Anda Berada di halaman : Berita » PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU MATA PELAJARAN BAHASA INGGRIS DALAM MENYUSUN BUTIR SOAL PILIHAN GANDA MEL
 

Layanan Utama

Berita Foto

<a href='http://lppks.kemdikbud.go.id/berita_foto/129'>Pembukaan Diklat IN 1 Prov. Sumatera Barat</a> <a href='http://lppks.kemdikbud.go.id/berita_foto/130'>Peserta Diklat IN 1 Prov. Sumatera Barat</a> <a href='http://lppks.kemdikbud.go.id/berita_foto/131'>Pembukaan Diklat In Service Learning-2 Program PKB KS/M SMP Prov. Jatim Peserta Th. 2014</a> <a href='http://lppks.kemdikbud.go.id/berita_foto/133'>Peserta IN 1 Prov. Riau mengikuti Kegiatan Pembukaan</a> <a href='http://lppks.kemdikbud.go.id/berita_foto/134'>Kasi SI LPPKS menghadiri Pembukaan Kegiatan Diklat In 1 Prov. Riau</a>
Prev Next

Polling

Seberapa penting pelaksanaan Diklat Kepala Sekolah Pembelajar yang merupakan tindak lanjut hasil Uji Kompetensi Kepala Sekolah dalam upaya meningkatkan Kompetensi Kepala Sekolah?





PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU MATA PELAJARAN BAHASA INGGRIS DALAM MENYUSUN BUTIR SOAL PILIHAN GANDA MEL
Kategori : Jurnal Oleh : administrator Ditulis : Rabu, 11 Maret 2015 Hits : 1417

PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU MATA PELAJARAN BAHASA INGGRIS DALAM MENYUSUN BUTIR SOAL PILIHAN GANDA MELALUI  BIMBINGAN KELOMPOK DI SEKOLAH BINAAN DI KABUPATEN BREBES

TAHUN 2012

 

Kasno *)

Kasno_bbs@yahoo.com

 

Abstrak: rumusan masalah penelitian ini adalah apakah pembimbingan kelompok dari pengawas dapat meningkatkan kemampuan guru Bahasa Inggris dalam menyusun butir soal pilihan ganda. Penelitian ini dilaksanakan 2 siklus. Hasil yang diperoleh adanya peningkatan kemampuan guru Bahasa Inggris dalam menyusun butir soal pilihan ganda. Hasil siklus 1, yaitu rata-rata skor 84 dan pada hasil siklus 2 meningkat 94.

Kata kunci: pembimbingan kelompok, soal pilihan ganda, kemampuan guru

 

Abstract: this research was aimed at increasing the English teachers’ abitility in developing multiple choice item tests through group guidance. This research used 2 cycles. There was an increasing the English teachers’ abitility in developing multiple choice item test. The average score was 84 in cycle 1 and increased into 94 in cycle 2

 Key words: group guidance, multiple choice item, English teachers’ ability

 

 

PENDAHULUAN

Penilaian merupakan bagian yang penting dalam pembelajaran. Dengan melakukan penilaian, pendidik sebagai pengelola kegiatan pembelajaran dapat mengetahui kemampuan yang dimiliki peserta didik, ketepatan metode mengajar yang digunakan, dan keberhasilan peserta didik dalam meraih kompetensi yang telah ditetapkan. Berdasarkan hasil penilaian, pendidik dapat mengambil keputusan secara tepat untuk menentukan langkah yang harus dilakukan selanjutnya. Hasil penilaian juga dapat memberikan motivasi kepada peserta didik untuk berprestasi lebih baik, apakah ulangan harian, ulangan tengah semester, maupun ulangan kenaikan kelas.

Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan terhadap instrumen-instrumen penilaian pencapaian kompetensi, yakni butir-butir soal khususnya mata pelajaran Bahasa Inggris di sekolah binaan saat melaksanakan pengawasan akademik, ditemukan bahwa  penyusunan tes dan pengembangan butir soal masih banyak yang tidak valid dan reliabel. Dalam mengadakan ulangan harian, ulangan tengah semester, dan ulangan semester, guru-guru bahasa Inggris hanya menyalin soal-soal dari LKS (lembar kerja siswa) dan atau menyalin dari buku-buku lainnya tanpa memperhatikan apakah soal-soal sesuai dengan indikator-indikator dan kompetensi dasar yang telah ditentukan atau tidak. Mereka menyusun tes dan mengembangkan butir soal terkesan asal-asalan tidak sesuai dengan indikator-indikator dan kompetensi dasar yang telah ditentukan.

Dan juga beberapa guru dalam mengembangkan tes belum menggunakan langkah-langkah yang semestinya dilakukan, seperti (1) menentukan tujuan penilaian, (2) menentukan kompetensi yang diujikan (3) menentukan materi penting pendukung kompetensi (urgensi, kontinuitas, relevansi, keterpakaian), (4) menentukan jenis tes yang tepat (tertulis, lisan, perbuatan), (5) menyusun kisi-kisi, butir soal, dan pedoman penskoran, (6) melakukan telaah butir soal.

Hal ini dibuktikan pula dengan adanya: butir soal yang masih banyak yang tidak sesuai dengan indikator; materi yang ditanyakan ada yang tidak sesuai dengan kompetensi (urgensi, relevasi, kontinuitas, keterpakaian sehari-hari tinggi); isi materi yang ditanyakan ada yang tidak sesuai dengan jenjang jenis sekolah atau tingkat kelas; tabel, gambar, grafik, peta, atau yang sejenisnya masih banyak yang disajikan dengan tidak jelas keterbacaannya; ada pokok soal yang masih memberi petunjuk pada kunci jawaban; masih banyak yang menggunakan pernyataan yang bersifat negatif ganda; ada butir soal yang panjang pilihan jawaban tidak relatif sama; masih banyak yang menuliskan pilihan jawaban menggunakan pernyataan "semua jawaban di atas salah/benar" dan sejenisnya; masih ada pilihan jawaban yang berbentuk angka/waktu tidak disusun berdasarkan urutan besar kecilnya angka atau kronologisnya; dan sebagainya

Melihat kenyataan ini penulis selaku pengawas berkeinginan untuk membantu guru mata pelajaran bahasa Inggris di sekolah binaan dalam membuat butir soal-- khususnya butir soal pilihan ganda--yang valid dan reliabel melalui bimbingan kelompok.

