola, akuntabilitas dan pencitraan publik pendidikan Indonesia.

 

Peningkatan mutu pendidikan menjadi harapan, keinginan, tuntutan kita semua. Dan untuk memenuhi semua itu, tidak semua orang bisa mengembannya. Diperlukan seorang kepala sekolah/madrasah yang profesional. Kepala sekolah/madrasah yang mampu melayani dan memuaskan semua pihak dari segala penjuru mata angin, baik dari siswa, orang tua, masyarakat luas, pemerintah pusat, pemerintah daerah, dinas pendidikan, dunia usaha dan industri dan masih banyak lagi yang lainnya. Kepala sekolah/madrasah yang mampu menerima murid sebanyak-banyaknya, memiliki fasilitas sekolah sehebat- hebatnya, menghasilkan lulusan dengan kualitas setinggi-tingginya. Semua itu tertumpu pada diri seorang kepala sekolah/madrasah. Dengan begitu baru kita sadari betapa dibalik adanya harapan, keinginan, dan tuntutan pada diri seorang kepala sekolah/madrasah tersebut terkandung adanya kepercayaan yang harus diemban dengan penuh amanah dan tanggung-jawab oleh seorang kepala sekolah/madrasah.

 

Seorang kepala sekolah/madrasah profesional meyakini sepenuhnya bahwa: 1) Tidak ada yang tidak mungkin; 2) bagaimana mengubah ketidakmungkinan menjadi kenyataan (mungkin); 3) bagaimana mencetak banyak pemimpin baru, (bahwa semua orang adalah pemimpin); 4) bagaimana mendelegasikan kewenangan; dan 5) bagaimana melaksanakan pekerjaan utamanya, yakni membuat keputusan. Untuk bisa melakukan semua itu dengan memuaskan diperlukan segudang peran dari seorang kepala sekolah/madrasah, dari sebagai seorang leader, manajer, climate maker, enterpreuner, educator, teacher, communicator, fasilitator, community, developer, inspirator, motivator, organisator, supervisor, agent of change, administrator, …dan terakhir dan tidak boleh tertinggal sebagai bagian dari ciri seorang pemimpin, yakni sebagai “vibrator”.

 

Sebuah kredo tentang kepemimpinan menyatakan: “Tidak ada sekolah/madrasah yang baik tanpa adanya kepemimpinan kepala sekolah/madrasah yang baik”. Kepemimpinan pendidikan adalah kemampuan seseorang untuk mempengaruhi, menggerakkan, memberdayakan, dan mengembangkan faktor-faktor yang mempengaruhi ketercapaian tujuan pendidikan di sekolah/madrasah. Kepala sekolah/madrasah dituntut mampu berperan sebagai pemimpin yang efektif, yang memfokuskan pada pengembangan instruksional, organisasional, staf, layanan murid, serta hubungan dan komunikasi dengan masyarakat. Jadi, kepemimpinan pendidikan pada dasarnya adalah seni dan keterampilan dari seorang kepala sekolah/madrasah untuk mempengaruhi, menggerakkan, memberdayakan, dan mengembangkan staf, karyawan dan guru agar bekerja dengan maksimal sehingga tujuan pendidikan di sekolah/madrasah bisa dicapai secara efektif dan efisien.

 

Kepemimpinan pembelajaran adalah kepemimpinan yang menekankan pada komponen-komponen yang terkait erat dengan pembelajaran, meliputi kurikulum, proses belajar mengajar, asesmen, penilaian, pengembangan guru, layanan prima dalam pembelajaran, dan pembangunan komunitas belajar di sekolah/madrasah. Tujuan utama kepemimpinan pembelajaran adalah memberikan layanan prima kepada semua siswa agar mereka mampu mengembangkan potensi, bakat, minat dan kebutuhannya. Kepemimpinan pembelajaran ditujukan juga untuk memfasilitasi pembelajaran agar siswa meningkat: prestasi belajar meningkat, kepuasan belajar semakin tinggi, motivasi belajar semakin tinggi, keingintahuan terwujudkan, kreativitas terpenuhi, inovasi terealisir, jiwa kewirausahaan terbentuk, dan kesadaran untuk belajar sepanjang hayat karena ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni berkembang dengan pesat tumbuh dengan baik.

