Anda Berada di halaman : Berita » Pola Diklat In-On-In Dalam Diklat PPCKS: In Service Learning 1
 

Layanan Utama

Berita Foto

<a href='http://lppks.kemdikbud.go.id/berita_foto/129'>Pembukaan Diklat IN 1 Prov. Sumatera Barat</a> <a href='http://lppks.kemdikbud.go.id/berita_foto/130'>Peserta Diklat IN 1 Prov. Sumatera Barat</a> <a href='http://lppks.kemdikbud.go.id/berita_foto/131'>Pembukaan Diklat In Service Learning-2 Program PKB KS/M SMP Prov. Jatim Peserta Th. 2014</a> <a href='http://lppks.kemdikbud.go.id/berita_foto/133'>Peserta IN 1 Prov. Riau mengikuti Kegiatan Pembukaan</a> <a href='http://lppks.kemdikbud.go.id/berita_foto/134'>Kasi SI LPPKS menghadiri Pembukaan Kegiatan Diklat In 1 Prov. Riau</a>
Prev Next

Polling

Seberapa penting pelaksanaan Diklat Kepala Sekolah Pembelajar yang merupakan tindak lanjut hasil Uji Kompetensi Kepala Sekolah dalam upaya meningkatkan Kompetensi Kepala Sekolah?





Pola Diklat In-On-In Dalam Diklat PPCKS: In Service Learning 1
Kategori : Artikel Oleh : administrator Ditulis : Selasa, 07 Juni 2016 Hits : 804

"Salah satu tantangan dalam pola diklat In-On-In jika dibandingkan dengan pola diklat Talent Scounting yang lebih dulu dilakukan adalah bagaimana dalam desain pembelajarannya, agar diklat mampu menyiapkan calon kepala sekolah baru yang berkarakter, berpola pikir rasional positif, berpengetahuan yang terkini, berwawasan luas dan mendalam dan berperilaku baik yang bisa diteladani oleh semua warga sekolah dan masyarakat. Tentu ini sebuah diklat yang harus mampu membentuk jiwa kepribadian, jiwa sosial dan jiwa kewirausahaan yang baik, yang ditunjang oleh penguasaan manajerial dan operasionalisasi sekolah serta kemampuan mensupervisi akademik yang mumpuni. Sebuah upaya memproses peserta diklat mencapai standar kompetensi kepala sekolah yang paripurna, Permendiknas 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah.1) Dari sisi desain dan proses pembelajaran, baik diklat PPCKS maupun Talent Scouting menjadi saling berbeda satu sama lain". Demikian sedikit kutipan dari artikel berikut. Mari kita simak bersama Artikel lengkapnya berikit ini:

JUDUL ARTIKEL

Pola Diklat In-On-In Dalam Diklat PPCKS: In Service Learning 1

FOTO DAN KONTAK EMAIL/WA/HP

 

cahyonosastroprayitno@yahoo.com

WA/HP: 081201756510

PENULIS

Yuli Cahyono / 196807151994031019

Lahir di Magetan, 15 Juli 1968. Pendidikan S2 Jurusan Penelitian dan Evaluasi Pendidikan.

Widyaiswara LPPKS sejak tahun 2009-2016. Widyaiswara Berprestasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2015.

KALIMAT INSPIRATIF

Singkat kata, bagaimana agar diklat PPCKS bisa menyampaikan pesan moral, spiritual, sosial dan kultural dengan baik (Yoel Yoel Yoel)

PENGANTAR

Dalam beberapa tahun belakangan ini, tepatnya sejak tahun 2009 ketika pertama kali Diklat PPCKS dengan pola In-On-In diperkenalkan ke publik, tidak sedikit kaum haters yang melihat sisi kekuranagn dari pola diklat ini. Saya kira sah-sah saja bagi siapa saja yang tidak menyukai pola diklat seperti ini. Untuk sebuah pilihan dengan segala resikonya, misalnya dengan alasan pembiayaan yang cenderung lebih mahal. Namun demikian, bagaimanapun juga pola diklat In-On-In sudah berjasa memberikan warna baru dalam perjalanan sejarah kediklatan di negeri ini.

