Anda Berada di halaman : Berita » PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU-GURU MATA PELAJARAN BAHASA INGGRIS DALAM MENYUSUN RENCANA PEMBELAJARAN M
 

Layanan Utama

Berita Foto

<a href='http://lppks.kemdikbud.go.id/berita_foto/129'>Pembukaan Diklat IN 1 Prov. Sumatera Barat</a> <a href='http://lppks.kemdikbud.go.id/berita_foto/130'>Peserta Diklat IN 1 Prov. Sumatera Barat</a> <a href='http://lppks.kemdikbud.go.id/berita_foto/131'>Pembukaan Diklat In Service Learning-2 Program PKB KS/M SMP Prov. Jatim Peserta Th. 2014</a> <a href='http://lppks.kemdikbud.go.id/berita_foto/133'>Peserta IN 1 Prov. Riau mengikuti Kegiatan Pembukaan</a> <a href='http://lppks.kemdikbud.go.id/berita_foto/134'>Kasi SI LPPKS menghadiri Pembukaan Kegiatan Diklat In 1 Prov. Riau</a>
Prev Next

Polling

Seberapa penting pelaksanaan Diklat Kepala Sekolah Pembelajar yang merupakan tindak lanjut hasil Uji Kompetensi Kepala Sekolah dalam upaya meningkatkan Kompetensi Kepala Sekolah?





PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU-GURU MATA PELAJARAN BAHASA INGGRIS DALAM MENYUSUN RENCANA PEMBELAJARAN M
Kategori : Jurnal Oleh : administrator Ditulis : Selasa, 17 Maret 2015 Hits : 1513

PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU-GURU MATA PELAJARAN BAHASA INGGRIS DALAM MENYUSUN RENCANA PEMBELAJARAN  MELALUI PEMBIMBINGAN INDIVIDU DI SEKOLAH BINAAN DI KABUPATEN BREBES TAHUN 2012/2013

 

Kasno *)

Kasno_bbs@yahoo.com

 

Abstrak: rumusan masalah penelitian ini adalah apakah pembimbingan individu dari pengawas dapat meningkatkan kemampuan guru Bahasa Inggris dalam menyusun rencana pembelajaran. Penelitian ini dilaksanakan 2 siklus. Hasil yang diperoleh adanya peningkatan kemampuan guru Bahasa Inggris dalam menyusun rencana pembelajaran. Hasil siklus 1, yaitu rata-rata skor 78, 25 dan pada hasil siklus 2 meningkat 90.

 

Kata kunci: pembimbingan individu, RPP, kemampuan guru

 

Abstract: this research was aimed at increasing the English teachers’ abitility in developing lesson/action plan through individual guidance. This research used 2 cycles. There was an increasing the English teachers’ abitility in developing lesson/action plan. The average score was 78, 25 in cycle 1 and increased into 90 in cycle 2

 

Key words: individual guidance, lesson/action plan, English teachers’ ability

 

PENDAHULUAN

Salah satu faktor penyebab rendahnya mutu pendidikan adalah tidak terlepas dari bagaimana guru dalam melaksanakan tugas mengajarnya. Tugas guru adalah merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaan, mengevalusi, dan menilai. Dalam menjalankan tugasnya, guru harus menguasai seperangkat kompetensi yang telah ditetapkan agar dapat melaksanakan tugas mengajarnya dengan baik.

Berdasarkan hasil pengamatan terhadap rencana pembelajaran mata pelajaran Bahasa Inggris di sekolah binaan saat melaksanakan pengawasan akademik, ditemukan penyusunan rencana pembelajaran yang belum sempurna. Mereka menyusun rencana pembelajaran terkesan asal-asalan hanya untuk memenuhi kewajiban administrasi mereka karena sudah disuruh kepala sekolah untuk segera mengumpulkan perangkat mengajarnya. Fakta yang ditemukan di lapangan antara lain: guru dalam merumuskan tujuan tidak sesuai dengan indikator maupun kompetensi dasar. Dan juga guru dalam menyusun instrumen penilaian tidak mangacu kepada tujuan atau indikator yang telah ditentukan. Contoh lain adalah guru dalam menentukan kegiatan pembelajaran terkesan sembarangan.

Dalam menyusun perencanaan masing-masing guru bahasa inggris memiliki tingkat penguasaan yang berbeda. Ada guru yang belum mampu merumuskan dan adayang sudah mampu. Ada yang mampu merumuskan indikator namun penulisan instrumen penilaian tidak sesuai. Ada guru yang belum mampu menetapkan kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan kompetensi dasar yang akan dicapai. Juga guru belum mampu menyusun alat evaluasi yang benar.

Melihat kenyataan ini penulis selaku pengawas berkeinginan untuk membantu guru mata pelajaran bahasa Inggris di Sekolah binaan dalam menyusun rencana pembelajaran  melalui pembimbingan individu.

Masalah utama dalam penelitian ini adalah : Apakah pembimbingan individu dari pengawas dapat meningkatkan kemampuan guru Bahasa Inggris dalam menyusun rencana pembelajaran?

