Anda Berada di halaman : Berita » Hadapi MEA, Kemendikbud Gandeng Lembaga Adat
 

Layanan Utama

Berita Foto

<a href='http://lppks.kemdikbud.go.id/berita_foto/129'>Pembukaan Diklat IN 1 Prov. Sumatera Barat</a> <a href='http://lppks.kemdikbud.go.id/berita_foto/130'>Peserta Diklat IN 1 Prov. Sumatera Barat</a> <a href='http://lppks.kemdikbud.go.id/berita_foto/131'>Pembukaan Diklat In Service Learning-2 Program PKB KS/M SMP Prov. Jatim Peserta Th. 2014</a> <a href='http://lppks.kemdikbud.go.id/berita_foto/133'>Peserta IN 1 Prov. Riau mengikuti Kegiatan Pembukaan</a> <a href='http://lppks.kemdikbud.go.id/berita_foto/134'>Kasi SI LPPKS menghadiri Pembukaan Kegiatan Diklat In 1 Prov. Riau</a>
Prev Next

Polling

Seberapa penting pelaksanaan Diklat Kepala Sekolah Pembelajar yang merupakan tindak lanjut hasil Uji Kompetensi Kepala Sekolah dalam upaya meningkatkan Kompetensi Kepala Sekolah?





Hadapi MEA, Kemendikbud Gandeng Lembaga Adat
Kategori : Kebudayaan Oleh : administrator Ditulis : Rabu, 16 September 2015 Hits : 313

JAKARTA -- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menggandeng lembaga adat dari berbagai daerah di Indonesia untuk memperkuat bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. 

Para lembaga adat itu pun hadir dalam kegiatan Seminar dan Lokakarya Kebahasaan Adat dengan tema "70 Tahun Negara Berbahasa Indonesia: Merajut Kebhinekaan Bangsa Menuju Bahasa MEA". Kegiatan yang diselenggarakan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbud ini akan berlangsung dari 17 hingga 21 Agustus 2015.

Kepala Badan Bahasa Kemendikbud Mahsun mengatakan, hadirnya para perwakilan adat dinilai karena Indonesia akan memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Menurutnya, kehadiran mereka diharapkan dapat membantu bangsa Indonesia dalam melindungi bahasa lokal dan bahasa negeri ini. 

Saat MEA berlaku pada akhir tahun ini, dia menjelaskan, bahasa Indonesia jelas akan digempur dengan bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Untuk merealisasikan target bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu di Asia Tenggara, pihaknya melakukan berbagai upaya, di antaranya, memperkuat bahasa Indonesia di masyarakat.

Cara memperkuatnya dengan kegiatan literasi, standardisasi uji kemahiran bahasa Indonesia, penyusunan berbagai kamus dan kajian kebahasaan. Pengembangan pengajaran bahasa Indonesia untuk penutur asing di Indonesia dan berbagai negara pun menjadi agenda lainnya.

Dia menambahkan, lembaga adat selama ini memasyarakatkan bahasa Indonesia yang baku pada masyarakat. "Hingga saat ini, banyak bermunculan bahasa yang tidak baku, misalnya, bahasa 'alay', tidak masalah dibiarkan berkembang karena ada bahasa baku yang mengawalnya," ujarnya.

Pada era integrasi ASEAN, ungkapnya, Indonesia memerlukan kebijakan strategi dan diplomasi kebahasaan untuk memajukan bahasa Indonesia agar menjadi bahasa sesama warga MEA. Menurutnya, diplomasi budaya perlu dijalankan, antara lain, warga Indonesia yang telah tersebar di luar negeri. 

Penyebaran bahasa negara ini merupakan pemanfaatan potensi bahasa sebagai wujud keikutsertaan Indonesia memajukan dunia, khususnya kawasan ASEAN, sesuai dengan cita-cita proklamasi.

Ketua Bundo Kandung Sumatra Barat, Puti Reno Raudha Taib, mengatakan, pihaknya mendukung bahasa Indonesia dijadikan bahasa pemersatu ASEAN. "Tentunya, kita bangga jika bahasa Indonesia dijadikan bahasa pemersatu ASEAN karena itu menyangkut marwah kita," kata Puti Reno.

Puti mengatakan, setuju jika lembaga adat diikutsertakan dalam memperkuat bahasa Indonesia. "Karena, bahasa daerah juga memperkaya bahasa Indonesia," ungkapnya.

Semakin meningkat
Dirjen Sumber Daya, Ilmu Pengetahuan Teknologi (Iptek), dan Pendidikan Tinggi (Dikti) Kemendikbud Ali Ghufron Mukti mengungkapkan, pendaftar Sarjana Mengajar di daerah Terpencil, Terluar, dan Tertinggal (SM-3T) mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Menurutnya, pendaftar SM-3T di tahun ini berjumlah 18 ribuan.

"Jumlah pendaftar meningkat dibandingkan 2011," ungkap Ghufron di Jakarta, kemarin. Ia mengungkapkan, jumlahnya jauh berbeda daripada saat SM-3T pertama kali dliluncurkan. Menurutnya, sebanyak 12 ribuan sarjana mendaftar pada SM-3T 2011 lalu.

Untuk tahun ini, sebanyak 3.140 sarjana akan dikirimkan ke daerah-daerah terpencil, terluar, dan tertinggal (3T). Menurutnya, angka tersebut berasal dari 16 Lembaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan (LPTK) se-Indonesia. Dengan jumlah program studi (prodi), kata dia, berkisar 168 prodi.

Ghufron menegaskan, 3.140 sarjana pendidikan itu siap diberangkatan pada hari ini, Selasa, (18/8). Menurut dia, mereka akan ditempatka di 54 Kabupaten dari Aceh hingga Papua.

Terkait para sarjana ini, Ghufron berpendapat, mereka merupakan para pilihan yang lolos seleksi. Mereka kelak akan dikirim dan mengajar di daerah 3T selama satu tahun. Selanjutnya, kata dia, mereka akan melakukan Pendidikan Profesi Guru (PPG) di LPTK selama setahun pula. "Kemudian, mereka akan langsung kiprah dan langsung tersertifikasi," jelas dia. 

Ketua Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) se-Indonesia, Djaali, mengungkapkan, 230 sarjana pendidikan dilepas secara simbolis di Gedung D Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekditi), Senayan, Jakarta, Selasa (18/8). "Mereka yang hadir saat ini mewakili 3140 SM-3T lainnya," tegasnya. 

Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbud Ainun Naim mengatakan, para SM-3T akan mendapat tunjangan khusus. Selain itu, ia mengungkapkan, Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) berencana memberi layanan perumahan kepada para SM-3T. Menurut dia, upaya ini merupakan kerja sama dengan salah satu bank di Indonesia.

 

Sumber