 

Sekedar untuk bernostalgia, paling tidak pada saat itu, di sekitar tahun 2009-2010, kejenuhan kita, para inovator freelance, pada pola-pola diklat yang yang sudah ada, terasa monoton dan terkesan seperti orang kebelet, sebuah kejenuhan tingkat klimaks yang sudah di ubun-ubun kepala. Dan pola diklat In-On-In memberikan kita sebuah harapan baru akan hadirnya sebuah pola diklat yang lebih menggigit, menantang dan menggelorakan gairah passion calon kepala sekolah untuk berpikir sedikit idealis. Kuatnya knowing that yang bersifat informatif dan mengedepankan penguasaan pengetahuan terbaru (updated knowledege) pada pola-pola diklat yang sudah ada, dan lemahnya knowing how yang bersifat Enquiry, learning by doing, atau learning how to learn, berupa bagaimana menerapkan dan meleburkan apa yang sudah dipelajari oleh peserta selama mengikuti diklat ke dalam pekerjaan rutin mereka sehari hari di sekolah sebagai guru atau kepala sekolah, menjadikan pola diklat In-On-In menjadi sebuah harapan baru. Boleh dibilang masa itu pola diklat In-On-In sedang menjadi pilihan utama kita.

 

Salah satu tantangan dalam pola diklat In-On-In jika dibandingkan dengan pola diklat Talent Scounting yang lebih dulu dilakukan adalah bagaimana dalam desain pembelajarannya, agar diklat mampu menyiapkan calon kepala sekolah baru yang berkarakter, berpola pikir rasional positif, berpengetahuan yang terkini, berwawasan luas dan mendalam dan berperilaku baik yang bisa diteladani oleh semua warga sekolah dan masyarakat. Tentu ini sebuah diklat yang harus mampu membentuk jiwa kepribadian, jiwa sosial dan jiwa kewirausahaan yang baik, yang ditunjang oleh penguasaan manajerial dan operasionalisasi sekolah serta kemampuan mensupervisi akademik yang mumpuni. Sebuah upaya memproses peserta diklat mencapai standar kompetensi kepala sekolah yang paripurna, Permendiknas 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah.1) Dari sisi desain dan proses pembelajaran, baik diklat PPCKS maupun Talent Scouting menjadi saling berbeda satu sama lain.

 

Talent Scouting lebih memilih untuk membentuk calon kepala sekolah melalui jalur behaviourist, mengkarantina calon kepala sekolah dalam jangka waktu yang panjang agar bisa dipengaruhi dengan hal-hal baru yang menurut taksiran indikator keberhasilan menjadi kepala sekolah yang baik itu seperti apa. Sebaliknya diklat PPCKS, lebih humanist, membebaskan dan memprivatisasi calon kepala sekolah sebagai peserta diklat untuk memenuhi kebutuhan peningkatan kompetensi dengan memperbaiki, melengkapi, merevisi, menambahi kekurangan dan kelemahan dan mengurangi sisi irrasional-negatif-dalam diri calon kepala sekolah, dan lalu membentuk dirinya sendiri, menyiapkan dirinya sendiri, supaya bisa menjadi kepala sekolah yang baik itu seperti apa. Jelas bahwa diklat PPCKS berusaha untuk menyediakan lahan, arena, wahana, yang mampu memfasilitasi pembentukan jiwa kepala sekolah baru oleh calon kepala sekolah sendiri.

