Anda Berada di halaman : Berita » Analisis Kebutuhan Pengembangan Keprofesian (AKPK) Dalam Diklat PPCKS
 

Layanan Utama

Berita Foto

<a href='http://lppks.kemdikbud.go.id/berita_foto/129'>Pembukaan Diklat IN 1 Prov. Sumatera Barat</a> <a href='http://lppks.kemdikbud.go.id/berita_foto/130'>Peserta Diklat IN 1 Prov. Sumatera Barat</a> <a href='http://lppks.kemdikbud.go.id/berita_foto/131'>Pembukaan Diklat In Service Learning-2 Program PKB KS/M SMP Prov. Jatim Peserta Th. 2014</a> <a href='http://lppks.kemdikbud.go.id/berita_foto/133'>Peserta IN 1 Prov. Riau mengikuti Kegiatan Pembukaan</a> <a href='http://lppks.kemdikbud.go.id/berita_foto/134'>Kasi SI LPPKS menghadiri Pembukaan Kegiatan Diklat In 1 Prov. Riau</a>
Prev Next

Polling

Seberapa penting pelaksanaan Diklat Kepala Sekolah Pembelajar yang merupakan tindak lanjut hasil Uji Kompetensi Kepala Sekolah dalam upaya meningkatkan Kompetensi Kepala Sekolah?





Analisis Kebutuhan Pengembangan Keprofesian (AKPK) Dalam Diklat PPCKS
Kategori : Artikel Oleh : administrator Ditulis : Senin, 23 Mei 2016 Hits : 2098

 

Analisis Kebutuhan Pengembangan Keprofesian (AKPK) adalah sebuah analisis kebutuhan diklat (Training Needs Analysis). Sebuah instrumen untuk mengungkap tingkat penguasaan kompetensi calon kepala sekolah sebelum mengikuti diklat PPCKS. Secara operasional, AKPK adalah sebuah instrumen Monev Input, kalau melihat posisinya di dalam komponen-komponen monitoring dan evaluasi sebuah program kegiatan diklat (Input-Process-Activities-Output-Outcome).1) Oleh karena itu, dalam kesejarahan pengembangan diklat PPCKS, AKPK justru yang lebih awal dikembangkan dari pada isi, program maupunStandar Operating Procedures (SOP) dari diklat PPCKS itu sendiri.

JUDUL ARTIKEL

Analisis Kebutuhan Pengembangan Keprofesian (AKPK) Dalam Diklat PPCKS

FOTO DAN KONTAK EMAIL/WA/HP

 

 cahyonosastroprayitno@yahoo.com WA/HP: 081201756510

PENULIS

Yuli Cahyono / 196807151994031019

Lahir di Magetan, 15 Juli 1968. Pendidikan S2 Jurusan Penelitian dan Evaluasi Pendidikan.

Widyaiswara LPPKS sejak tahun 2009-2016. Widyaiswara Berprestasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2015.

KALIMAT INSPIRATIF

Analisis Kebutuhan Pengembangan Keprofesian (AKPK) khususnya pada bagian Deskripsi, merepresentasikan kebutuhan khusus dan keinginan belajar peserta diklat berupa informasi perkembangan kompetensi; pada dimensi kompetensi mana sudah berkembang dengan baik dan pada dimensi kompetensi mana masih lemah dan perlu peningkatan, perbaikkan dan pengembangan melalui diklat calon kepala sekolah/madrasah (Yoel Yoel Yoel)

PENGANTAR

Analisis Kebutuhan Pengembangan Keprofesian (AKPK) adalah sebuah analisis kebutuhan diklat (Training Needs Analysis). Sebuah instrumen untuk mengungkap tingkat penguasaan kompetensi calon kepala sekolah sebelum mengikuti diklat PPCKS. Secara operasional, AKPK adalah sebuah instrumen Monev Input, kalau melihat posisinya di dalam komponen-komponen monitoring dan evaluasi sebuah program kegiatan diklat (Input-Process-Activities-Output-Outcome).1) Oleh karena itu, dalam kesejarahan pengembangan diklat PPCKS, AKPK justru yang lebih awal dikembangkan dari pada isi, program maupun Standar Operating Procedures (SOP) dari diklat PPCKS itu sendiri.