Tujuan utama Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian tindakan ini adalah untuk mengetahui keefektifan pembimbingan individu dalam meningkatkan kemampuan guru mata pelajaran Bahasa Inggris Sekolah binaan dalam menyusun rencana pembelajaran. Adapun secara secara khusus penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pelaksanaan pembimbingan indivdu dan untuk mengetahui kemampuan guru – guru Bahasa Inggris sekolah binaan dalam menyusun rencana pembelajaran setelah mendapatkan pembimbingan individu.

Adapun manfaat penelitian tindakan ini adalah manfaat teoritis dan praktis. Manfaat teoritis yakni diharapkan dapat memperkaya khasanah pengembangan keilmuan dan dapat dijadikan masukan untuk kajian lebih lanjut bahwa pembimbingan individu  pengawas sekolah sangat membantu untuk memberikan bantuan kepada guru dalam menyusun rencana pembelajaran yang efektif. Dan manfaat praktis dari penelitian ini adalah bahwa  hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi pengawas dalam rangka melaksanakan pembimbingan individu, dan bagi guru dalam meningkatkan kemampuan dalam perencanaan pembelajaran, serta bagi kepala sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan di sekolah yang menjadi tanggung jawabnya.

 

KAJIAN PUSTAKA

Tugas Pokok dan Fungsi Guru

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen secara tegas menyatakan bahwa kedudukan guru sebagai tenaga profesional berfungsi meningkatkan martabat dan peran guru sebagai agen pembelajaran untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional.

Peraturan Menteri Pendidikan Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2007 tentang standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru diungkapkan bahwa kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Keempat kompetensi tersebut terintegrasi dalam kinerja guru.

Kompetensi pedagogik merupakan kompetensi inti guru, yaitu (1) Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, sosial, kultural, emosional, dan intelektual, (2) Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik, (3) Mengembangkan kurikulum yang terkait dengan bidang pengembangan yang diampu, (4) Menyelenggarakan kegiatan pengembangan yang mendidik, (5) Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan penyelenggaraan kegiatan pengembangan yang mendidik, (6) Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki,  (7) Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik, (8) Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar, (9) Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran, (10) Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran.

Kompetensi guru dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran adalah poin ketiga, yakni kompetensi mengembangkan kurikulum terkait dengan bidang pengembangan yang diampu. Kemampuan yang harus dimiliki guru pada kompetensi ini adalah kemampuan memahami prinsip-prinsip pengembangan kurikulum, merumuskan indikator, memilih dan mengembangkan materi ajar, menentukan tujuan pembelajaran, menentukan pengalaman mengajar yang sesuai, dan menata materi pembelajaran secara benar sesuai dengan pendekatan yang dipilih dan karakteristik siswa.

Dalam melaksanakan tugas pokok yang terkait langsung dengan proses pembelajaran, guru hanya melaksanakan tugas (1) merencanakan pembelajaran; (2) melaksanakan pembelajaran; (3) menilai hasil pembelajaran; (4) membimbing dan melatih peserta pidik; (5) melaksanakan tugas tambahan    

Guru wajib membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) pada awal tahun atau awal semester, sesuai dengan rencana kerja sekolah. RPP akan membantu si pengajar dalam mengorganisasikan materi standar, serta mengantisipasi peserta didik dan masalah-masalah yang mungkin timbul dalam pembelajaran. Baik pengajar maupun peserta didik mengetahui dengan pasti tujuan yang hendak dicapai dan cara mencapainya. Dengan demikian pengajar dapat mempertahankan situasi agar peserta didik dapat memusatkan perhatian dalam pembelajaran yang telah diprogramkannya. Sebaliknya, tanpa RPP atau tanpa persiapan tertulis maupun tidak tertulis, seorang pengajar akan mengalami kesulitan dalam proses pembelajaran yang dilakukannya. Seorang pengajar yang belum berpengalaman pada umumnya memerlukan perencanaan yang lebih rinci dibandingkan seorang pengajar yang sudah berpengalaman.

 

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Perencanaan pembelajaran merupakan bagian penting dalam pelaksanaan pendidikan. Melalui perencanaan yang baik, guru akan lebih mudah dalam melaksanakan pembelajaran dan siswa akan lebih terbantu dan mudah dalam belajar. Perencanaan pembelajaran dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didik, kondisi sekolah, mata pelajaran, dan kondisi lingkungan.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dinyatakan bahwa perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pengajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar. Dan Peraturan Menteri Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses dijelaskan bahwa RPP dijabarkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan belajar peserta didik dalam upaya mencapai kompetensi dasar.

Setiap guru pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisiapasi aktif.