 

Kepemimpinan pembelajaran jika diterapkan oleh kepala sekolah/madrasah akan mampu membangun komunitas belajar warganya dan kepala sekolah/madrasah bahkan mampu menjadikan sekolah/madrasah sebagai sekolah/madrasah belajar (learning school). Di sekolah/madrasah belajar, kepala sekolah/madrasah memiliki perilaku-perilaku sebagai berikut: memberdayakan warga sekolah/madrasah seoptimal mungkin, memfasilitasi warga sekolah/madrasah untuk belajar terus dan belajar ulang, mendorong kemandirian setiap warga sekolah/madrasah, memberi kewenangan dan tanggungjawab kepada warga sekolah/madrasah, mendorong warga sekolah/madrasah untuk mempertanggungjawabkan proses dan hasil kerjanya, mendorong teamwork yang kompak, cerdas, dinamis, harmonis, lincah/cepat dan tanggap terhadap pelanggan utama yaitu siswa, mengajak warga sekolah/madrasah untuk menjadikan sekolah/madrasah berfokus pada layanan prima kepada siswa, mengajak warga sekolah/madrasah untuk siap dan akrab menghadapi perubahan, mengajak warga sekolah/madrasah untuk berpikir sistem, mengajak warga sekolah/madrasah untuk commited terhadap keunggulan mutu, dan mengajak warga sekolah/madrasah untuk melakukan perbaikan secara terus-menerus.

 

Di samping sebagai seorang pemimpin, kepala sekolah/madrasah juga dituntut berperan sebagai seorang manajer yang harus mampu mengelola seluruh potensi yang dimiliki sekolah/madrasah, diantaranya pendidik, tenaga kependidikan, siswa, sarana dan prasarana, dan kurikulum guna mencapai prestasi akademik dan non akademik yang maksimal. Oleh karena itu seorang kepala sekolah/madrasah dituntut untuk mampu memahami berbagai permasalahan di sekolah/madrasah, secara kreatif mencari alternatif solusi pemecahan dan melakukan tindakan untuk mengatasi permasalahan secara inovatif.

 

Pemahaman dan pengetahuan tentang berbagai peraturan terkait pengelolaan  pendidik, tenaga kependidikan, peserta didik, sarana dan prasarana, keuangan dan kurikulum bisa didapatkan dari Standar Nasional Pendidikan, misalnya Standar Sarana dan Prasarana, Permendiknas 24/2007 atau peraturan yang lain baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah masing-masing. Di samping itu juga seorang kepala sekolah sekolah/madrasah juga harus memahami perencanaan strategis pengembangan sekolah/madrasah (RKS-RKAS), monitoring dan evaluasi dan menguasai perkembangan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam pembelajaran di sekolah/madrasah.

 

Kepala sekolah/madrasah juga dituntut untuk mampu membantu pengembangan kompetensi guru dalam mengelola pembelajaran. Oleh karena itu seorang kepala sekolah/madrasah harus mampu mengkritisi guru menemukan permasalahan dalam pembelajarannya lalu memfasilitasi dan memotivasi guru melakukan program perbaikan, penguatan dan pengembangan performansinya. Untuk itu seorang kepala sekolah/madrasah harus meyakini sepenuhnya bahwa dengan melakukan supervisi akademik terhadap guru akan membuat guru tampil mengajar dengan lebih baik dari biasanya dan akan membuat guru lebih siap mengajar. Jadi supervisi akademik merupakan tugas pokok dan fungsi seorang kepala sekolah/madrasah selanjutnya yang tidak boleh berhenti  dalam rangka peningkatan mutu pembelajaran di sekolah/madrasah.

 

Keberhasilan seorang kepala sekolah/madrasah dalam meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah/madrasah sangat ditentukan oleh penguasaan kompetensi dalam menjalankan tugas, peran, dan fungsi sebagai kepala sekolah/madrasah. Tugas, peran, dan fungsi kepala sekolah/madrasah adalah memimpin, mengelola dan mensupervisi di sekolah/madrasah masing-masing dimana mereka ditugaskan. Jelaslah bagi kita bahwa kepemimpinan, manajerial dan supervisi akademik merupakan Key Competencies yang harus dimiliki oleh seorang kepala sekolah/madrasah.