 

Bagi peserta diklat PPCKS, analisis kebutuhan diklat adalah faktor penting dalam menjalani masa-masa sulit mengikuti diklat calon kepala sekolah. Analisis kebutuhan belajar peserta adalah sebuah “jejer’ dalam pewayangan yang memperbincangkan isu-isu terbaru yang nanti akan menggiring jalan cerita selanjutnya. Namun demikian, kita menyadari bahwa kebutuhan belajat peserta tentulah sesuatu yang sangat individual, yang pasti berbeda antara peserta diklat yang satu dengan peserta diklat yang lain. Sebuah upaya privatisasi dalam belajar yang akan membantu peserta diklat CKS belajar, mendapatkan pelayanan pelatihan yang ekstensif, mendapatkan coaching-mentoring yang applikatif, mendapatkan pengalaman belajar yang bernilai, dan akhirnya mendapatkan hasil penilaian diklat yang sangat memuaskan.2) Sebuah nilai (skor) atau predikat yang mampu merepresentasikan penguasaan kompetensinya. Seberapa bagus kepribadiannya, manajerialnya, kewirausahaannya, supervisi akademiknya, maupun sosialnya.

 

Bagi penyelenggara diklat PPCKS, kemampuan penyelenggara diklat, Lembaga Penyelenggara Program Penyiapan Calon Kepala Sekolah (LP3CKS) untuk menemukan sebuah pendekatan, metode atau cara yang efektif dan efisien, untuk mendeteksi kebutuhan individu peserta diklat akan menjadi kunci bagi upaya pengembangan kompetensi calon kepala sekolah. Sebuah data atau informasi yang akan memandu penyiapan program, kurikulum/isi, pola, strategi, pendekatan, metode, bahan pembelajaran, dan penilaian diklat. Pertanyaan pengembangannya adalah kompetensi apa saja yang dibutuhkan oleh seorang kepala sekolah? Kedua, bagaimana kita bisa memetakan kebutuhan peningkatan kompetensi individu calon kepala sekolah dan sekelompok calon kepala sekolah? Bagaimana memfungsikan hasil pemetaan itu sehingga efektif bagi upaya peningkatan kompetensi individu dan kelompok? Dan bagaimana mengungkap bukti bukti kegiatan yang menunjukkan bahwa calon kepala sekolah sudah meningkat potensi dan kompetensinya. Adalah beberapa pertanyaan kunci yang akan memandu diskusi kita kali ini.

 

Tulisan ini akan membahas jawaban dari beberapa pertanyaan di atas secara lebih jelas lagi. Selamat membaca. Tetap semangat gembira dan sehat (Yoel Yoel Yoel)

 

PEMBAHASAN

Begitu signifikan peran Analisis Kebutuhan Pengembangan Keprofesian (AKPK)  dalam pengembangan metode kediklatan calon kepala sekolah/madrasah, maka dalam tahap awal pengembangan program diklat calon kepala sekolah/madrasah, instrumen Analisis Kebutuhan Pengembangan Keprofesian (AKPK) calon kepala sekolah/madrasah jauh lebih awal dikembangkan dari pada pengembangan program diklat calon kepala sekolah/madrasah itu sendiri. Dan untuk memastikan bahwa pelaksanaan Analisis Kebutuhan Pengembangan Keprofesian (AKPK) calon kepala sekolah/madrasah dapat berjalan sesuai dengan prosedur yang ditetapkan dan terus menerus ditingkatkan mutunya, Analisis Kebutuhan Pengembangan Keprofesian (AKPK) diberikan petunjuk pelaksanaan tersendiri, yakni Petunjuk Pelaksanaan Analisis Kebutuhan Pengembangan Keprofesian Calon Kepala Sekolah/Madrasah.3)

 