Masalah utama dalam penelitian ini adalah: Apakah melalui bimbingan kelompok dari pengawas dapat meningkatkan kemampuan guru Bahasa Inggris dalam membuat butir soal pilihan ganda yang valid dan reliabel? Untuk itu bagaimana proses pelaksanaan bimbingan kelompok yang diberikan kepada guru-guru Bahasa Inggris di sekolah binaan dan bagaimana kemampuan guru Bahasa Inggris di sekolah binaan membuat butir soal pilihan ganda yang valid dan reliabel setelah mengikuti bimbingan kelompok

Adapun tujuan utama penelitian tindakan ini adalah untuk mengetahui keefektifan bimbingan kelompok dalam meningkatkan kemampuan guru mata pelajaran Bahasa Inggris di sekolah binaan dalam membuat butir soal pilihan ganda yang valid dan reliabel. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pelaksanaan bimbingan kelompok dan untuk mengetahui kemampuan guru-guru Bahasa Inggris di sekolah binaan dalam membuat butir soal pilihan ganda yang valid dan reliabel setelah mengikuti bimbingan kelompok.

Sedangkan manfaat penelitian tindakan ini adalah secara teoritis diharapkan dapat memperkaya khasanah pengembangan keilmuan dan dapat dijadikan masukan untuk kajian lebih lanjut bahwa bimbingan kelompok pengawas sekolah sangat membantu untuk memberikan bantuan kepada guru dalam membuat butir soal pilihan ganda yang valid dan reliabel. Dan juga diharapkan guru memiliki kemampuan membuat butir soal pilihan ganda yang valid dan reliabel dan pengawas mendapatkan pengalaman meningkatkan kemampuan guru dalam membuat butir soal pilihan ganda yang valid dan reliabel melalui bimbingan kelompok serta sekolah memiliki guru-guru bahasa Inggris yang memiliki kemampuan membuat butir soal pilihan ganda dalam meningkatkan mutu pendidikan di sekolah yang menjadi tanggung jawabnya.

KAJIAN PUSTAKA

Butir Soal yang Valid dan Reliabel

Jenis dan bentuk tes meliputi tes lisan, tertulis (bentuk uraian, pilihan ganda, jawaban singkat, isian, menjodohkan, benar-salah), dan tes perbuatan yang meliputi: kinerja (performance), penugasan (project) dan hasil karya (product).

Prinsip-prinsip penyusunan butir soal pilihan ganda yang valid dan reliabel  antara lain (1) valid--mengujikan materi/kompetensi yang tepat (UKRK + Measurable); (2) reliabel--Konsisten hasil pengukurannya; (3) fair--Jujur [tingkat kesukaran soal, tidak menjebak, materi yang diujikan sesuai dengan jenis tes dan bentuk soal yang digunakan, menetapkan penskoran yang tepat], seimbang [materi yang diujikan = materi yang diajarkan, waktu untuk mengerjakan soal sesuai, mengurutkan soal dari yang mudah – sukar, mengurutkan level kognitif dari yang rendah – tinggi, mengurutkan/mengelompokkan jenis bentuk soal yang digunakan], 0rganisasi [jelas petunjuk dan perintahnya, urutan materi dalam tes =  urutan materi yang diajarkan, lay out soal jelas dan mudah dibaca, berpenampilan profesional], transparan        [Jelas apa yang diujikan, tugasnya, dan kriteria penskorannya], autentik [harus hasil kerja peserta didik dan sesuai dengan dunia riil/nyata.

Langkah-langkah pengembangan tes, antara lain (1) menentukan tujuan penilaian; (2) menentukan kompetensi yang diujikan; (3) menentukan materi penting pendukung kompetensi [urgensi, kontinuitas, relevansi, keterpakaian]; (4) menentukan jenis tes yang tepat [tertulis, lisan, perbuatan]; (5) menyusun kisi-kisi, butir soal, dan pedoman penskoran; (6) melakukan telaah butir soal.

Penentuan materi penting dilakukan dengan memperhatikan kriteria, antara lain (1) urgensi, yaitu materi secara teoritis mutlak harus dikuasai oleh peserta didik; (2) kontinuitas, yaitu materi lanjutan yang merupakan pendalaman dari satu atau lebih materi yang sudah dipelajari sebelumnya; (3) relevansi, yaitu materi yang diperlukan untuk mempelajari atau memahami, mata pelajaran lain; (4) keterpakaian, yaitu rnateri yang memiliki nilai terapan tinggi dalam kehidupan sehari­-hari.

Sebelum menyusun kisi-kisi dan butir soal perlu ditentukan jumlah soal setiap kompetensi dasar dan penyebaran soalnya. Kisi-kisi  merupakan deskripsi kompetensi dan materi yang akan diujikan. Tujuan penyusunan kisi-kisi adalah untuk menentukan ruang lingkup dan sebagai petunjuk dalam menulis soal.

Menulis soal bentuk pilihan ganda sangat diperlukan keterampilan dan ketelitian. Hal yang paling sulit dilakukan dalam menulis soal bentuk pilihan ganda adalah menuliskan pengecohnya. Pengecoh yang baik adalah pengecoh yang tingkat kerumitan atau tingkat kesederhanaan, serta panjang-pendeknya relatif sama dengan kunci jawaban. Untuk memudahkan dalam penulisan soal bentuk pilihan ganda, perlu mengikuti langkah-langkah seperti: (1) menuliskan pokok soalnya; (2) langkah kedua menuliskan kunci jawabannya; (3) langkah ketiga menuliskan pengecohnya.