 

Didasari oleh pandangan-pandangan tentang posisi strategis kepala sekolah/madrasah, kepemimpinan pendidikan, kepemimpinan pembelajaran dan pentingnya penguasaan manajerial persekolahan dan supervisi akademik bagi seorang kepala sekolah/madrasah, maka keberadaan pendidikan dan pelatihan calon kepala sekolah/madrasah yang sistemik, komprehensif dan efektif bagi upaya melahirkan kepala sekolah/madrasah baru yang amanah, profesional dan berjiwa wirausaha, menjadi sangat penting dan krusial di era pendidikan kita sekarang.

 

Pada akhirnya, kita membutuhkan seorang calon kepala sekolah/madrasah yang 1) menguasai berbagai permasalahan di sekolah/madrasah dengan gambaran yang jelas; 2) berpotensi untuk bisa memimpin dan bertindak dengan mental kreasi dan fisikal kreasi yang seimbang dan baik; dan 3) menguasai semua dimensi kompetensi kepala sekolah/madrasah secara maksimal.

 

3.2. Penerapan Dalam Diklat Calon Kepala Sekolah

Pada bagian pengantar sudah kita bahas bahwa keberhasilan seorang kepala sekolah/madrasah dalam meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah/madrasah sangat ditentukan oleh penguasaan kompetensi dalam menjalankan tugas, peran, dan fungsi sebagai kepala sekolah/madrasah. Tugas, peran, dan fungsi kepala sekolah/madrasah adalah memimpin, mengelola dan mensupervisi di sekolah/madrasah masing-masing dimana mereka ditugaskan. Dengan demikian kepemimpinan, manajerial dan supervisi akademik merupakan Key Competencies yang harus dimiliki oleh seorang kepala sekolah/madrasah.

 

Hubungan antara potensi kepemimpinan, penguasaan manajerial dan keterampilan supervisi akademik seorang kepala sekolah/madrasah dilukiskan dalam skema berikut ini.

image

Kendala yang sering terjadi di lapangan adalah banyak potensi, kemampuan dan daya kekuatan yang dimiliki sekolah/madrasah tidak bisa disinergikan secara efektif. Setiap komponen bekerja sendiri sendiri, menurut kreatifitas dan inovasi masing-masing dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. Tanpa adanya perekat ikatan antar komponen untuk bekerja secara bersama-sama menuju satu arah. Kepemimpinan seorang kepala sekolah/madrasah dianalogikan sebagai perekat ikatan tersebut. Namun demikian perlu disadari bahwa kepemimpinan kepala sekolah/madrasah perlu didukung oleh penguasan manajerial dan supervisi akademik yang baik. Tidak ada kepemimpinan kepala sekolah/madrasah yang baik tanpa adanya kemampuan manajerial dan supervisi akademik yang baik.

 

Sehingga pada akhirnya, Key Competecies sebagai Outcomes umum diklat adalah 1) calon kepala sekolah/madrasah yang berkembang potensi kepemimpinannya disertai dengan adanya pengalaman melakukan tindak kepemimpinan; 2) calon kepala sekolah/madrasah yang menguasai manajerial dan supervisi akademik di sekolah/madrasah dengan gambaran keterampilan yang jelas; dan 3) calon kepala sekolah/madrasah yang menguasai standar kompetensi kepala sekolah/madrasah secara maksimal.

 

3.2. Kepemimpinan

Dalam Petunjuk Pelaksanaan Diklat Program Penyiapan Calon Kepala Sekolah/Madrasah disebutkan, pengembangan potensi kepemimpinan calon kepala sekolah/madrasah dicapai melalui 1) Mata diklat Latihan Kepemimpinan, berupa teori dan praktik; dan kemudian dilanjutkan dengan 2) penugasan On The Job Learning (OJL), berupa Pelaksanaan Rencana Tindak Kepemimpinan (RTK).1) Secara lebih jauh kita bisa menjabarkan, bahwa pengembangan potensi kepemimpinan dan pemberian pengalaman melakukan tindak kepemimpinan dengan mental creation dan physical creation yang seimbang dan baik, “To know but not to do, is not to know2) akan dicapai melalui 1) Latihan Kepemimpinan berupa teori dan praktik; dan 2) penugasan On The Job Learning (OJL) berupa Pelaksanaan Rencana Tindak Kepemimpinan (RTK).3)

 