Instrumen Analisis Kebutuhan Pengembangan Keprofesian (AKPK) dikembangkan oleh LPPKS antara tahun 2009-2011. Dan sampai sekarang belum ada lagi pembaruan (updating), revisi, reorientasi, ataupun pengembangan tingkat lanjut dari instrumen AKPK dari sisi substansi, bahasa maupun metodologi. Sebaliknya, selama kurun waktu 2009-1016 dari sisi isi, materi, bahan ajar, silabus diklat (12 modul diklat) sudah diperbarui dua kali (versi 2011 dan versi 2013). Yang terbaru, upaya pengembangan yang dilakukan LPPKS terhadap Analisis Kebutuhan Pengembangan Keprofesian (AKPK) adalah melalui Analisis Kebutuhan Pengembangan Keprofesian (AKPK) On-line.4)

 

Analisis Kebutuhan Pengembangan Keprofesian (AKPK) On-line adalah sebuah upaya untuk meningkatkan operasionalisasi Analisis Kebutuhan Pengembangan Keprofesian (AKPK) di lapangan agar lebih efektif dan efisien.  Analisis Kebutuhan Pengembangan Keprofesian (AKPK) On-line ini sebenarnya lebih melihat pentingnya perubahan AKPK dari isi operasional. Analisis Kebutuhan Pengembangan Keprofesian (AKPK) On-line dikembangkan untuk kepentingan pemetaan kompetensi calon kepala sekolah/madrasah. Aplikasinya dibangun untuk memudahkan proses pengumpulan dan pengolahan data, berupa informasi tentang tingkat penguasaan kompetensi calon kepela sekolah, agar efektif dan efisien menuju terwujudnya pusat data dan informasi kepala-sekolah/madrasah satu pintu di Indonesia. Aplikasi ini telah disosialisasikan kepada 20 (dua puluh) kabupaten/kota sasaran kegiatan pengumpulan data tahun 2015. Dan sampai sekarang masih terus disosialisasikan ke seluruh kabupaten/kota/provinsi melalui DIPA LPPKS pada setiap tahun anggaran.

 

Secara keseluruhan Analisis Kebutuhan Pengembangan Keprofesian (AKPK) calon kepala sekolah/madrasah dikembangkan dari Permendiknas 13 Tahun 2007 tentang Standar Kompetensi Kepala Sekolah/Madrasah. Analisis Kebutuhan Pengembangan Keprofesian (AKPK) bagi Calon Kepala Sekolah/Madrasah didasarkan pada lima dimensi kompetensi profesional calon kepala sekolah/madrasah, yaitu: Dimensi Kepribadian, Dimensi Manajerial, Dimensi Kewirausahaan, Dimensi Supervisi, dan Dimensi Sosial. Alur pengembangan instrumen Analisis Kebutuhan Pengembangan Keprofesian (AKPK) calon kepala sekolah/madrasah digambarkan dalam skema berikut:

 

 

Instrumen Analisis Kebutuhan Pengembangan Keprofesian (AKPK) calon kepala sekolah/madrasah yang digunakan sekarang berjumlah 37 item. Dengan sebaran jumlah item per dimensi kompetensi digambarkan dalam skema berikut:

 

Instrumen Analisis Kebutuhan Pengembangan Keprofesian (AKPK) berupa evaluasi diri calon kepala sekolah. Model instrumen adalah pilihan ganda yang terdiri 3 kolom, yakni 1) kolom kesatu berisikan contoh penerapan patokan; 2) kolom kedua berisikan tingkat penilaian kompetensi; dan 3) kolom ketiga berisikan bukti praktik calon kepala sekolah/madrasah. Kolom contoh penerapan patokan inilah yang diambil dari Permendiknas 13 Tahun 2007 tentang Standar Kompetensi Kepala Sekolah/Madrasah. Kolom penilaian kompetensi adalah tempat dimana calon kepala sekolah/madrasah memberikan tanda silang pada alfabetikal (A,B,C,D) untuk menentukan pilihannya menurut kondisinya masing-masing. Kolom bukti praktik adalah kolom dimana calon kepala sekolah/madrasah menuliskan informasi/pesan berupa pengetahuan, pemahaman, wawasan dan pengalaman yang relevan dengan penilaian yang telah diberikan pada setiap indikator contoh penerapan patokan. Pada APKP On-Line bukti kegiatan ini sudah ditiadakan guna kepentingan pengumpulan dan pengolahan data yang lebih efektif dan efisien. Bentuk instrumennya digambarkan sebagai berikut:

NO

CONTOH KEMUNGKINAN PENERAPAN PATOKAN

TINGKAT PENILAIAN KOMPETENSI

BUKTI PRAKTIK YANG DILAKUKAN CALON KEPALA SEKOLAH

1

Saya bersikap terbuka terhadap saran-saran dari guru dan karyawan di sekolah dimana saya bertugas.