 

Pertanyaannya adalah seberapa besar pengaruh desain dan proses pembelajaran seperti ini terhadap penguasan kompetensi kepala sekalah yang baru? Lalu bagaimana upaya kita untuk mencapainya? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini hanya bisa dijawab oleh kita yang memahami seperti apa yang sebenarnya pola diklat In-On-In itu, hasil apa saja yang diharapkan sebagai learning outcomes-nya? Dan apa yang bisa kita lakukan agar peserta diklat calon kepala sekolah mampu mencapai hasil yang diharapkan sebagai learning outcomes-nyai. Selanjutnya, baru kita bertanya peran apa yang bisa dimainkan oleh Master Trainer (MT), sebagai guru, sebagai fasilitator, atau sebagai coach. Ini bukan lagi tentang desain, pola atau strategi, melainkan kemampuan seorang Master Trainer (MT) untuk memonitor dan mengevaluasi perkembangan peserta mencapai learning outcomes-nya dan lalu mengadaptasi sesuai dengan perkembangan. Singkat kata, bagaimana agar diklat PPCKS bisa menyampaikan pesan moral, spiritual, sosial dan kultural dengan baik.

 

Dalam tulisan ini kita hanya akan membahas bagaimana pola diklat In-On-In itu dilaksanakan dalam diklat PPCKS, khususnya pada tahap In Service Learning 1. Dengan harapan kalau kita bisa memahami pola diklat PPCKS dengan baik maka kita akan bisa mencari pendekatan terbaik yang bisa ditempuh untuk mencapai hasil diklat yang maksimal.

 

PEMBAHASAN

1.       Rambu-Rambu In Service Learning 1

SOP Pelaksanaan Diklat Program Penyiapan Calon Kepala Sekolah/Madrasah In Service Learning I mendefinisikan Diklat In Service Learning I sebagai sebuah kegiatan diklat yang dimaksudkan untuk membangun, mengembangkan pemahaman dan pembentukan/penguatan sikap serta perilaku berkaitan dengan dimensi standar kompetensi kepala sekolah/madrasah, yakni kompetensi kepribadian, kompetensi manajerial, kompetensi kewirausahaan, kompetensi supervisi akademik, dan kompetensi sosial.2)

 

In-Service Learning 1 (IN-1) adalah pembelajaran melalui kegiatan tatap muka antara peserta diklat dengan nara sumber dan/atau fasilitator. Kegiatan ini diselenggarakan dalam durasi minimal 70 (tujuh puluh) jam pelajaran (JP dengan @ 45 menit. Materi diklat mencakup materi umum, materi inti dan materi penunjang. Berdasarkan Petunjuk Teknis Pelaksanaan In Service Learning 1 Diklat Calon Kepala Sekolah/Madrasah Tahun 2013 disebutkan, antara lain:

1)       Materi umum, terdiri dari 2 mata diklat yang bersifat kebijakan, yakni 1) kebijakan kementerian pendidikan nasional dan kebijakan dinas pendidikan provinsi/kabupaten/kota;

2)       Materi inti terdiri dari 3 mata diklat yang bersifat pengembangan kompetensi kepala sekolah/madrasah, yakni 1) mata diklat Latihan Kepemimpinan, 2) mata diklat Pengembangan Keterampilan Manajerial; dan 3) mata diklat Supervisi Akademik;

3)       Materi penunjang terdiri dari 5 mata diklat yang bersifat penunjang pelaksanaan kediklatan, yakni 1) pembukaan/penutupan; 2) orientasi program; 3) rencana tindakan kepemimpinan (RTK); 4) pre test dan post test; dan 5) evaluasi diklat. 

 

Selanjutnya pada bab ini kita hanya akan membahas materi intinya saja yang memang sedang menjadi tema pada artikel kita kali ini.

 

2.       Latihan Kepemimpinan

Berdasarkan Petunjuk Teknis Pelaksanaan In Service Learning 1 Diklat Calon Kepala Sekolah/Madrasah Tahun 2013 disebutkan, bahwa mata diklat Latihan Kepemimpinan termasuk salah satu Materi Inti, disamping mata diklat yang lain, yakni Pengembangan Keterampilan Manajerial dan Supervisi Akademik.3)

 