Komponen-komponen RPP adalah (1) Identitas Mata Pelajaran, yang terdiri dari identitas satuan pendidikan, mata pelajaran, kelas, semester, dan jumlah pertemuan; (2) Standar Kompetensi, yakni kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diharapkan dapat dicapai pada setiap kelas atau semester pada suatu mata pelajaran; (3) Kompetensi Dasar, yakni sejumah kemampuan yang harus dikuasai oleh peserta didik dalam mata pelajaran tertentu; (4) Indikator Pencapaian Kompetensi, yakni perilaku yang dapat diukur dan/atau diobservasi untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang menjadi acuan penilaian mata pelajaran. Indikator pencapaian kompetensi dirumuskan dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan; (5) Tujuan Pembelajaran, yang menggambarkan proses dan hasil belajar yang diharapkan dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar; (6) Materi Ajar, yang memuat fakta, konsep, prinsip dan prosedur yang relevan dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator; (7) Alokasi waktu, Alokasi waktu ditentukan sesuai dengan kebutuhan untuk mencapai kompetesnsi dasar dan beban belajar; (8) Metode Pembelajaran, yang digunakan oleh guru untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mencapai kompetensi dasar  atau seperangkat indikator yang telah ditetapkan; (9) Kegiatan Pembelajaran, yang meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Kegiatan penduhuluan merupakan kegiatan awal dalam satu pertemuan pembelajaran yang ditujukan untuk membangkitkan motivasi dan memfokuskan perhatian peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai Kompetesni Dasar. Kegiatan penutup merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengakhiri aktivitas pembelajaran yang dapat dilakukan dalam bentuk rangkuman, penilaian, refleksi, umpan balik, dan tindak lanjut; (10) Sumber Belajar, yaitu rujukan, objek dan atau bahan yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran yang berupa media cetak dan elektronik, nara sumber, serta lingkungan fisik, alam, sosial, dan budaya; (11) Penilaian Hasil Belajar, yaitu penilaian untuk pencapaian KD peserta didik yang dilakukan berdasarkan indikator dengan menggunakan tes dan atau non tes dalam bentuk tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, proyek dan atau produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri

 

Prinsip-Prinsip Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Prinsip-prinsip penyusunan RPP meliputi: (1) memperhatikan perbedaan individu peserta didik; (2) RPP disusun dengan memperhatikan perbedaan jenis kelamin, kemampuan awal, tingkat intelektual, minat, motivasi belajar, bakat, kemampuan sosial, emosi, kebutuhan, kecepatan berfikir, latar belakang, norma, nilai, dan lingkungan peserta didik; (3) Mendorong partisipasi aktif peserta didik; (4) mengembangkan budaya membaca dan menulis; (5) RPP dirancang untuk mengembangkan kegemaran membaca, pemahaman beragam bacaan, dan berekspresi dengan berbagai bentuk tulisan; (6) Memberikan umpan balik dan tindak lanjut; (7) Keterkaitan dan keterpaduan, RPP disusun dengan memperhatikan keterkaitan dan keterpaduan antara standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pembelajaran, indikator, penilaian, dan sumber belajar dalam satu keutuhan pengalaman belajar; (8) Menerapkan teknologi informasi dan komunikasi.

 

Langkah-Langkah Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Langkah minimal penyususnan RPP dimulai dari mencantumkan identitas, merumuskan tujuan pembelajaran, mengembangkan materi pembelajaran, menentukan metode pembelajaran, menetapkan kegiatan pembelajaran, menentukan penilaian, dan memilih sumber belajar.

 

Pembimbingan Individual

Bimbingan sering disamakan dengan bantuan, namun sebenarnya tidak semua bimbingan adalah bantuan. Menurut Jones, bimbingan individu adalah bantuan yang diberikan kepada individu dalam menentukan pilihan dan mengadakan berbagai penyesuaian dengan bijaksana dengan lingkungan. Tujuan utama bimbingan adalah mengembangkan individu sesuai dengan kemampuannya (Jones, dalam Djumhur dan M. Surya, 1975: 19).

Dalam kamus bahasa Indonesia karangan Mohammad Ali, bimbing atau bimbingan adalah tuntun/tuntunan. Definisi bimbingan adalah proses membantu individu untuk mencapai perkembangan optimal.

Dalam penelitian ini pengawas akan melakukan bimbingan mengembangkan RPP bagi guru-guru bahasa Inggris di sekolah binaan secara individu.

 

Kerangka Berfikir

Dalam menyusun perencanaan masing-masing guru bahasa inggris memiliki tingkat penguasaan yang berbeda. Ada guru yang belum mampu merumuskan dan ada yang sudah mampu. Ada yang mampu merumuskan indikator namun penulisan instrumen penilaian tidak sesuai. Ada guru yang belum mampu menetapkan kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan kompetensi dasar yang akan dicapai. Juga guru belum mampu menyusun alat evaluasi yang benar.

Oleh karena itu, pengawas perlu membantu guru mata pelajaran bahasa Inggris di Sekolah binaan dalam menyusun rencana pembelajaran  melalui pembimbingan individu.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian tindakan sekolah ini dilaksanakan di sekolah binaan kabupaten Brebes. Jumlah guru 4 orang. Alasan penulis melakukan penulisan di sekolah binaan ini adalah rendahnya kemampuan guru mata pelajaran bahasa Inggris dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran. Melihat kenyataan ini penulis selaku pengawas berkeinginan untuk membantu guru mata pelajaran bahasa Inggris di sekolah binaan dalam menyusun rencana pembelajaran  melalui pembimbingan individu.