A.  Tidak pernah

B.  Kadang-kadang

C.  Sering

D.  Selalu

Saran-saran dari para guru tidak mesti menjadi dasar bagi saya dalam membuat keputusan.

 

Ada dua pertanyaan penting untuk mengupas peran Analisis Kebutuhan Pengembangan Keprofesian (AKPK) dalam diklat calon kepala sekolah/madrasah. Pertama, bagaimana Analisis Kebutuhan Pengembangan Keprofesian (AKPK) berpengaruh terhadap strategi dan metodologi pembelajaran diklat calon kepala sekolah/madrasah? Kedua, bagaimana peran Analisis Kebutuhan Pengembangan Keprofesian (AKPK) dalam menjembatani kebutuhan khusus dan keinginan peserta diklat yang lebih bersifat individual? Untuk menjawab kedua, pertanyaan ini, kita harus memahami terlebih dulu karakteristik dari Experiential Learning (EL), yakni bahwa pendekatan metodologis Experiential Learning Experiential Learning (EL) ditandai dengan pemberian kesempatan kepada peserta diklat untuk: a) memutuskan pengalaman apa yang menjadi fokus mereka, b) memutuskan keterampilan-keterampilan apa yang mereka ingin kembangkan, dan 3) memutuskan bagaimana alternatif cara untuk membuat konsep dari pengalaman yang mereka telah alami selama mengikuti diklat.5)

 

Karakteristik metodologis Experiential Learning (EL) yang sedemikian rupa membawa pengaruh terhadap bentukan metodologis diklat calon kepala sekolah/madrasah. Di sini, hasil Analisis Kebutuhan Pengembangan Keprofesian (AKPK) khususnya pada bagian Deskripsi, merepresentasikan dirinya sebagai kebutuhan khusus dan keinginan peserta diklat dalam bentuk informasi tentang perkembangan kompetensi peserta diklat, dimensi kompetensi mana yang sudah berkembang dengan baik dan dimensi kompetensi mana yang masih lemah dan perlu ditingkatkan, diperbaiki, dikembangkan dan dikuatkan melalui diklat calon kepala sekolah/madrasah.  Di sinilah Analisis Kebutuhan Pengembangan Keprofesian (AKPK) menemukan jati dirinya dan mampu memainkan perannya yang signifikan bagi upaya peningkatan kompetensi peserta diklat calon kepala sekolah/madrasah. Perhatikan sekali lagi kutipan hasil Analisis Kebutuhan Pengembangan Keprofesian (AKPK) bagian Deskripsi ini untuk memastikan bahwa informasi ini sangat berguna bagi Master Trainer (MT) memandu peserta menemukan kebutuhan dirinya.

 

Secara riil, khususnya pada saat masing-masing calon kepala sekolah/madrasah melaksanakan kegiatan On-the-Job Learning (OJL), Analisis Kebutuhan Pengembangan Keprofesian (AKPK) digunakan sebagai indikator ketercapaian tujuan peningkatan kompetensi calon kepala sekolah/madrasah pada Rencana Tindak Kepemimpinan (RTK) dan sebagai indikator penentu area kompetensi yang akan dipelajari dan ditingkatkan di  sekolah/madrasah magang yang lain.