Kaidah penulisan soal pilihan ganda adalah (1) materi : soal harus sesuai dengan indikator, pengecoh harus bertungsi, setiap soal harus mempunyai satu jawaban yang benar, materi yang ditanyakan harus sesuai dengan jenjang jenis sekolah atau tingkat kelas; (2) konstruksi : (a) pokok soal harus dirumuskan secara jelas dan tegas, (b) rumusan pokok soal dan pilihan jawaban harus merupakan pernyataan yang diperlukan saja, (c) pokok soal jangan memberi petunjuk ke arah jawaban yang benar, (d) pokok soal jangan mengandung pernyataan yang bersifat negatif ganda, (e) pilihan jawaban harus homogen dan logis ditinjau dari segi materi, (f) panjang rumusan pilihan jawaban harus relatif sama, (g) pilihan jawaban jangan mengandung pernyataan “Semua pilihan jawaban di atas salah" atau "Semua pilihan jawaban di atas benar", (h) pilihan jawaban yang berbentuk angka atau waktu harus disusun berdasarkan urutan besar kecilnya nilai angka atau kronologis, (i) gambar, grafik, tabel, diagram, wacana, dan sejenisnya yang terdapat pada soal harus jelas dan berfungsi, (j) rumusan pokok soal tidak menggunakan ungkapan atau kata yang bermakna tidak pasti seperti: sebaiknya, umumnya, kadang-kadang, (k) butir soal jangan bergantung pada jawaban soal sebelumnya; (3) bahasa/budaya : (a) setiap soal harus menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia; (b) bahasa yang digunakan harus komunikatif;(c) pilihan jawaban jangan yang mengulang kata/frase yang bukan merupakan satu kesatuan pengertian.

Bimbingan kelompok

Menurut Tohirin (2007: 170) menyebutkan bahwa definisi bimbingan kelompok adalah suatu cara memberikan bantuan kepada individu melalui kegiatan kelompok. Dalam bimbingan kelompok merupakan sarana untuk menunjang perkembangan optimal masing-masing individu, yang diharapkan dapat mengambil manfaat dari pengalaman pendidikan ini bagi dirinya sendiri (dalam Winkel & Sri Hastuti, 2004: 565).

Tujuan bimbingan adalah perkembangan optimal. Perkembangan yang sesuai dengan potensi dan sistem nilai tentang kehidupan yang baik dan benar. Ditandai dengan kondisi dinamik karena individu berada dalam menghadapi lingkungan yang berubah dan berkembang.

Kerangka Berfikir

Penilaian merupakan bagian yang penting dalam pembelajaran. Dengan melakukan penilaian, pendidik sebagai pengelola kegiatan pembelajaran dapat mengetahui kemampuan yang dimiliki peserta didik.

Berdasarkan hasil penilaian, pendidik dapat mengambil keputusan secara tepat untuk menentukan langkah yang harus dilakukan selanjutnya. Hasil penilaian juga dapat memberikan motivasi kepada peserta didik untuk berprestasi lebih baik

Pada kenyataannya dalam melaksanakan penilaian, banyak guru yang masih mengalami kesulitan untuk menyusun tes dan mengembangkan butir soal yang valid dan reliabel. Mereka menyusun tes dan mengembangkan butir soal terkesan asal-asalan tidak sesuai dengan indikator-indikator dan kompetensi dasar yang telah ditentukan.

Padahal untuk mengetahui tingkat pencapaian kompetensi, guru harus dapat menyusun kisi-kisi dengan benar dan mengembangkan butir soal yang valid dan reliabel. Untuk pembuatan kisi-kisi dan butir soal yang valid dan reliabel, maka dibutuhkan orang lain yang ahli dalam bidang ini.

Salah satu tugas pengawas adalah membimbing guru yang menjadi binaannya. Oleh karena itu, penulis selaku pengawas berkeinginan untuk membantu guru mata pelajaran bahasa Inggris di sekolah binaan untuk membuat butir soal-- khususnya butir soal pilihan ganda--yang valid dan reliabel melalui bimbingan kelompok dengan pendekatan direktif.

METODE PENELITIAN

Setting Penelitian

Penelitian tindakan sekolah ini dilaksanakan di sekolah binaan, yakni SMK Muhammadiyah Larangan, SMK Nurul Islam Larangan, SMK Ma’arif NU 3 Larangan, dan SMK Mustamidiyah Larangan kabupaten Brebes. Jumlah guru 9 orang yang tersebar di empat sekolah, yakni SMK Muhammadiyah Larangan 1 orang guru, SMK Nurul Islam Larangan 6 orang guru, SMK Ma’arif NU 3 Larangan 1 orang guru, dan SMK Mustamidiyah Larangan 1 orang guru.

Sedangkan pelaksanaan tindakan dilakukan selama 3 bulan, yaitu tahap persiapan minggu ke-2 sampai dengan minggu ke-3 September 2012, siklus I minggu ke-4 September sampai dengan minggu ke-1 Oktober 2012, siklus II minggu ke-2 Oktober sampai dengan minggu ke-3 Oktober 2012, dan analisis data dan penyusunan pelaporan dilaksanakan minggu ke-4 Oktober sampai dengan minggu ke-2 November 2012.

Subjek Penelitian

Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah guru-guru bahasa Inggris di sekolah binaan, yaitu SMK Muhammadiyah Larangan 1 orang guru, SMK Nurul Islam Larangan 6 orang guru, SMK Ma’arif NU 3 Larangan 1 orang guru, dan SMK Mustamidiyah Larangan  1 orang guru tahun pelajaran 2012/2013.

Sumber Data

Sumber data dalam penulisan ini adalah (1) Dokumen butir soal pilihan ganda; (2) Kuesioner guru untuk mengetahui respon mereka terhadap penyusunan butir soal melalui bimbingan kelompok; (3) Wawancara oleh kepala sekolah kepada guru bahasa Inggris untuk mengetahui kesan dan pendapat mereka selama proses penelitian.

Teknik Pengumpulan data

Adapun teknik pengumpulan data melalui (1) telaah dokumen butir soal pilihan ganda yang dibuat guru; (2) Pemberian kuesioner sebelum dan sesudah diberikan tindakan; dan (3) Wawancara 

Analisis Data

Sedangkan analisis data adalah (1) hasil telaah dokumen butir soal pilihan ganda buatan guru dianalisis secara deskriptif; (2) Kuesioner sebelum dan sesudah tindakan masing-masing siklus. Hasilnya dianalisis secara deskriptif; dan (3) Hasil wawancara juga dianalisis secara deskriptif.