Di bagian selanjutnya dari Petunjuk Pelaksanaan Diklat Program Penyiapan Calon Kepala Sekolah/Madrasah itu juga dinyatakan, bahwa Latihan Kepemimpinan adalah sebuah mata diklat yang dimaksudkan untuk membentuk jiwa kepemimpinan, kepribadian, sosial, dan jiwa wirausaha calon kepala sekolah/madrasah. Inilah tujuan umum (General Outcomes) dari mata diklat Latihan Kepemimpinan pada diklat calon kepala sekolah/madrasah. Latihan Kepemimpinan adalah sebuah upaya untuk meningkatkan potensi kepemimpinan, mengubah pola pikir, sikap, perilaku, dan tindakan calon kepala sekolah/madrasah yang difokuskan pada peningkatan kemampuan berdasarkan hasil pemetaan. Latihan Kepemimpinan adalah sebuah upaya membangun karakter calon kepala sekolah/madrasah di Indonesia yang terstandar.

 

Di bagian yang lain dari Petunjuk Pelaksanaan Diklat Program Penyiapan Calon Kepala Sekolah/Madrasah tersebut disebutkan juga, bahwa Latihan Kepemimpinan mencakup 4 (empat) mata diklat, yakni 1) Dinamika Kelompok, 2) Kepemimpinan Spiritual, 3)  Kepemimpinan Pembelajaran, dan 4)  Kepemimpinan Kewirausahaan. Jadi bisa kita pahami bersama bahwa keempat mata diklat tersebut merupakan satu kesatuan yang secara terpadu mendukung pencapaian tujuan umum (General Outcomes) dari mata diklat Latihan Kepemimpinan di atas. Dengan kata lain, tujuan umum (General Outcomes) dari mata diklat Latihan Kepemimpinan dicapai melalui proses pembelajaran dari keempat mata diklat tadi.

 

Secara konseptual, Latihan Kepemimpinan adalah sebuah mata diklat yang merupakan salah satu materi inti di dalam diklat Program Penyiapan Calon Kepala Sekolah/Madrasah, yang dimaksudkan untuk membentuk jiwa kepemimpinan, kepribadian, sosial, dan jiwa wirausaha calon kepala sekolah/ madrasah. 

 

Sedangkan secara operasional, Latihan Kepemimpinan adalah sebuah mata diklat, yang merupakan salah satu materi inti di dalam diklat Program Penyiapan Calon Kepala Sekolah/Madrasah, yang dimaksudkan untuk meningkatkan potensi kepemimpinan, mengubah pola pikir, mengubah sikap, mengubah perilaku, dan meningkatkan keterampilan melakukan tindakan kepemimpinan calon kepala sekolah/ madrasah. 

 

Latihan Kepemimpinan adalah salah satu mata diklat di kegiatan In Service Learning 1 yang berisikan tatap muka dan penugasan di dalam ruangan/kelas dan di luar ruangan/kelas.  Praktik kepemimpinan berupa penugasan-penugasan, yang dikemas dalam bentuk Out-bound, baik dalam bentuk penugasan In-Door maupun Out-Door memberikan nuansa baru dalam pelatihan calon kepala sekolah/madrasah di Indonesia. Latihan Kepemimpinan merupakan kegiatan yang menguras energi dan menantang kesiapan fisik dan mental calon kepala sekolah/madrasah. Namun Latihan Kepemimpinan juga mengasyikan bagi sebagian besar calon kepala sekolah/madrasah.

 

Tahapan penanaman konsep, teknis dan interpersonal dalam kepemimpinan spiritual, kepemimpinan kewirausahaan dan kepemimpinan pembelajaran yang dikemas dalam bentuk penugasan Dinamika Kelompok-Outbound disusun ditata secara terpadu, dinamis, aktif, kreatif, inovatif dan menarik. Tahapan forming, storming, norming dan performing disajikan menyatu padu dengan penanaman konsep dan nilai-nilai kepemimpinan melalui tatap muka dalam kepemimpinan spiritual, kepemimpinan kewirausahaan dan kepemimpinan pembelajaran.