Dalam bagian selanjutnya dari Petunjuk Pelaksanaan itu dinyatakan, bahwa Latihan Kepemimpinan dimaksudkan untuk meningkatkan, memberdayakan, mengembangkan dan kompetensi kepribadian, kompetensi kewirausahaan dan kompetensi sosial para calon kepala sekolah/madrasah. Ini lah outcomes dari mata diklat Latihan Kepemimpinan. Latihan kepemimpinan merupakan sebuah upaya untuk menanamkan sebagian besar dari isi Permendiknas 13 Tahun 2007 tentang Standar Kompetensi Kepala Sekolah/Madrasah.4) 3 (tiga) kompetensi yang menjadi kehormatan (Iffah) dari seorang kepala sekolah/madrasah sebagai manusia yang amanah dan berjiwa wirausaha. Ketiga kompetensi calon kepala sekolah/madrasah tersebut akan dicapai melalui pemberian berbagai pengalaman belajar baik teori maupun praktik berupa kepemimpinan spiritual, kepemimpinan kewirausahaan, dan kepemimpinan pembelajaran. Tiga materi kepemimpinan tersebut secara garis besar memuat uraian tentang konsep, dimensi atau komponen, dan karakteristik masing-masing jenis kepemimpinan, serta strategi pengembangan diri calon kepala sekolah/madrasah maupun pengembangan sekolah/madrasah.5)

 

Outcomes dari materi diklat kepemimpinan spiritual adalah calon kepala sekolah/madrasah yang memiliki kuasa fisik dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya, memiliki kuasa emosi dalam mencapai visi; memiliki kuasa pikiran dalam mencipta dan mengembangkan sekolah/madrasahnya di masa depan. Nilai kepemimpinan spiritual yang ditanamkan kepada calon kepala sekolah/madrasah adalah altruis, empati, fun, kegairahan, integritas, kebaikan, keberanian, kejujuran, kerendahan hati, kesabaran, kelemah-lembutan, ketahanan, keunggulan, keyakinan, kesetiaan, pemaaf, bersyukur, dan pelayanan terbaik.

 

Outcomes dari materi diklat kepemimpinan kewirausahaan adalah calon kepala sekolah/madrasah yang mampu menciptakan inovasi yang berguna bagi pengembangan sekolah/madrasah, mampu bekerja keras untuk mencapai keberhasilan sekolah/madrasah sebagai organisasi pembelajar yang efektif, memiliki motivasi yang kuat untuk sukses dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai pemimpin sekolah/madrasah, memiliki sikap pantang menyerah dan selalu mencari solusi terbaik dalam menghadapi kendala yang dihadapi sekolah/madrasah, dan memiliki naluri kewirausahaan dalam mengelola kegiatan produksi jasa sekolah/madrasah  sebagai sumber belajar peserta didik.

 

 

Outcomes dari materi diklat kepemimpinan pembelajaran adalah calon kepala sekolah/madrasah yang mampu mengembangkan lingkungan kerja yang produktif dan memuaskan bagi guru, mampu menciptakan kondisi belajar yang kondusif, memfokuskan pada pembelajaran (kurikulum, proses belajar mengajar, penilaian hasil belajar, penilaian serta pengembangan guru, layanan prima dalam pembelajaran, dan pembangunan komunitas belajar di sekolah),  mampu mengelola sumber daya manusia dan sarana prasarana dengan baik, mampu membangun iklim belajar yang positif, dan mampu mengembangkan kehidupan sekolah/madrasah.

 

Untuk mempertajam pengembangan potensi kepemimpinan calon kepala sekolah/madrasah dan pemberian pengalaman calon kepala sekolah/madrasah dalam melakukan tindakan kepemimpinan dengan mental kreasi dan fisikal kreasi yang seimbang dan baik, ketiga ranah kepemimpinan kepemimpinan spiritual, kepemimpinan kewirausahaan, dan kepemimpinan pembelajaran  diberikan penguatan pengalaman belajar praktik kepemimpinan di alam terbuka (dalam ruangan dan diluar ruangan), yakni Dinamika Kelompok (Outbound). Outcomes dari kegiatan Dinamika Kelompok (Outbound) adalah calon kepala sekolah/madrasah mampu menerapkan kepemimpinan spiritual, kepemimpinan kewirausahaan, dan kepemimpinan pembelajaran pada dimensi kompetensi kepribadian, kewirausahaan dan sosial.