Sumber data dalam penulisan ini adalah  (1) dokumen rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP); (2) kuesioner guru untuk mengetahui respon mereka terhadap penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran; (3) wawancara oleh pengawas sekolah kepada guru bahasa Inggris untuk mengetahui kesan dan pendapat mereka selama proses penelitian.

Teknik pengumpulan data melalui (1) menelaah dokumen rencana pelaksanaan pembelajaran guru; (2) pemberian kuesioner sebelum dan sesudah diberikan tindakan; (3) Wawancara 

Analisis data, hasil telaah dokumen rencana pelaksanaan pembelajaran guru, hasil kuesioner sebelum dan sesudah tindakan siklus, serta hasil wawancara  dianalisis secara deskriptif.

Indikator keberhasilan dari pembimbingan rencana pelaksanaan pembelajaran guru adalah (1) guru menuliskan identitas RPP dengan benar; (2) guru merumuskan indikator pencapaian dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan; (3) guru merumuskan tujuan yang menggambarkan proses dan hasil belajar yang diharapkan dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar; (4) guru mengembangkan materi pembelajaran yang memuat fakta, konsep, prinsip dan prosedur yang relevan dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator; (5) guru menentukan metode pembelajaran yang digunakan untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran efektif sehingga peserta didik mencapai kompetensi dasar  atau seperangkat indikator yang telah ditetapkan; (6) guru menetapkan kegiatan pembelajaran yang meliputi kegiatan pendahuluan yang dapat memotivasi dan memfokuskan perhatian peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran; kegiatan inti yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan; dan kegiatan penutup dengan kegiatan yang berupa merangkum, menilai, merefleksi, dan atau tindak lanjut; (7) guru menentukan penilaian yang dilakukan berdasarkan indikator dengan menggunakan tes dan atau non tes dalam bentuk tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, proyek dan atau produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri; (8) guru memilih sumber belajar yang didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar, materi ajar, kegiatan pembelajaran, dan indikator; (9) guru mempunyai pikiran, perasaan, atau pendapat yang positif terhadap bimbingan penyusunan RPP oleh pengawas sekolah; (10) hasil wawancara dengan guru menunjukkan ≥ 80% guru antusias dan aktif dalam menerima bimbingan penyusunan RPP.

Tahapan penelitian tindakan sekolah ini terdiri atas dua tahap yaitu, perencanaan tindakan dan pelaksanaan tindakan. Pada tahap pelaksanaan tindakan terdapat serangkaian kegiatan yang dilakukan secara daur ulang mulai dari tahap orientasi  perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, refleksi, dan revisi (Mc. Niff, 1992; Kemmis, 1982; Hopkins, 1993).

Pada tahap planning penulis melakukan beberapa kegiatan seperti mencari referensi yang berkaitan dengan model pembelajaran, kinerja guru, tupoksi guru. Dalam tahap perencanaan ini penulis juga melakukan kegiatan-kegiatan seperti: (1) Pembuatan jadwal penelitian; (2) Pedoman telaah dokumen rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP); (3) Pembuatan pertanyaan untuk kuesioner; (4) Pembuatan pedoman wawancara.

Pengawas sekolah (peneliti) dengan guru bahasa Inggris di sekolah binaan membahas tentang hal-hal yang akan dilakukan dalam penelitian tindakan. Yang meliputi (a) menentukan kemampuan apa yang akan ditingkatkan, (b) menentukan kegiatan apa yang yang akan dilakukan untuk meningkatkan guru tersebut, (c) mengembangkan skenario kegiatan yang berupa langkah-langkah kegiatan pembimbingan individu yang akan dilaksanakan, (d) menyiapkan sumber belajar/materi bimbingan, seperti hand out, pedoman penyusunan RPP, dan media lain yang mendukung kegiatan bimbingan, (e) mengembangkan kriteria penilaian RPP.

Langkah berikutnya adalah pengawas sekolah (penulis) menawarkan model pembimbingan individu untuk menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, yakni pembimbingan yang dilakukan untuk memberikan bantuan kepada individu dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran. Dengan cara pengawas (penulis) datang ke tiap sekolah yang menjadi binaan untuk membimbing guru mata pelajaran bahasa Inggris pada hari atau jam yang tidak mengganggu kegiatan pembelajaran, yakni di sela jam-jam kosong yang lebih dari empat jam pelajaran. Tiap-tiap sekolah didatangi oleh penulis pada hari yang berbeda-beda.

Pada langkah sebelumnya pengawas (penulis) melihat RPP dari para guru bahasa Inggris. RPP diidentifikasi letak kekurangan dan kelemahan dan yang perlu ditingkatkan dari masing-masing RPP yang dimiliki guru bahasa Inggris.

Kemudian pada siklus pertama pengawas memberikan bimbingan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran secara individu mulai dari perumusan indikator, perumusan tujuan, pengembangan materi, penentuan kegiatan pembelajaran, penggunaan media, menentukan instrumen penilaian, sampai pada penentuan sumber belajar. Pengawas (penulis) menyampaikan materi yang berupa hand out baik power point maupun word. Bimbingan membutuhkan waktu 2 – 3 jam (antara 120 – 180 menit). Setelah diberikan bimbingan, masing-masing guru bahasa Inggris diminta untuk menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) di rumah dan minggu berikutnya pengawas akan datang kembali untuk mengamati RPP yang telah dibuat dan selanjutnya dipraktikkan di kelas pada hari itu juga atau pada hari lain tergantung pada situasi kondisi.