Indikator Kinerja

Indikator keberhasilan dari pembimbingan butir soal pilihan ganda adalah >85% guru menulis butir soal sesuai dengan indikator. Materi : (1) menuliskan pilihan jawaban homogen dan logis; (2) menentukan setiap soal hanya mempunyai satu jawaban yang benar; (3) merumuskan pokok soal secara jelas dan tegas; (4) menuliskan rumusan pokok soal dan pilihan jawaban merupakan pernyataan yang diperlukan saja; (5) menuliskan pokok soal yang tidak memberi petunjuk ke arah jawaban yang benar; (6) menuliskan pokok soal yang mengandung pernyataan yang bersifat negatif ganda.; (7) membuat pilihan jawaban yang homogen dan logis ditinjau dari segi materi; (8) menuliskan Gambar, grafik, tabel, diagram, atau sejenisnya jelas dan berfungsi; (9) membuat panjang rumusan pilihan jawaban yang relatif sama; (10) membuat pilihan jawaban yang tidak mengandung pernyataan “Semua pilihan jawaban di atas salah" atau "Semua pilihan jawaban di atas benar"; (11) menyusun pilihan jawaban yang berbentuk angka atau waktu disusun berdasarkan urutan besar kecilnya nilai angka atau kronologis; (12) membuat butir soal tidak bergantung pada jawaban soal sebelumnya; (13) menuliskan rumusan pokok soal tidak menggunakan ungkapan atau kata yang bermakna tidak pasti seperti: sebaiknya, umumnya, kadang-kadang; (14) menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia setiap soal; (15) menggunakan bahasa yang komunikatif; (16) menuliskan Pilihan jawaban tidak mengulang kata/kelompok kata yang sama, kecuali merupakan satu kesatuan pengertian; (17) mempunyai pikiran, perasaan, atau pendapat yang positif terhadap bimbingan penyusunan butir soal yang valid dan reliabel oleh pengawas sekolah (hasil kuesioner); (18) antusias dan aktif dalam menerima bimbingan penyusunan butir soal yang valid dan reliabel (hasil wawancara).

Prosedur Penelitian

Tahapan penelitian tindakan sekolah ini terdiri atas dua tahap yaitu, perencanaan tindakan dan pelaksanaan tindakan. Pada tahap pelaksanaan tindakan terdapat serangkaian kegiatan yang dilakukan secara daur ulang mulai dari tahap orientasi  perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, refleksi, dan revisi (Mc. Niff, 1992; Kemmis, 1982; Hopkins, 1993).

Rancangan dasar penelitian tindakan sekolah yang dimaksud, secara ringkas penulis sajikan secara skematik dalam gambar berikut: Planning / perencanaan. Pada tahap planning penulis melakukan beberapa kegiatan seperti mencari referensi yang berkaitan dengan pedoman penulisan butir soal, kinerja guru, tupoksi guru. Dalam tahap perencanaan ini penulis juga melakukan kegiatan-kegiatan seperti berikut: (1) Pembuatan jadwal penelitian; (2) Pedoman telaah dokumen butir soal yang valid dan reliabel; (3) Pembuatan pertanyaan untuk kuesioner ; (4) Pembuatan pedoman wawancara

Acting/Tindakan. Pengawas sekolah (penulis) dengan guru bahasa Inggris di sekolah binaan membahas tentang hal-hal yang akan dilakukan dalam penelitian tindakan. Yang meliputi (a) menentukan kemampuan apa yang akan ditingkatkan, (b) menentukan kegiatan apa yang akan dilakukan untuk meningkatkan guru tersebut, (c) menyiapkan sumber belajar/materi bimbingan, seperti hand out, pedoman penyusunan butir soal yang valid dan reliabel, dan media lain yang mendukung kegiatan bimbingan, (d) mengembangkan kriteria penilaian butir soal pilihan ganda yang valid dan reliabel.

Langkah berikutnya adalah pengawas sekolah (penulis) menawarkan model bimbingan kelompok dengan pendekatan direktif untuk menyusun butir soal pilihan ganda yang valid dan reliabel, yakni pembimbingan yang dilakukan dengan cara pengawas datang ke tempat (salah satu sekolah binaan) yang telah ditentukan untuk pelaksanaan bimbingan kelompok untuk membimbing guru mata pelajaran bahasa Inggris pada hari atau jam yang tidak mengganggu kegiatan pembelajaran.

Pada langkah sebelumnya pengawas (penulis) melihat butir-butir soal dari para guru bahasa Inggris. Butir-butir soal diidentifikasi letak kekurangan dan kelemahan dan yang perlu ditingkatkan dari masing-masing butir-butir soal yang dimiliki guru bahasa Inggris.

Kemudian pada siklus pertama pengawas memberikan bimbingan penyusunan butir soal yang valid dan reliabel melalui bimbingan kelompok mulai dari (1) menentukan tujuan penilaian, (2) menentukan kompetensi yang diujikan (3) menentukan materi penting pendukung kompetensi (urgensi, kontinuitas, relevansi, keterpakaian), (4) menentukan jenis tes yang tepat (tertulis, lisan, perbuatan), (5) menyusun kisi-kisi, butir soal, dan pedoman penskoran, (6) melakukan telaah butir soal. Pengawas (penulis) menyampaikan materi yang berupa hand out baik power point maupun word. Bimbingan membutuhkan waktu 2 – 3 jam (antara 120 – 180 menit). Setelah diberikan bimbingan, masing-masing guru bahasa Inggris diminta untuk menyusun butir soal pilihan ganda dengan diberikan kompetensi dasar, indikator, dan materi. Pengawas membimbingnya secara langsung kemudian dipresentasikan di depan teman-teman dan anggota lainnya mengamati dan membuat catatan sebagai masukan untuk perbaikan demikian juga pengawas.