 

Penerapan AKPK di dalam diklat calon kepala sekolah/madrasah, antara lain:

  1. Pada saat penyusunan matriks Rencana Tindak Lanjut (RTL), pada saat tahap perencanaan terkandung aktifitas penjelasan dari Master Trainer (MT) tentang tujuan pembelajaran, perumusan dan pemilihan aktivitas pengalaman belajar, dan pengidentifikasian faktor-faktor penting dan indikator-indikator ketercapaian aktifitas pengalaman belajar. Dengan demikian pada tahap ini, seorang Master Trainner (MT) harus membaca terlebih dahulu kebutuhan khusus dari setiap individu peserta diklat calon kepala sekolah/madrasah, menyampaikan hasil Analisis Kebutuhan Pengembangan Keprofesian (AKPK) kepada peserta, membimbing peserta menemukan kelemahan dan kelebihan dirinya, memberikan arahan tentang tujuan pembelajaran, membantu peserta merumuskan aktivitas pengalaman belajar, mengarahkan peserta menentukan metode belajar yang tepat, dan menyampaikan faktor-faktor penting yang menjadi indikator-indikator ketercapaian aktifitas pengalaman belajarnya. Misalnya, untuk meningkatkan potensi dan pengalaman kepemimpinan maka peserta harus melakukan tindak kepemimpinan, untuk meningkatkan keterampilan melakukan supervisi akademik harus melakukan supervisi akademik terhadap guru yunior; untuk meningkatkan penguasaan manajerial sekolah/madrasah maka peserta harus melakukan pengkajian 9 aspek manajerial dan sebagainya.
  2. Pada saat tahap penyusunan matriks Rencana Tindak Kepemimpinan (RTK)  sebagai pemberian pengalaman berkreasi mental, maka hasil Analisis Kebutuhan Pengembangan Keprofesian (AKPK) bagian Deskripsi digunakan sebagai indikator ketercapaian Rencana Tindak Kepemimpinan (RTK) calon kepala sekolah/madrasah. Namun perlu dipahami bahwa Rencana Tindak Kepemimpinan (RTK) hanya dimaksudkan untuk meningkatkan 3 (tiga) dimensi kompetensi calon kepala sekolah/madrasah, yakni Dimensi Kompetensi Kepribadian, Dimensi Kompetensi Kewirausahaan dan Dimensi Kompetensi Sosial.  Selain itu, sebagai konsekuensi dari penggunaan Analisis Kebutuhan Pengembangan Keprofesian (AKPK) sebagai indikator ketercapaian tujuan kegiatan peningkatan kompetensi Kepribadian, Kompetensi Kewirausahaan dan Kompetensi Sosial maka pada tahap monitoring dan evaluasi kegiatan, indikator-indikator tersebut bisa digunakan sebagai indikator pada item/butir instrumen monitoring dan evaluasinya sebagai Monev Output, yakni hasil Analisis Kebutuhan Pengembangan Keprofesian (AKPK) tadi.

 

Coba kita perhatikan instrumen Monev Output yang dikembangkan dari hasil analisis AKPK berikut ini:

 

No

 

Uraian Kegiatan

Skor

1

2

3

4

A

Kompetensi Kepribadian

 

 

 

 

 

Calon Kepala Sekolah /Kepala Sekolah mampu meningkatkan :

 

 

 

 

 

  1. pengalaman mengarahkan dan menggerakkan

 

 

 

 

 

  1. perkataan selaras dengan tindakan yang dilakukan

 

 

 

 

B

Kompetensi Kewirausahaan

 

 

 

 

 

Calon Kepala Sekolah /Kepala Sekolah mampu meningkatkan :

 

 

 

 

 

  1. pengalaman menyusun rencana pengelolaan kegiatan.

 

 

 

 

 

  1. pengalaman dalam meningkatkan keingintahuan warga sekolah

 

 

 

 

C

Kompetensi Sosial

 

 

 

 

 

Calon Kepala Sekolah /Kepala Sekolah mampu meningkatkan :

 

 

 

 

 

  1. pengalaman dalam menggalang bantuan untuk meringankan kesulitan warga sekolah

 

 

 

 

 

  1. kerja sama dengan pemerintah/institusi lain penyelenggaraan pendidikan di sekolah tempat bertugas

 

 

 

 

Jumlah Skor

 

 

 

 

Jumlah Nilai

 

 