Ketika guru menerapkan RPP yang telah dibuat di depan kelas, pengawas (penulis) mengamatinya kemudian mencatat hal-hal yang perlu untuk perbaikan RPP-nya. Karena harus disesuaikan dengan karakteristik peserta didik.

Tindakan pada siklus kedua bimbingan untuk menyempurnakan RPP berdasarkan temuan-temuan yang dicatat oleh pengawas ketika melaksanakan pengamatan di kelas. 

Pengamatan perkembangan kemampuan guru dilakukan pada setiap fase treatment, siklus pertama dan kedua. Data-data yang ada dianalisis secara deskriptif.

Setelah mendapatkan gambaran secara rinci tentang keberhasilan dan kendala yang dialami dalam penyusunan rencana pelaksanaan pembelajarann (RPP) ini, jika hasil yang diperoleh pada siklus pertama belum memuaskan, maka penulis melanjutkan penulisan siklus berikutnya dengan mengulang dari tahap perencanaan.

 

HASIL PENELITIAN

Kondisi awal sebelum diberi bimbingan individu ini adalah kemampuan guru mata pelajaran bahasa Inggris sangat rendah dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Menurut pengamatan pengawas (penulis), guru mata pelajaran bahasa Inggris SMA di sekolah binaan yang menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dengan baik hanya sekitar 47%.

Berdasarkan telaah RPP pra siklus berdasarkan kriteria penilaian yang telah ditentukan oleh penulis, dari masing – masing guru bahasa Inggris diperoleh nilai maisng-masing 69, 26, 47, dan 49 dengan rata-rata 47,75.

Rata-rata hasil kuesioner pra siklus yang diberikan kepada guru, guru yang memiliki pemahaman dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) ada 48% dari jumlah guru bahasa Inggris dari semua sekolah binaan. Sedangkan hasil kuesioner yang berkaitan dengan pembimbingan individu terdapat 11,11% sangat setuju, 13,89% setuju, 41,67% ragu-ragu, 22,22% kurang setuju, dan 11,11% sangat tidak setuju (lihat lampiran). Jadi dapat dikatakan bahwa para guru bahasa Inggris di sekolah binaan hanya 25% yang setuju diberi bimbingan secara individu.

 

Deskripsi siklus I

Dalam tahap perencanaan ini penulis melakukan kegiatan-kegiatan seperti: (1) pembuatan jadwal penelitian; (2) pedoman telaah dokumen rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP); (3) pembuatan pertanyaan untuk kuesioner; (4) pembuatan pedoman wawancara.

Dalam tahap implementasi tindakan ini penulis melakukan kegiatan-kegiatan seperti: (1) pengawas sekolah (penulis) menjelaskan langkah-langkah minimal dari penyusunan RPP, dimulai dari  mencantumkan Identitas, Tujuan Pembelajaran, Materi Pembelajaran, Metode Pembelajaran, Langkah-langkah Kegiatan pembelajaran, Sumber Belajar, dan Penilaian; (2) pengawas sekolah meminta guru untuk mengisikan form rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah dipersiapkan sebagai latihan; (3) pengawas sekolah (penulis) meminta guru untuk menyusun satu RPP dalam waktu satu minggu; (4) guru menerapkan RPP di kelas; (5) penulis mengamati dan mencatat hal-hal yang perlu untuk perbaikan rencana pelaksanaan pembelajaran.

Dalam tahap pengamatan dan penilaian. Aspek-aspek yang diamati dan dinilai, antara lain (1) Komponen RPP yang meliputi Identitas yang terdiri dari Nama sekolah, Mata Pelajaran, Kelas­, Semester, Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, Indikator dan Alokasi Waktu; (2) merumuskan Tujuan Pembelajaran, tujuan menggambarkan proses dan ha­sil belajar yang diharapkan dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar; (3) menentukan materi pembelajaran, materi memuat fakta, konsep, prinsip, dan pro­sedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator pencapaian kompe­tensi Untuk memudahkan penetapan materi pembelajaran,  dapat diacu dari indikator; (4) Menentukan Metode Pembelajaran: mencantumkan pendekatan pembelajaran dan metode yang diintegrasikan dalam satu kegiatan pembelajaran peserta didik; (5) Menetapkan Kegiatan Pembelajaran: mencantumkan langkah-langkah kegiatan setiap pertemuan, yakni (a) kegiatan pendahuluan yang meliputi  orientasi, motivasi, pemberian Acuan, (b) kegiatan inti yang berisi langkah-langkah sistematis yang dilalui peserta didik untuk dapat mengkonstruksi ilmu sesuai dengan skemata (frame work) masing-masing, (c) kegiatan penutup dalam kegiatan guru mengarahkan peserta didik untuk membuat rangkuman/simpulan,  memeriksa hasil belajar peserta didik, memberikan arahan tindak lanjut pembelajaran berupa kegiatan di luar kelas, di rumah atau tugas sebagai bagian remidi­/pengayaan; (6) Memilih sumber belajar,  yang mencakup sumber rujukan, lingkungan, media, narasumber, alat dan bahan. Sumber belajar dituliskan secara lebih operasional, dan langsung dinyatakan bahan ajar apa yang digunakan; (7) Menentukan penilaian, dalam penilaian ini dijabarkan atas teknik penilaian dan bentuk instrumen

Dari hasil penilaian melalui telaah RPP dan penerapannya di kelas, dari 4 orang guru diperoleh hasil masing-masing 81, 76, 80, dan 76. Hal ini menunjukkan peningkatan yang signifikan setelah diberikan bimbingan secara individu.