Selanjutnya pengawas memberikan kompetensi dasar, indikator, dan materi yang berbeda untuk dibuat butir soal pilihan ganda di rumah dan pada minggu berikutnya pengawas akan datang kembali di tempat yang ditentukan untuk mengamati butir soal yang telah dibuat dan selanjutnya dipresentasikan dan didiskusikan lagi, penulis mengamati dan membuat catatan-catatan untuk hal-hal yang perlu perbaikan untuk siklus berikutnya.

Tindakan pada siklus kedua bimbingan kelompok untuk menyempurnakan butir-butir soal berdasarkan temuan-temuan yang dicatat oleh pengawas ketika melaksanakan penelaahan butir soal yang telah dibuat oleh guru.

Observation/Pengamatan. Pengamatan perkembangan kemampuan guru dilakukan pada setiap fase treatment, siklus pertama dan kedua. Data-data yang ada dianalisis secara deskriptif.

Refelction/Refleksi. Setelah mendapatkan gambaran secara rinci tentang keberhasilan dan kendala yang dialami dalam penyusunan butir soal pilihan ganda ini, jika hasil yang diperoleh pada siklus pertama belum memuaskan, maka penulis melanjutkan tindakan siklus berikutnya dengan mengulang dari tahap perencanaan.

HASIL PENELITIAN

Kondisi awal sebelum diberi bimbingan melalui bimbingan kelompok ini adalah kemampuan guru mata pelajaran bahasa Inggris sangat rendah dalam menyusun butir soal yang valid dan reliabel. Dalam menyusun butir-butir soal ulangan harian, ulangan tengah semester, dan ulangan semester, guru-guru bahasa Inggris hanya menyalin soal-soal dari LKS (lembar kerja siswa) dan atau menyalin dari buku-buku lainnya tanpa memperhatikan apakah soal-soal sesuai dengan indikator-indikator dan kompetensi dasar yang telah ditentukan atau tidak.

Mereka menyusun tes dan mengembangkan butir soal terkesan asal-asalan tidak sesuai dengan indikator-indikator dan kompetensi dasar yang telah ditentukan. Dalam  mengembangkan tes, guru belum menggunakan langkah-langkah yang semestinya dilakukan, seperti (1) menentukan tujuan penilaian, (2) menentukan kompetensi yang diujikan (3) menentukan materi penting pendukung kompetensi (urgensi, kontinuitas, relevansi, keterpakaian), (4) menentukan jenis tes yang tepat (tertulis, lisan, perbuatan), (5) menyusun kisi-kisi, butir soal, dan pedoman penskoran, (6) melakukan telaah butir soal.

Menurut pengamatan pengawas (penulis), guru mata pelajaran bahasa Inggris SMA di sekolah binaan yang menyusun butir soal yang valid dan reliabel hanya sekitar 56%. Berdasarkan telaah butir soal pilihan ganda yang dibuat guru pra siklus berdasarkan kriteria penilaian yang telah ditentukan oleh penulis, dari masing-masing guru bahasa Inggris diperoleh nilai maisng-masing 54, 42, 45, 72, 53, 53,51, 78, dan 49.

Rata-rata hasil kuesioner pra siklus yang diberikan kepada guru, guru yang memiliki pemahaman dalam menyusun butir soal pilihan ganda yang valid dan reliabel ada 60% dari jumlah guru bahasa Inggris dari empat sekolah binaan. Sedangkan hasil kuesioner yang berkaitan dengan bimbingan kelompok terdapat 4,94% sangat setuju, 22,22% setuju, 41,98% ragu-ragu, dan 30,86% kurang setuju..

Deskripsi siklus I

Perencanaan. Dalam tahap perencanaan ini penulis melakukan kegiatan-kegiatan seperti berikut: (1) Pembuatan jadwal penelitian; (2) Pedoman penyusunan soal yang baik (valid dan reliabel); (3) Pedoman telaah dokumen butir soal pilihan ganda yang valid dan reliabel; (4) Pembuatan pertanyaan untuk kuesioner; (5) Pembuatan pedoman wawancara

Implementasi Tindakan. Dalam tahap implementasi tindakan ini penulis melakukan kegiatan-kegiatan seperti berikut: (1) Pengawas sekolah menjelaskan langkah-langkah minimal dari penyusunan butir soal pilihan ganda yang valid dan reliabel, dimulai dari (a) menentukan tujuan penilaian, (b) menentukan kompetensi yang diujikan (c) menentukan materi penting pendukung kompetensi (urgensi, kontinuitas, relevansi, keterpakaian), (d) menentukan jenis tes yang tepat (tertulis, lisan, perbuatan), (e) menyusun kisi-kisi, butir soal, dan pedoman penskoran, (f) melakukan telaah butir soal; (2) Pengawas sekolah meminta guru untuk mengisikan lembar butir soal pilihan ganda yang telah dipersiapkan sebagai latihan; (3) Pengawas sekolah meminta guru untuk menyusun lima butir soal pilihan ganda yang valid dan reliabel dengan diberi kompetensi dasar, indikator, dan materi untuk dikerjakan dalam waktu satu minggu; (4) Guru mempresentasikan butir soal pilihan ganda yang telah dibuat guru di rumah; (5) Penulis mengamati dan mencatat hal-hal yang perlu untuk perbaikan butir soal.