  1. Pada penugasan On The Job Learning (OJL) yang kelima, yakni upaya peningkatan kompetensi di sekolah magang-lain. Tugas ini dimaksudkan untuk menyempurnakan semua kelemahan, kekurangan dari kompetensi calon kepala sekolah yang masih ada dengan belajar dari kepala sekolah yang sudah berpengalaman (sebagai kepala sekolah mentornya) dan atau belajar dari keunggulan dari sekolah lain. Pendekatan dilakukan dengan memanfaatkan dan memaksimalkan potensi AKPK calon kepala sekolah sebagai sebuah analisis pendeteksi kebutuhan belajar peserta diklat calon kepala sekolah. Khususnya dalam menetapkan prioritas pada kompetensi mana yang terendah yang akan ditingkatkan atau pada kompetensi mana yang masih rendah yang masih perlu ditingkatkan. Metode pembelajaran Enquiry dengan metode nyantrik (shadowing), memungkinkan calon kepala sekolah baru yang belum berpengalaman belajar kepala sekolah mentor yang sudah berpengalaman. Sebuah upaya memaksimalkan transformasi wawasan dan pengalaman, potensi dan kompetensi dari kepala sekolah mentor yang sudah berpengalaman kepada calon kepala sekolah baru yang belum berpengalaman.6)

PENUTUP

Upaya peningkatan kompetensi kepribadian, kewirausahaan dan sosial calon kepala sekolah memang bukan hal mudah bagi penyelenggara diklat calon kepala sekolah. Begitu pula bagi seorang Master Trainer (MT) yang bekerja sebagai gurunya para calon kepala sekolah. Bukan hal yang mudah bagi kita untuk meningkatkan potensi kepemimpinan, mengubah pola pikir, mengubah sikap, mengubah perilaku, dan meningkatkan keterampilan melakukan tindak kepemimpinan calon kepala sekolah/ madrasah bila tidak dipandu dengan analisis kebutuhan yang baik. Analisis Kebutuhan Pengembangan Keprofesian (AKPK) sebagai bentuk Evaluasi Diri Calon Kepala Sekolah melebur secara terpadu interdisipliner dalam satu kegiatan pembelajaran proyek “Project Work” berupa Rencana Tindak Kepemimpinan (RTK). Maka ketika RTK menetapkan tujuannya untuk meningkatkan kompetensi kepribadian, kewirausahaan dan sosial, maka mulailah mencermati hasil Analisis Kebutuhan Pengembangan Keprofesian (AKPK), lalu menetapkannya sebagai indikator-indikator keberhasilan Rencana Tindak Kepemimpinan (RTK) (To push), dan ketika Rencana Tindak Kepemimpinan (RTK) selesei dilaksanakan, maka ditahap monitoring dan evaluasi kegiatan, kembali indikator-indikator tersebut diungkap ketercapaiannya bukan lagi dalam bentuk evaluasi diri calon kepala sekolah, namun dalam bentuk sebuah instrumen Monev Output (To pull) dimana penilaian diberikan oleh eksternal, yakni guru, kepala sekolah mentor, pengawas sekolah, dll yang terlibat dalam kegiatan tindak kepemimpinan.

REFERENSI

1)       LPPKS. 2015. Bahan Pembelajaran  Monitoring dan Evaluasi. LPPKS: Karanganyar.

2)       Robinson Ken and Lou Aronica. 2015. Creative Schools: Revolutionizing Education From The Ground Up. Allen Lane, Penguin Random House UK.

3)       LPPKS. 2013. Petunjuk Pelaksanaan Analisis Kebutuhan Pengembangan Keprofesian (AKPK) Calon Kepala Sekolah/Madrasah. LPPKS: Karanganyar.

4)       LPPKS. 2015. Panduan Pengumpulan Data dan Analisis Hasil Pemetaan Kompetensi Kepala Sekolah/Madrasah. LPPKS: Karanganyar.

5)       Kolb. D.A. 1984. Experiential Learning: Experience As A Source of Learning and Development. Englewood Cliffs. NJ: Prentice Hall.

6)       LPPKS. 2011. RTL-RTK: Informasi Umum. (Power Point)