 

3.3. Manajerial

Dalam Program Penyiapan Calon Kepala Sekolah/Madrasah, penguasaan kompetensi manajerial calon kepala sekolah/madrasah terhadap berbagai permasalahan di sekolah/madrasah akan dicapai melalui 1) pemberian materi 9 mata diklat manajerial; dan 2) penugasan On The Job Learning (OJL) berupa pengkajian aspek manajerial.

 

Materi diklat 9 aspek manajerial dimaksudkan untuk menyiapkan calon kepala sekolah memahami berbagai kegiatan pengelolaan/manajerial di sekolah, yang mencakup a) Penyusunan Rencana Kerja Sekolah 5); b) Pengelolaan Kurikulum 6); c) Pengelolaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan 7); d) Pengelolaan Sarana dan Prasarana Sekolah 8); e) Pengelolaan Peserta Didik 9); f) Pengelolaan Keuangan Sekolah 10); g) Pengelolaan Ketatausahaan Sekolah 11); h) Pemanfaatan TIK dalam Pembelajaran 12); i) Monitoring dan Evaluasi 13). Sedangkan, satu materi lagi yakni Pengelolaan Unit Produksi dan Jasa Sekolah 14), disajikan hanya khusus untuk calon kepala sekolah SMK dan diberikan penugasan secara mandiri. Penugasan On The Job Learning (OJL) untuk semua materi manajerial bersifat generik (sama) yakni, berupa pengkajian aspek 9 manajerial dimaksudkan untuk mempertajam penguasaan kompetensi calon kepala sekolah/madrasah dalam memahami permasalahan di sekolah/madrasah dan mencari berbagai alternatif solusi pemecahan masalah.

 

Outcomes dari setiap mata diklat 9 aspek manajerial yang utama adalah calon kepala sekolah/madrasah memiliki pemahaman terhadap peraturan/ketentuan pengelolaan sekolah yang terbaru dan sedang berlaku, tentang:  a) Penyusunan Rencana Kerja Sekolah; b) Pengelolaan Kurikulum; c) Pengelolaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan; d) Pengelolaan Sarana dan Prasarana Sekolah; e) Pengelolaan Peserta Didik; f) Pengelolaan Keuangan Sekolah; g) Pengelolaan Ketatausahaan Sekolah; h) Pemanfaatan TIK dalam Pembelajaran; i) Monitoring dan Evaluasi dan j) Unit Produksi dan Jasa Sekolah. Outcomes diklat moderate-nya bersifat soft skills, yakni calon kepala sekolah/madrasah memiliki kemampuan kritis menemukan kesenjangan terhadap kondisi nyata yang terjadi di sekolah/madrasah. Outcomes diklat yang terakhir yang menjadi klimaks, bersifat soft skills, yakni calon kepala sekolah/madrasah mampu merumuskan alternatif solusi untuk mengatasi berbagai permasalahan manajerial di sekolah/madrasah.

 

Khusus untuk mata diklat Pengelolaan Kurikulum diberikan penguatan dengan tugas tersendiri dalam kegiatan On The Job Learning, yakni Penyusunan Perangkat Pembelajaran. Mata diklat Pengeleolaan Kurikulum dimaksudkan untuk menyiapkan calon kepala sekolah/madrasah yang mampu mengelola pengembangan kurikulum dan kegiatan pembelajaran sesuai dengan arah dan tujuan pendidikan nasional. Outcomes dari materi diklat Pengelolaan Kurikulum yang utama adalah calon kepala sekolah/madrasah mampu mengkaji kurikulum sekolah/madrasah, mampu mengkaji silabus, mampu mengkaji Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan mampu menyusun RPP, mampu menyusun bahan ajar, dan mampu menyusun instrumen penilaian hasil belajar.

 

3.4. Supervisi Akademik

Dalam Program Penyiapan Calon Kepala Sekolah/Madrasah, penguasaan kompetensi kepala sekolah/madrasah sebagai pendidik yang profesional akan dicapai melalui 1) pemberian materi mata diklat supervisi akademik dan pengelolaan kurikulum; dan 2) penugasan On The Job Learning (OJL) berupa supervisi akademik guru yunior dan karena kepala sekolah adalah sebagai tugas tambahan maka seorang kepala sekolah juga seorang guru profesional, maka calon kepala sekolah juga diberikan penugasan berupa penyusunan perangkat pembelajaran.