Observasi dan Evaluasi. Dalam tahap ini dilakukan pengamatan dan penilaian. Aspek-aspek yang diamati dan dinilai, antara lain sebagai berikut: (1) Komponen butir soal pilihan ganda yang valid dan reliabel; (2) Butir soal sesuai dengan indikator. Artinya soal harus menanyakan perilaku dan materi yang hendak diukur sesuai dengan rumusan indikator dalam kisi-kisi; (3) Materi yang ditanyakan sesuai dengan kompetensi; (4) Pilihan jawaban homogen dan logis; (5) Setiap soal hanya mempunyai satu jawaban yang benar. Artinya, satu soal hanya mempunyai satu kunci jawaban; (6) Pokok soal secara jelas dan tegas. Artinya, kemampuan/materi yang hendak diukur/ditanyakan harus jelas, tidak menimbulkan pengertian atau penafsiran yang berbeda dari yang dimaksudkan penulis. Setiap butir soal hanya mengandung satu persoalan/gagasan; (7) Rumusan pokok soal dan pilihan jawaban merupakan pernyataan yang diperlukan saja. Artinya apabila terdapat rumusan atau pernyataan yang sebetulnya tidak diperlukan, maka rumusan atau pernyataan itu dihilangkan saja: (8) Pokok soal yang tidak memberi petunjuk ke arah jawaban yang benar. Artinya, pada pokok soal tidak terdapat kata, kelompok kata, atau ungkapan yang dapat memberikan petunjuk ke arah jawaban yang benar; (9) Pokok soal yang mengandung pernyataan yang bersifat negatif ganda. Artinya, pada pokok soal tidak terdapat dua kata atau lebih yang mengandung arti negatif; (10) Pilihan jawaban yang homogen dan logis ditinjau dari segi materi; (11) Gambar, grafik, tabel, diagram, atau sejenisnya jelas dan berfungsi; (12) Panjang rumusan pilihan jawaban yang relatif sama; (13) Pilihan jawaban yang tidak mengandung pernyataan “Semua pilihan jawaban di atas salah" atau "Semua pilihan jawaban di atas benar"; (14) Pilihan jawaban yang berbentuk angka atau waktu disusun berdasarkan urutan besar kecilnya nilai angka atau kronologis; (15) Butir soal tidak bergantung pada jawaban soal sebelumnya; (16) Rumusan pokok soal tidak menggunakan ungkapan atau kata yang bermakna tidak pasti seperti: sebaiknya, umumnya, kadang-kadang; (17) Bahasa yang dipakai sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia setiap soal; (18) Bahasa yang digunakan komunikatif, sehingga pernyataannya mudah dimengerti warga belajar/peserta didik; (19) Pilihan jawaban tidak mengulang kata/kelompok kata yang sama, kecuali merupakan satu kesatuan pengertian

Dari hasil penilaian melalui telaah butir soal, dari 9 orang guru diperoleh hasil masing-masing 85, 86, 82, 88, 82, 82, 82, 92, dan 82.

Sikap dan pendapat guru selama tindakan penelitian melalui: (1) Wawancara dan kuesioner

Dari hasil kuesioner terdapat 8,64% sangat setuju, 64,20% setuju, dan 27,16% ragu-ragu menerima bimbingan pembuatan butir soal pilihan ganda melalui bimbingan kelompok. Jadi setelah diberikan tindakan siklus I terdapat perubahan sikap para guru bahasa Inggris di sekolah binaan meningkat menjadi 72,84% setuju pembuatan butir soal melalui bimbingan kelompok.

Sedangkan dari hasil wawancara dengan guru bahwa dalam menyusun butir soal pilihan ganda mereka mengalami kendala dalam pembuatan pengecoh pilihan jawaban yang berfungsi. Juga dalam merumuskan pokok soal yang jelas dan tegas, membuat rumusan pernyataan pokok soal yang diperlukan saja. Dan mereka juga masih mengalami kesulitan dalam pembuatan pilihan jawaban yang homogen dan logis ditinjau dari segi materi. Serta masih menuliskan masih menuliskan pilihan jawaban yang mengulang kata/frase yang bukan merupakan satu kesatuan pengertian.

Refleksi. Setelah penulis melakukan analisis data dari penilaian dan pengamatan, dari 9 guru rata-rata sudah mengalami peningkatan yang baik dalam menyusun soal pilihan ganda. Namun dari 9 guru masih perlu pembimbingan dalam membuat butir soal sesuai dengan indikator karena baru memperoleh skor rata-rata 42, memilih materi yang ditanyakan sesuai dengan kompetensi karena baru memperoleh rata-rata skor 53, menyusun pilihan jawaban homogen dan logis karena baru memperoleh rata-rata skor 69, menuliskan panjang rumusan pilihan jawaban yang relatif sama karena baru memperoleh rata-rata skor 73, dan penggunaan bahasa yang dipakai sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia setiap soal karena baru memperoleh rata-rata skor 76. Hal ini belum sesuai dengan indikator yang telah ditetapkan penulis yakni rata-rata skor > 80.

Deskripsi siklus II

Perencanaan. Dalam tahap perencanaan siklus II ini penulis melakukan kegiatan-kegiatan seperti, mempersiapkan feedback dan materi untuk pembimbingan terhadap guru dalam membuat butir soal yang harus sesuai dengan indikator, memilih materi yang ditanyakan yang harus sesuai dengan kompetensi, menyusun pilihan jawaban yang harus homogen dan logis, menuliskan panjang rumusan pilihan jawaban yang harus relatif sama, dan penggunaan bahasa yang dipakai yang harus sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia setiap soal.

Dalam tahap perencanaan siklus II ini penulis juga mempersiapkan  lembar telaah butir soal pilihan ganda, pertanyaan untuk kuesioner dan wawancara seperti pada siklus I

Implementasi Tindakan. Dalam tahap implementasi tindakan siklus II ini penulis melakukan kegiatan-kegiatan seperti berikut: (1) Memberikan feedback dari hasil telaah butir soal; (2) Memberikan penjelasan tentang bagaimana membuat butir soal yang harus sesuai dengan indikator; (3) Memberikan penjelasan tentang bagaimana memilih materi yang ditanyakan yang harus sesuai dengan kompetensi; (4) Memberikan penjelasan tentang bagaimana menyusun pilihan jawaban yang harus homogen dan logis; (5) Memberikan penjelasan tentang bagaimana menuliskan panjang rumusan pilihan jawaban yang harus relatif sama, dan (6) Memberikan penjelasan tentang bagaimana penggunaan bahasa yang dipakai yang harus sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia setiap soal.