 

Upaya meningkatkan keterampilan teknis kepemimpinan 4 M calon kepala sekolah/madrasah (mempengaruhi, menggerakkan, memberdayakan dan mengembangkan) disajikan secara berkesinambungan; dan dipadukan dengan penanaman keterampilan manajemen kepemimpinan, yakni manajemen kepemimpinan diri sendiri, manajemen kepemimpinan kinerja, manajemen kepemimpinan orang, dan manajemen kepemimpinan tugas. Pengembangan ini secara lebih detil akan dilakukan pada saat calon kepala sekolah/madrasah melaksanakan Rencana Tindak Kepemimpinan (RTK).

 

Tes kejujuran terhadap kontrak program yang telah disepakati di awal kegiatan Latihan Kepemimpinan pada setiap pergantian waktu jeda kegiatan menguji kesiapan mental calon kapala sekolah/madrasah untuk bertindak komunikatif, adaptif dan bijaksana dalam segala waktu dan tempat.  Dikombinasikan dengan latihan fisik berupa olahraga pagi untuk menyegarkan fisik diri para calon kepala sekolah/madrasah. Calon kepala sekolah/madrasah berlatih menggembirakan diri dalam melakukan setiap penugasan melalui lagu dan koreografi sehingga mampu tetap bekerja keras, penuh semangat, dan terampil mengobati kekecewaan, kegagalan dan kesedihan menuju keberhasilan team work.

 

Namun demikian, kegiatan pembelajaran Latihan Kepemimpinan calon kepala sekolah/madrasah tidak hanya berhenti di In Service Learning 1, calon kepala sekolah/madrasah masih harus belajar dari pengalaman masing-masing dengan melaksanakan Rencana Tindak Kepemimpinan (RTK) di sekolah/madrasah masing-masing, nanti pada saat On The Job Learning.

 

3.       Pengembangan Keterampilan Manajerial

Episode kedua dari In Service Learning 1 Diklat Calon Kepala Sekolah/Madrasah adalah Pengembangan Keterampilan Manajerial.  Dalam Petunjuk Pelaksanaan Diklat Program Penyiapan Calon Kepala Sekolah/Madrasah disebutkan, bahwa mata diklat Manajerial dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman calon kepala sekolah/madrasah terhadap delapan standar nasional pendidikan, komponen-komponen perencanaan, evaluasi diri sekolah, serta penyusunan RKJM dan RKAS.4)

 

Sedangkan berdasarkan Petunjuk Teknis Pelaksanaan In Service Learning 1 Diklat Calon Kepala Sekolah/Madrasah Tahun 2013, mata diklat Manajerial disebut sebagai mata diklat Pengembangan Keterampilan Manajerial. Dalam Petunjuk Teknis tersebut Pengembangan Keterampilan Manajerial termasuk salah satu dari Materi Inti, disamping mata diklat yang lain, yakni Latihan Kepemimpinan dan Supervisi Akademik.5)

 

Di bagian yang lain dari Petunjuk Pelaksanaan Diklat Program Penyiapan Calon Kepala Sekolah/Madrasah tersebut disebutkan juga, bahwa mata diklat Pengembangan Keterampilan Manajerial mencakup 9 (sembilan) mata diklat, yakni 1) Penyusunan RKAS; 2) Pengelolaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan; 3) Pengelolaan Sarana dan Prasarana; 4) Pengelolaan Peserta Didik; 5) Pengelolaan Kurikulum; 6) Pengelolaan Keuangan Sekolah, 7) TIK dalam Pembelajaran; 8) Pembinaan Administratif Sekolah/Madrasah; dan 9) Monitoring dan Evaluasi. Jadi bisa kita pahami bersama bahwa kesembilan mata diklat tersebut merupakan satu kesatuan yang secara terpadu mendukung pencapaian tujuan umum (General Outcomes) dari mata diklat Pengembangan Keterampilan Manajerial di atas. Dengan kata lain, tujuan umum (General Outcomes) dari mata diklat Pengembangan Keterampilan Manajerial dicapai melalui proses pembelajaran dari kesembilan mata diklat tadi.