Sikap dan pendapat guru selama tindakan penelitian melalui wawancara dan kuesioner. Dari hasil kuesioner terdapat 11,11% sangat setuju, 55,56% setuju, dan 33,33% ragu-ragu. Jadi setelah diberikan tindakan siklus I terdapat perubahan sikap para guru bahasa Inggris di sekolah binaan meningkat menjadi 66,67% setuju terhadap pembimbingan individu. Sedangkan dari hasil wawancara dengan guru bahwa dalam menyusun RPP mereka mengalami kendala dalam menjabarkan kompetensi dasar menjadi indikator.  Para guru juga mengalami kesulitan dalam mengembangkan metode yang bervariasi dengan alasan para siswa kurang motivasinya dalam belajar bahasa Inggris, ditambah lagi kosakata mereka yang sangat minim. Para guru juga mempunyai kendala dalam pemanfaatan media/alat pembelajaran. Dana merupakan alasan yang kuat bagi guru-guru mengapa mereka tidak menggunakan media/alat pembelajaran dalam melaksanakan kegiatan proses belajar mengajar.     

Setelah penulis melakukan analisis data dari penilaian dan pengamatan, dalam tahap refleksi ini penulis melakukan tindakan perbaikan/pembinaan terhadap guru yang masih mengalami kesulitan dalam merumuskan indikator. Misalnya, satu KD seharusnya perlu dijabarkan lebih dari satu atau dua indikator. Dan para guru yang masih mengalami kesulitan dalam mengembangkan kegiatan inti agar menggambarkan kegiatan siswa yang menarik dan menantang. Dan memberikan penjelasan bagaimana menggunakan alat/media pembeljaran dan bentuknya yang seperti apa media/alat pembelajaran tersebut agar dpat membantu peserta didik memahami materi yang disampaikan. Pengawas sekolah (penulis) juga memberikan bantuan bagaimana menyusun instrumen penilaian agar sesuai dengan indikator yang telah ditetapkan.

 

Deskripsi siklus II

Dalam tahap perencanaan siklus II ini penulis melakukan kegiatan-kegiatan seperti, mempersiapkan feedback dan materi untuk perbaikan/pembinaan terhadap guru yang masih mengalami kesulitan dalam merumuskan indikator, mengembangkan kegiatan inti agar menggambarkan kegiatan siswa yang menarik dan menantang, menggunakan alat/media pembeljaran, dan menyusun instrumen penilaian agar sesuai dengan indikator yang telah ditetapkan.

Dalam tahap perencanaan siklus II ini penulis juga mempersiapkan  lembar analisis RPP, pertanyaan untuk kuesioner dan wawancara, dan lembar pengamatan seperti pada siklus I

Dalam tahap implementasi tindakan siklus II ini penulis melakukan kegiatan-kegiatan seperti berikut: (1) memberikan feedback dari hasil pengamatan penyusunan RPP; (2) memberikan penjelasan tentang bagaimana merumuskan indikator agar lebih detail/banyak sehingga guru akan jelas dan mudah mengatahui apakah tujuan/kompetensi dasar sudah dicapai oleh peserta didik; (3) memberikan bantuan untuk mengembangkan kegiatan inti agar menggambarkan kegiatan siswa yang menarik dan menantang, yang sesuai dengan indikator yang telah ditetapkan; (4) memberikan bantuan harus seperti apa alat/media pembelajaran itu, apakah harus sesuatu yang mahal dan baru, dan bagaimana menggunakannya; (5) memberikan bantuan bagaimana menyusun instrumen penilaian agar sesuai dengan indikator yang telah ditetapkan

Kemudian pengawas meminta kepada para guru bahasa Inggris untuk menyempurnakan RPP.