 

Materi mata diklat Supervisi Akademik dimaksudkan untuk meningkatkan conceptual skills, technical skills dan interpersonal skills calon kepala sekolah/madrasah. Aspek kompetensi supervisi akademik yang ingin ditanamkan dalam diri calon kepala sekolah/madrasah adalah conceptual skills, technical skills dan interpersonal skills. Conceptual skills berkenaan dengan pemahaman konsep, prinsip, prosedur, serta wawasan dan pengalaman terkait dengan supervisi akademik. Technical skills berkenaan dengan bagaimana penerapan konsep, prinsip, prosedur, serta wawasan dan pengalaman dalam kegiatan supervisi akademik di sekolah. Interpersonal skills berkenaan dengan bagaimana membina hubungan komunikasi yang harmonis antara supervisor (kepala sekolah/madrasah) dan supervisee (guru) sehingga pembinaan profesionalisme guru, pengawasan dan pemantauan kinerja guru dan motivasi guru bisa berjalan optimal melalui kegiatan supervisi akademik di sekolah.15)

 

 

PENUTUP

Secara keseluruhan, Outcomes diklat calon kepala sekolah/madrasah adalah untuk 1) mengembangkan potensi kepemimpinan calon kepala sekolah/madrasah; 2) untuk meningkatkan kemampuan calon kepala sekolah/madrasah mengelola sekolah/madrasah; dan 3) untuk meningkatkan keterampilan supervisi akademik calon kepala sekolah/madrasah. Dengan demikian secara keseluruhan ada 3 tugas pokok dan fungsi seorang kepala sekolah/madrasah, yakni memimpin, mengelola dan mensupervisi sekolah/madrasah. Ketiganya menjadi fokus pengembangan kompetensi calon kepala sekolah/madrasah pada pendidikan dan pelatihan calon kepala sekolah/madrasah yang berdasarkan Permendiknas 28 Tahun 2010.

DAFTAR PUSTAKA

1)       Kemdiknas. 2013. Petunjuk Pelaksanaan Pendidikan dan Pelatihan Calon Kepala Sekolah/Madrasah. Kemdiknas: Jakarta.

2)       Stephen R. Covey. 2004. The 8 Habit: From Effectiveness to Greatness. Simon & Chuster Inc, New York: NY 10020.

3)       LPPKS. 2013. Petunjuk Teknis On The Job Learning (OJL). LPPKS: Karanganyar.

4)       Depdiknas. 2007. Permendiknas 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah. Kemdiknas: Jakarta.

5)       LPPKS. 2013. Bahan Pembelajaran  Latihan Kepemimpinan: Kepemimpinan Pembelajaran. LPPKS: Karanganyar.

6)       LPPKS. 2013. Bahan Pembelajaran  Pengelolaan Kurikulum. LPPKS: Karanganyar.

7)       LPPKS. 2013. Bahan Pembelajaran  Pengelolaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan. LPPKS: Karanganyar.

8)       LPPKS. 2013. Bahan Pembelajaran  Pengelolaan Sarana dan Prasarana. LPPKS: Karanganyar.

9)       LPPKS. 2013. Bahan Pembelajaran  Pengelolaan Peserta Didik. LPPKS: Karanganyar.

10)   LPPKS. 2013. Bahan Pembelajaran  Pengelolaan Keuangan. LPPKS: Karanganyar.

11)   LPPKS. 2013. Bahan Pembelajaran  Pengelolaan Tenaga Administrasi Sekolah. LPPKS: Karanganyar.

12)   LPPKS. 2013. Bahan Pembelajaran  Pengelolaan TIK Dalam Pembelajaran. LPPKS: Karanganyar.

13)   LPPKS. 2015. Bahan Pembelajaran  Monitoring dan Evaluasi. LPPKS: Karanganyar.

14)   LPPKS. 2015. Bahan Pembelajaran  Pengelolaan Unit Produksi dan Jasa Sekolah. LPPKS: Karanganyar.

15)   LPPKS. 2013. Bahan Pembelajaran  Supervisi Akademik. LPPKS: Karanganyar.