 

Secara konseptual, Pengembangan Keterampilan Manajerial adalah sebuah mata diklat yang merupakan salah satu materi inti di dalam diklat Program Penyiapan Calon Kepala Sekolah/Madrasah, yang dimaksudkan untuk meningkatkan kompetensi manajerial calon kepala sekolah/madrasah.  Sedangkan secara operasional, Pengembangan Keterampilan Manajerial adalah sebuah mata diklat, yang merupakan salah satu materi inti di dalam diklat Program Penyiapan Calon Kepala Sekolah/Madrasah, yang dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman calon kepala sekolah/madrasah tehadap delapan standar nasional pendidikan, komponen-komponen perencanaan, evaluasi diri sekolah, serta penyusunan RKJM dan RKAS.

 

Mata diklat Pengembangan Keterampilan Manajerial di In Service Learning 1 berisikan pembelajaran klasikal dan individual untuk memberikan pemahaman, pengetahuan dan wawasan tentang seluk beluk pengelolaan operasionalisasi sekolah/madrasah. Pengembangan Keterampilan Manajerial disajikan dengan berbagai bentuk aktifitas belajar antara lain ceramah, diskusi, studi kasus, role-play dan penugasan dalam bentuk kelompok, individu dan kerja mandiri terstruktur. Namun demikian, kegiatan pembelajaran Pengembangan Keterampilan Manajerial tidak hanya berhenti di In Service Learning 1, calon kepala sekolah/madrasah masih harus belajar dari pengalamannya masing-masing dengan melakukan kegiatan pengkajian 9 aspek manajerial, baik di sekolah/madrasahnya sendiri maupun di sekolah/madrasah lain, nanti pada saat On The Job Learning.

 

4.       Supervisi Akademik

Episode terakhir dari In Service Learning 1 Diklat Calon Kepala Sekolah/Madrasah adalah Supervisi Akademik.  Dalam Petunjuk Pelaksanaan Diklat Program Penyiapan Calon Kepala Sekolah/Madrasah disebutkan, bahwa mata diklat Supervisi Akademik dimaksudkan untuk memfasilitasi calon kepala sekolah/madrasah memahami konsep dasar dan implementasi supervisi akademik di sekolah/madrasah.6)

 

Berdasarkan Petunjuk Teknis Pelaksanaan In Service Learning 1 Diklat Calon Kepala Sekolah/Madrasah Tahun 2013, mata diklat supervisi akademik termasuk salah satu Materi Inti, disamping mata diklat yang lain, yakni Latihan Kepemimpinan dan Pengembangan Keterampilan Manajerial.7) Di bagian yang lain dari Petunjuk Pelaksanaan Diklat Program Penyiapan Calon Kepala Sekolah/Madrasah tersebut disebutkan juga, bahwa mata diklat Supervisi Akademik mencakup hanya supervisi akademik saja. Jadi bisa kita pahami bersama bahwa tujuan umum (General Outcomes) dari mata diklat supervisi akademik dicapai hanya melalui proses pembelajaran mata diklat supervisi akademik.

 

Secara konseptual, supervisi akademik adalah sebuah mata diklat yang merupakan salah satu materi inti di dalam diklat Program Penyiapan Calon Kepala Sekolah/Madrasah, yang dimaksudkan untuk meningkatkan kompetensi supervisi akademik calon kepala sekolah/madrasah.  Sedangkan secara operasional, memahami konsep dasar dan implementasi supervisi akademik adalah sebuah mata diklat, yang merupakan salah satu materi inti di dalam diklat Program Penyiapan Calon Kepala Sekolah/Madrasah, yang dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman calon kepala sekolah/madrasah terhadap konsep dasar dan implementasi supervisi akademik di sekolah/madrasah.