Dalam tahap dilakukan telaah dan penilaian. Aspek-aspek yang ditelaah dan dinilai, antara lain komponen RPP yang meliputi identitas RPP yang terdiri dari Nama sekolah, Mata Pelajaran, Kelas­, Semester, Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, Indikator dan Alokasi Waktu hanya dicek kembali/ditelaah ulang; merumuskan tujuan pembelajaran ditelaah ulang; menentukan materi pembelajaran ditelaah ulang; menentukan metode pembelajaran, apakah sudah menggunakan metode yang bervariasi dan sesuai dengan indikator yang telah dirumuskan dan materi yang telah dikembagkan; menetapkan kegiatan pembelajaran, diutamakan telaah pada kegiatan inti, apakah sudah menggambarkan kreativitas dan keaktifan siswa atau belum sehingga siswa tertarik dan tertantang, apakah sudah tergambar pemanfaatan media atau belum. Sedangkan kegiatan pendahuluan dan kegiatan penutup hanya diamati ulang; memilih sumber belajar ditelaah ulang; menentukan penilaian, ditelaah apakah penilaian disusun sesuai dengan indikator; penerapan di kelas diamati ulang

Dari hasil penilaian melalui telaah RPP yang telah diperbaiki dan penerapannya di kelas, dari 4 orang guru diperoleh hasil masing-masing 92, 87, 91, dan 90 (hasil telaah terlampir). Dari 4 guru, komponen kegiatan pembelajaran masih perlu sedikit peningkatan, terutama dalam kegiatan inti. Kegiatan inti dalam RPP ini sudah menggambarkan kegiatan siswa yang menarik tetapi kurang bervariasi. Selanjutnya komponen alat/media dan sumber bahan, pada komponen ini sudah nampak pemanfaatan media/alat pembelajaran. Sedangkan komponen-komponen yang lain sudah cukup baik. 

Sikap dan pendapat guru selama tindakan penelitian melalui hasil kuesioner terdapat 36,11% sangat setuju, 47,22% setuju, dan 16,67% ragu-ragu. Jadi setelah diberikan tindakan siklus II terdapat perubahan sikap para guru bahasa Inggris di sekolah binaan meningkat menjadi 83,33% setuju terhadap pembimbingan individu. Sedangkan dari hasil wawancara dengan guru bahwa dalam menyusun RPP mereka sudah merasa mendapatkan gambaran yang jelas untuk menyusun dan mengembangkannya. Para guru juga mempunyai gambaran dalam memilih dan memanfaatkan media/alat pembelajaran. Walaupun masih ada yang menjadi kendala dalam mengadakan alat/media pembelajaran yang memerlukan dana. Namun mereka akan berusaha untuk mencari alternatif alat/media yang lebih sederhana dan murah tanpa mengurangi hakikat dan fungsi dari media/alat pembelajaran.  

Setelah penulis melakukan analisis data dari penilaian dan pengamatan dengan hasil yang sangat baik, maka penulis menghentikan penelitian pada siklus II karena hasil yang diperoleh sudah sangat baik.

 

Hasil dan Pembahasan tiap Siklus dan Antarsiklus

Sudah disebutkan bahwa dalam kondisi awal hasil telaah (RPP) dari 4 guru bahasa Inggris di 4 sekolah binaan dalam menyusun RPP adalah 48.

Setelah guru diberi bimbingan penyusunan dan pengembangan RPP oleh pengawas sekolah secara individu dengan melakukan 2 siklus, pada siklus  memperoleh hasil siklus I masing-masing 81, 76, 80, dan 76 dengan nilai rata-rata 78,25. Hal ini menunjukkan peningkatan yang signifikan setelah diberikan bimbingan secara individu.

Selanjutnya pengamatan, pengawas sekolah mengamati guru dalam menerapkan rencana pembelajarannya di kelas. Penulis mengamati perhatian siswa dan mencatat hal-hal yang perlu disampaikan dalam perbaikan RPP berikutnya. Dan dari hasil wawancara dengan guru bahwa dalam menyusun RPP mereka merasa terbantu dalam menyusun suatu RPP.  Para guru memiliki gambaran dalam menjabarkan KD menjadi indikator, mengembangkan metode yang bervariasi, memanfaatkan media/alat pembelajaran, mengembangkan kegiatan pembelajaran (pendahuluan, inti, dan penutup), serta mengembangkan instumen penilaian.

Setelah diberi tindakan pada siklus II. Dari hasil telaah untuk penyusunan dan pengembagan rencana pelaksanaan pembelajaran diperoleh nilai rata 90. Hasil ini sangat memuaskan. Para guru bahasa Inggris di 4 Sekolah binaan binaan dapat dikatakan mampu menyusun perencanaan pembelajaran setelah diberikan bimbingan individu.

Dari hasil wawancara dengan guru bahwa dalam menyusun RPP mereka merasa faham dan mampu menyusun satu rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) untuk kompetensi dasar – kompetensi dasar selanjutnya.  Para guru sudah memiliki gambaran dalam menjabarkan KD menjadi indikator, mengembangkan metode yang bervariasi, memanfaatkan media/alat pembelajaran, mengembangkan kegiatan pembelajaran (pendahuluan, inti, dan penutup), serta mengembangkan instumen penilaian.

Table 1. Hasil telaah rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dari pra tindakan hingga akhir siklus II.

Kode Guru

Pra Siklus

Siklus I

Siklus II

1

69

81

92

2

26

76

87

3

47

80

91

4

49

76

90

Rata-Rata

47,75

78,25

90

 

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat peningkatan nilai penyusunan dan pengembangan RPP oleh masing-masing guru bahasa Inggris melalui pembimbingan individu. Refleksi yang diperoleh dari siklus I sangat penting untuk mengetahui respon serta permasalahan atau kesulitan yang dihadapi oleh guru selama tindakan. Tindakan pada siklus II berdasarkan hasil refleksi siklus I ternyata dapat meningkatkan kemampuan guru dalam penyusunan dan pengembangan RPP.