Observasi dan Evaluasi. Dalam tahap ini dilakukan telaah dan penilaian. Aspek-aspek yang ditelaah dan dinilai, antara lain sebagai berikut: (a) Komponen butir soal pilihan ganda yang valid dan reliabel: Soal sesuai dengan indikator, Materi yang ditanyakan sesuai dengan kompetensi, Pilihan jawaban homogen dan logis, Setiap soal hanya mempunyai satu jawaban yang benar dicek ulang, Pokok soal secara jelas dan tegas dicek ulang; Rumusan pokok soal dan pilihan jawaban merupakan pernyataan yang diperlukan saja dicek ulang, Pokok soal yang tidak memberi petunjuk ke arah jawaban yang benar dicek ulang, Pokok soal yang mengandung pernyataan yang bersifat negatif ganda dicek ulang, Pilihan jawaban yang homogen dan logis ditinjau dari segi materi,Gambar, grafik, tabel, diagram, atau sejenisnya jelas dan berfungsi dicek ulang, Panjang rumusan pilihan jawaban yang relatif sama dicek ulang, Pilihan jawaban yang tidak mengandung pernyataan “Semua pilihan jawaban di atas salah" atau "Semua pilihan jawaban di atas benar" dicek ulang, Pilihan jawaban yang berbentuk angka atau waktu disusun berdasarkan urutan besar kecilnya nilai angka atau kronologis dicek ulang, Butir soal tidak bergantung pada jawaban soal sebelumnya dicek ulang, Rumusan pokok soal tidak menggunakan ungkapan atau kata yang bermakna tidak pasti seperti: sebaiknya, umumnya, kadang-kadang dicek ulang, Bahasa yang dipakai sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia setiap soal, Bahasa yang digunakan komunikatif, sehingga pernyataannya mudah dimengerti warga belajar/peserta didik dicek ulang, Pilihan jawaban tidak mengulang kata/kelompok kata yang sama, kecuali merupakan satu kesatuan pengertian dicek ulang

Dari hasil penilaian melalui telaah butir soal pilihan ganda yang telah diperbaiki dan dipresentasikan, dari 9 orang guru diperoleh hasil masing-masing 97,95, 92, 94, 93, 93, 93, 97, dan 95.

Dari hasil kuesioner terdapat 29,63% sangat setuju, 58,02% setuju, dan 12,35% ragu-ragu. Jadi setelah diberikan tindakan siklus II terdapat perubahan sikap para guru bahasa Inggris di sekolah binaan meningkat menjadi 87,65% setuju menerima bimbingan pembuatan butir soal melalui bimbingan kelompok dengan pendekatan direktif. Sedangkan dari hasil wawancara dengan guru bahwa dalam menyusun butir soal mereka sudah merasa mendapatkan gambaran yang jelas untuk menyusun dan mengembangkannya.

Refleksi. Setelah penulis melakukan analisis data dari penilaian dan pengamatan dengan hasil yang sangat baik, maka penulis menghentikan penelitian pada siklus II karena hasil yang diperoleh sudah sangat baik.

Hasil dan Pembahasan tiap Siklus dan Antarsiklus

Siklus I

Siklus I pengawas sekolah menjelaskan langkah-langkah minimal dari pembuatan butir soal yang valid dan reliabel, dimulai dari dimulai dari (1) menentukan tujuan penilaian, (2) menentukan kompetensi yang diujikan (3) menentukan materi penting pendukung kompetensi (urgensi, kontinuitas, relevansi, keterpakaian), (4) menentukan jenis tes yang tepat (tertulis, lisan, perbuatan), (5) menyusun kisi-kisi, butir soal, dan pedoman penskoran, (6) melakukan telaah butir soal.

Pengawas sekolah meminta guru untuk mengisikan lembar butir soal yang telah dipersiapkan sebagai latihan. Kemudian meminta guru untuk menyusun lima (5) butir soal yang valid dan reliabel dengan diberi kompetensi dasar, indikator, dan materi dalam waktu satu minggu. Guru mempresentasikan butir soal yang di hadapan teman-temannya. Penulis menelaah dan mencatat hal-hal yang perlu untuk perbaikan butir soal yang valid dan reliabel.

Dalam kegiatan ini dilakukan telaah dan pengamatan, telaah ditujukkan kepada butir soal. Dari hasil telaah untuk penyusunan dan pengembagan butir soal yang valid dan reliabel dari 9 orang guru diperoleh hasil masing-masing 85, 86, 82, 88, 82, 82, 82, 92, dan 82 sehingga nilai rata-rata 85.

Hasil ini sangat mengejutkan diyakini bahwa para guru bahasa Inggris di 4 SMK binaan termotivasi untuk membuat butir soal yang valid dan reliabel dan meningkat kesadarannya betapa pentingnya pembuatan butir soal yang valid dan reliabel untuk mengatahui tingkat pencapaian kompetensi peserta didik.

Dalam kegiatan pengamatan, pengawas sekolah/penulis mengamati guru dalam mempresentasikan butir soal yang valid dan reliabel di depan teman-teman. Penulis mengamati dan mencatat hal-hal yang perlu disampaikan dalam perbaikan butir soal.

Dari hasil kuesioner tentang sikap para guru terhadap bimbingan kelompok 72,84% setuju dan yang masih ragu 27,16%. Ini menunjukkan sikap positif bagi guru terhadap bimbingan kelompok

Dari hasil wawancara dengan guru bahwa dalam pembuatan butir soal mereka merasa terbantu dalam menyusun butir soal yang valid dan reliabel.  Para guru memiliki gambaran dalam penyusunan kisi-kisi dan pengembangan butir soal yang valid dan reliabel.

Siklus II

Siklus II dilakukan pada minggu kedua Oktober sampai dengan minggu ketiga Oktober 2012. Setelah mendapatkan penjelasan lebih detail untuk perbaikan butir soal dari pengawas, para guru memperbaiki dan mempresentasikan kembali di hadapan teman-temannya.

Dari hasil telaah untuk penyusunan dan pengembangan butir soal yang valid dan reliabel diperoleh nilai rata-rata 94.

Dalam kegiatan ini dilakukan telaah dan pengamatan, telaah ditujukan kepada butir soal. Dari hasil telaah untuk penyusunan dan pengembagan butir soal yang valid dan reliabel dari 9 orang guru diperoleh hasil masing-masing 96, 95, 92, 94, 92, 93, 93, 96, dan 95 sehingga nilai rata-rata 94.