 

Mata diklat Supervisi Akademik disajikan dengan berbagai bentuk aktifitas belajar antara lain ceramah, diskusi, studi kasus, role-play dan penugasan dalam bentuk kelompok, individu dan kerja mandiri terstruktur untuk meningkatkan penguasaan konseptual skills calon kepala sekolah/madrasah dalam melaksanakan supervisi akademik. Namun dalam kegiatan pembelajaran Supervisi Akademik dilakukan juga simulasi praktik melaksanakan supervisi akademik dengan teknik observasi pembelajaran guru di kelas. Simulasi praktik dimaksudkan untuk melatih technical skills calon kepala sekolah/madrasah dalam melaksanakan supervisi akademik. Kegiatan pembelajaran supervisi akademik tidak hanya berhenti di In Service Learning 1, calon kepala sekolah/madrasah masih harus belajar dari pengalamannya masing-masing melaksanakan kegiatan supervisi akademik terhadap seorang guru yunior di sekolah/madrasahnya masing masing, nanti pada saat On The Job Learning.

 

5.       Rencana Tindak Lanjut (RTL)-Rencana Tindak Kepemimpinan (RTK)

SOP Pelaksanaan Diklat Program Penyiapan Calon Kepala Sekolah/Madrasah In Service Learning I menyatakan bahwa penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL) adalah penyusunan rencana yang akan diimplementasikan pada diklat On The Job Learning, yang meliputi implementasi pengetahuan dan pemahaman berkaitan dengan dimensi kompetensi kepala sekolah/madrasah, yakni kompetensi kepribadian, kompetensi manajerial, kompetensi kewirausahaan, kompetensi supervisi akademik, dan kompetensi sosial.8)

 

Berdasarkan Petunjuk Pelaksanaan Diklat Program Penyiapan Calon Kepala Sekolah/Madrasah, Rencana Tindak Lanjut (RTL) Diklat Program Penyiapan Calon Kepala Sekolah/Madrasah adalah On-the-Job Learning (OJL) selama 3 bulan setara dengan 300 Jam Pelajaran (JP). Rencana Tindak Lanjut (RTL) berisikan 6 tugas, yakni 1) Pelaksanaan Rencana Tindak Kepemimpinan (RTK); 2) Supervisi Akademik Terhadap Guru Yunior; 3) Penyusunan Perangkat Pembelajaran; 4) Tugas Mandiri Pengkajian 9 Aspek Manajerial; 5) Upaya Peningkatan Kompetensi Berdasarkan Hasil AKPK Di Sekolah/Madrasah Lain; dan 6) Penyusunan Portofolio.

 

Berdasarkan Petunjuk Teknis Pelaksanaan In Service Learning 1 Diklat Calon Kepala Sekolah/Madrasah Tahun 2013 dinyatakan, bahwa pada akhir kegiatan In-Service Learning 1 peserta menyusun Rencana Tindak Kepemimpinan (RTK) yang akan dilaksanakan pada saat On-the-Job Learning (OJL) dan dilaporkan dalam bentuk portofolio dan presentasi di kegiatan  In Service Learning 2. Penyusunan Rencana Tindak Kepemimpinan (RTK) berdasarkan hasil analisis Evaluasi Diri Sekolah/Madrasah (EDS/M) dan evaluasi diri calon kepala sekolah/madrasah yang dicerminkan dari hasil pengisian instrumen Analisis Kebutuhan Pengembangan Keprofesian (AKPK).

 