Sedangkan hasil analisis kuesioner, sikap positif guru terhadap model pembimbingan penyusunan dan pengembangan RPP secara individu sangat signifikan. Grafik berikut menunjukkan perkembangan respon positif dengan model pembimbingan individu dari pra siklus hingga siklus II

Grafik 1. Prosentase Hasil Kuesioner Guru

image

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Prosentase kuesioner sikap positif guru pada pra siklus diperoleh 25,00% setuju terhadap model pembimbingan individu. Hal ini berarti bahwa guru kurang atau tidak menunjukkan respon positif terhadap pembimbingan individu. Mereka menganggap bahwa menyusun RPP tidak perlu bertele-tele yang penting persyaratan administrasi ada. Namun setelah tindakan siklus I dan II  melalui model pembimbingan individu respon positif mereka meningkat menjadi 66,67%. Dan setelah diberikan penguatan pada siklus II, meningkat menjadi 83,33 %. Ini menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan.

Hasil pengamatan antar siklus juga menunjukkan bahwa guru tidak lagi enggan untuk menghadap/ meminta pengawas untuk membimbing penyusunan RPP secara individu. Para guru semakin percaya diri dan tidak takut dalam berkonsultasi dengan pengawas. Secara umum tiap guru sudah dapat menyusun RPP secara mandiri. Penyusunan RPP meningkat dengan baik mulai dari siklus I hingga siklus II dengan kata lain setelah dilakukan tindakan pembimbingan individu.

 

PENUTUP

Kesimpulan

Pelaksanaan penelitian tindakan sekolah tentang penyusunan pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang dilaksanakan di empat sekolah binaan, yakni SMA Negeri 1 Bulakamba, SMA Negeri 1 Tanjung, SMA Negeri 1 Losari, dan SMA Negeri 1 Larangan Kabupaten Brebes dengan menggunakan pembimbingan individu ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Setelah diberikan bimbingan individu dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dalam 2 siklus para guru bahasa inggris menunjukkan peningkatan kemampuan menyusun RPP yang signifikan.

Dari hasil pelaksanaan tindakan, analisis, dan refleksi atas penerapan model pembimbingan individu dapat disimpulkan beberapa temuan sebagai berikut: (1) Model pembimbingan individu dapat membantu meningkatkan kemampuan guru  dalam menyusun RPP. Dari rangkaian tindakan pembimbingan yang telah dilaksanakan secara empirik tampak adanya perubahan yang berkelanjutan dalam penyusunan RPP. Misalnya, kemampuan guru menjabarkan kompetensi dasar menjadi indikator pencapaian; kemampuan guru merumuskan tujuan pembelajaran; mengembangkan kegiatan pembelajaran terutama dalam kegiatan pendahuluan dan kegiatan inti; menentukan metode pembelajaran yang bervariasi yang sesuai dengan karakteristik siswa dan indikator pencapaian; menentukan media/alat pembelajaran yang sesuai; memilih sumber belajar; dan membuat instrumen penilaian. Dengan demikian pembimbingan individu tidak hanya mengarah kepada keterampilan guru dalam menyusun RPP tetapi juga pengetahuan mengembangkan RPP; (2) Model pembimbingan individu dapat memberikan keleluasaan  guru untuk menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan fokus yang dibimbingkan kepadanya.

 

Saran

Dalam rangka memperbaiki pelaksanaan tindakan berikutnya dan meningkatkan kemampuan guru dalam merencanakan maupun melaksanakan pembelajaran sebaiknya menerapkan model pembimbingan individu.

Model pembimbingan individu merupakan salah satu alternatif yang perlu dikembangkan untuk meningkatkan mutu pembelajaran guru. Untuk keberhasilan pengembangan model ini perlu didukung oleh pandangan, kesanggupan dan kesediaan kepala sekolah dan atau pengawas untuk melakukan perubahan-perubahan dalam pola dan model pembimbingan dan pembinaan yang selama ini dipraktikkan dan dianggap sebagai suatu kerangka konseptual yang baku.  

 

DAFTAR PUSTAKA

A.M. Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, 1996

 

Brown, H. Douglas. 2000. Principles of language Learning and Teaching. New York: Logman, Inc.

 

I Nyoman S. Degeng. Teori Pembelajaran Dan pembelajaran, 2001.

 

Permendiknas No 22 tahun 2006. Standar Isi. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional

 

Permendiknas No. 16 Tahun 2007. Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional

 

Permendiknas No. 12 tahun 2007. Standar Kualifikasi dan Kompetensi Pengawas Sekolah. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional

 

Permendiknas No. 41 tahun 2007 tentang standar proses pembelajaran

 

Rooijakkers, Ad. (1991). Mengajar Dengan Sukses, Petunjuk untuk Merencanakan dan Menyampaikan Pengajaran, Jakarta: PT. Gramedia.

 

Udin S. Winataputra. (2003). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.

 

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen

 

 



*) Pengawas SMA/SMK Kabupaten Brebes