Hasil ini sangat memuaskan. Para guru bahasa Inggris di 4 Sekolah binaan dapat dikatakan mampu menyusun butir soal yang valid dan reliabel setelah diberikan bimbingan melalui bimbingan kelompok.

Dari hasil wawancara dengan guru bahwa dalam membuat butir soal, mereka merasa paham dan mampu menyusun butir soal yang valid dan reliabel untuk kompetensi dasar-kompetensi dasar selanjutnya.  Para guru sudah memiliki gambaran dalam pembuatan butir soal pilihan ganda.

Antar Siklus

Berikut adalah tabel hasil telaah butir soal pilihan ganda dari pra tindakan hingga akhir siklus II.

Tabel 1 Nilai telaah butir soal pilihan ganda guru Bahasa Inggris Per Guru

Kode Guru

Pra Siklus

Siklus I

Siklus II

1

54

85

96

2

42

86

95

3

45

82

92

4

72

88

94

5

53

82

92

6

53

82

93

7

51

82

93

8

78

92

96

9

49

82

95

Rata-Rata

54

84

94

 

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat peningkatan nilai penyusunan dan pengembangan butir soal pilihan ganda yang signifikan oleh masing-masing guru bahasa Inggris melalui bimbingan kelompok.

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat peningkatan nilai penyusunan dan pengembangan butir soal pilihan ganda per komponen indikator yang signifikan oleh guru bahasa Inggris dari 4 sekolah melalui bimbingan kelompok.

Refleksi yang diperoleh dari siklus I sangat penting untuk mengetahui respon serta permasalahan atau kesulitan yang dihadapi oleh guru selama tindakan. Tindakan pada siklus II berdasarkan hasil refleksi siklus I ternyata terdapat peningkatan kemampuan guru dalam penyusunan dan pengembangan butir soal pilihan ganda yang valid dan reliabel yang sangat signifikan.

 

Prosentase Hasil Kuesioner Guru Bahasa Inggris di Sekolah Binaan yang setuju dalam pembuatan butir soal melalui Bimbingan kelompok

image

Prosentase kuesioner sikap positif guru pada pra siklus diperoleh 25,16% setuju terhadap model pembimbingan melalui bimbingan kelompok. Hal ini berarti bahwa guru kurang atau tidak menunjukkan respon positif terhadap bimbingan kelompok. Mereka menganggap bahwa menyusun butir soal tidak perlu bertele-tele yang penting ada. Namun setelah tindakan siklus I dan II melalui bimbingan kelompok respon positif mereka meningkat menjadi 72,84%. Dan setelah diberikan penguatan pada siklus II, meningkat menjadi 87,65 %. Ini menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan.

PENUTUP

Kesimpulan

Pelaksanaan penelitian tindakan sekolah tentang pembuatan butir soal pilihan ganda yang dilaksanakan di empat sekolah binaan, yakni SMK Muhammadiyah Larangan, SMK Nurul Islam larangan, SMK Ma’arif NU 3 Larangan, dan SMK Mustamidiyah Larangan Kabupaten Brebes dengan menggunakan bimbingan kelompok ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Setelah diberikan bimbingan melalui bimbingan kelompok dalam menyusun  butir soal yang valid dan reliabel dalam 2 siklus para guru bahasa Inggris menunjukkan peningkatan kemampuan membuat butir soal yang valid dan reliabel yang signifikan.

Dari hasil pelaksanaan tindakan, analisis, dan refleksi atas penerapan model pembimbingan melalui bimbingan kelompok dapat disimpulkan beberapa temuan sebagai berikut: (1) Model bimbingan kelompok dapat membantu meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun dan mengembangkan butir soal yang valid dan reliabel; (2) Model bimbingan kelompok dapat memberikan keleluasaan guru untuk menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan fokus yang dibimbingkan kepadanya.

Saran

Dalam rangka memperbaiki pelaksanaan tindakan berikutnya dan meningkatkan kemampuan guru dalam pembuatan butir soal pilihan ganda sebaiknya menerapkan model bimbingan kelompok dengan pendekatan direktif.

Model bimbingan kelompok dengan pendekatan direktif merupakan salah satu alternatif yang perlu dikembangkan untuk meningkatkan mutu guru dalam pembuatan butir soal pilihan ganda. Untuk keberhasilan pengembangan model ini perlu didukung oleh pandangan, kesanggupan dan kesediaan kepala sekolah dan atau pengawas untuk melakukan perubahan-perubahan dalam pola dan model pembimbingan dan pembinaan yang selama ini dipraktikkan dan dianggap sebagai suatu kerangka konseptual yang baku.  

 

DAFTAR PUSTAKA

Cohen, Dkk. 1992. Psychological Testing and Assessment: An Introduction to Test and Measurement, second edition.California: Mayfield Publishing Company.

David and Steinberg, Lynne. 1997. A Response Model for Multiple-Choice Items dalam Wim J. van der Linden and Ronald K. Hambleton (Editor). Handbook of Modern Item Response Theory. New York: Springer-Verlag.

Depdikbud, 1999. Pengelolaan Pengujian Bagi Guru Mata Pelajaran. Jakarta: Dirjen Dikdasmen Direktorat Pendidikan MenengahUmum.

Haladyna, Thomas M. 1994. Developing and Validating Multiple-choice Test Items. New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates,Publisher.

Linn, Robert L. and Gronlund, Norman E. 1995. Measurement and Assessment in Teaching. (Seventh Edition). Ohio: Prentice-Hall, Inc.

Messick, Samuel. 1993. “Validity”, Educational Measurement, Third Edition, ed. Robert L. Linn. New York: American Council onEducation and Macmillan Publishing Company, A Division of Macmillan, Inc.

Nitko, Anthony J. 1996. Educational Assessment of Students, Second Edition. Ohio: Merrill an imprint of Prentice Hall EnglewoodCliffs.

Popham, W.James. 1995. Classroom Assesment: What Teachers Need to Know.  Boston: Allyn and Bacon

Safari.  2000. Kaidah Bahasa Indonesia dalam Penulisan Soal. Jakarta: PT Kartanegara