Pelaksanaan Rencana Tindak Kepemimpinan (RTK) sebagai salah satu tugas On-the-Job Learning (OJL) merupakan kelanjutan proses pembelajaran dari mata diklat Latihan Kepemimpinan. Pelaksanaan Rencana Tindak Kepemimpinan (RTK) juga dimaksudkan untuk mengintegrasikan (memamah-biakkan) jiwa kepemimpinan dalam khasanah kekepala-sekolahan melalui implementasi 4-M (Mempengaruhi, Menggerakkan, Memberdayakan, dan Mengembangkan) dan implementasi manajemen kepemimpinan (manajemen model, manajemen kinerja, manajemen tugas, dan manajemen orang) dalam 4 tahapan kegiatan, yakni Persiapan-Pelaksanaan-Monev-Refleksi (Plan-Conduct-Evaluation-Feed Back) (Wolf and Byrne: 1975).9) Pelaksanaan Rencana Tindak Kepemimpinan (RTK)  bersifat siklusif dan dalam diklat Program Penyiapan Calon Kepala Sekolah/Madrasah ditetapkan Pelaksanaan Rencana Tindak Kepemimpinan (RTK) minimal dalam 2 siklus (Persiapan 1 – Pelaksanaan 1 – Monev 1 – Refleksi 1 dan berlanjut Persiapan 2 –Pelaksanaan 2 – Monev 2 – Refleksi 2). Untuk selanjutnya tentang Pelaksanaan Rencana Tindak Kepemimpinan (RTK) akan dibahas secara lebih mendalam di artikel yang berbeda.10)

 

Jadi bisa kita simpulkan, bahwa secara konseptual, Diklat Calon Kepala Sekolah/Madrasah Program Penyiapan Calon Kepala Sekolah/Madrasah In Service Learning 1 adalah serangkaian kegiatan diklat calon kepala sekolah/madrasah yang dimaksudkan untuk implementasikan pengetahuan dan pemahaman berkaitan dengan dimensi kompetensi kepala sekolah/madrasah, yakni kompetensi kepribadian, kompetensi manajerial, kompetensi kewirausahaan, kompetensi supervisi akademik, dan kompetensi sosial.  Sedangkan secara operasional, Diklat Calon Kepala Sekolah/Madrasah Program Penyiapan Calon Kepala Sekolah/Madrasah In Service Learning 1 adalah serangkaian kegiatan diklat calon kepala sekolah/madrasah yang terdiri 3 kegiatan diklat, yakni 1) Latihan Kepemimpinan; 2) Pengembangan Keterampilan Manajerial; 3) Supervisi Akademik dan 4) Rencana Tindak Lanjut (RTL).

 

PENUTUP

Tidak ada formula yang terbaik untuk mencapai hasil diklat yang maksimal. Tetapi memang terdapat praktik-praktik pembelajaran terbaik yang pernah kita lakukan dan hal itu menjadi sesuatu yang sangat penting untuk diperhatikan baik oleh Master Trainer maupun oleh peserta diklat calon kepala sekolah. Lalu apa yang bisa kita lakukan? Yang bisa dilakukan adalah mengambil idenya dan lalu mengadaptasinya sesuai dengan kebutuhan perkembangan pencapaian kompetensi calon kepala sekolah peserta diklat. Jangan sekali sekali berharap agar setiap Master Trainer (MT) mengajar dengan cara yang sama, dan peserta diklat juga akan akan belajar dengan cara yang sama. Kita hanya bisa berharap bahwa para Master Trainer (MT) akan menentukan cara mengajarnya sendiri dan peserta diklat calon kepala sekolah terlibat dalam setiap detil proses pembelajaran di kelas dan di luar kelas, menguasai pengetahuan baru dan belajar dengan baik. Perlu dipahami, bahwa diklat PPCKS tidak selalu bisa dilaksanakan di sebuah tempat pendidikan dan pelatihan khusus dengan fasilitas dan sumber daya manusia yang terpusat, terlengkap dan terbaik. Diklat PPCKS kita harus bisa dilakasanakan di semua kabupaten/kota/provinsi dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Bisa di sebuah lembaga diklat, misalnya di LPPKS, PPPPTK atau LPMP, Universitas, atau bisa juga di sekolah, di koperasi, kantor PGRI, di gedung diklat, di hotel berbintang atau pun tak berbintang sekalipun. Kuncinya adalah learning. Dimanapun tempatnya, yang terpenting adalah learning. Training without learning is nothing. Kembali ke bagian pengantar dari artikel ini, bisa kita sajikan sintesanya sebagai berikut: setiap jaman menentukan pendekatannya sendiri. Sentralisasi melahirkan &l