Anda Berada di halaman : Berita » Kemendikbud Dorong Budayawan Gunakan Ruang Seni dan Budaya yang Tersedia Secara Efektif
 

Layanan Utama

Berita Foto

<a href='http://lppks.kemdikbud.go.id/berita_foto/129'>Pembukaan Diklat IN 1 Prov. Sumatera Barat</a> <a href='http://lppks.kemdikbud.go.id/berita_foto/130'>Peserta Diklat IN 1 Prov. Sumatera Barat</a> <a href='http://lppks.kemdikbud.go.id/berita_foto/131'>Pembukaan Diklat In Service Learning-2 Program PKB KS/M SMP Prov. Jatim Peserta Th. 2014</a> <a href='http://lppks.kemdikbud.go.id/berita_foto/133'>Peserta IN 1 Prov. Riau mengikuti Kegiatan Pembukaan</a> <a href='http://lppks.kemdikbud.go.id/berita_foto/134'>Kasi SI LPPKS menghadiri Pembukaan Kegiatan Diklat In 1 Prov. Riau</a>
Prev Next

Polling

Seberapa penting pelaksanaan Diklat Kepala Sekolah Pembelajar yang merupakan tindak lanjut hasil Uji Kompetensi Kepala Sekolah dalam upaya meningkatkan Kompetensi Kepala Sekolah?





Kemendikbud Dorong Budayawan Gunakan Ruang Seni dan Budaya yang Tersedia Secara Efektif
Kategori : Kebudayaan Oleh : administrator Ditulis : Minggu, 05 Maret 2017 Hits : 101

Nusa Tenggara Barat, Kemendikbud --- Untuk memaksimalkan penggunaan sarana dan prasarana seni dan budaya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mendorong para Budayawan dapat menggunakan ruang yang telah tersedia secara efektif. Hal ini menjadi agenda pembahasan Rapat Koordinasi (Rakor) Pusat dan Daerah Bidang Kebudayaan tahun 2017, yang diselenggarakan pada tanggal 1 s.d. 3 Maret 2017, di Senggigi, Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat.
 
“Salah satu strategi dalam pengembangan kebudayaan saat ini adalah pengadaan sarana dan prasarana seni dan budaya. Namun kita lihat masih terdapat ruang-ruang yang belum digunakan secara maksimal, oleh sebab itu menjadi salah satu agenda kita dalam pembahasan sarana dan prasarana, agar ruang-ruang seni dan budaya dapat dimaksimalkan penggunaannya,” demikian poin pertama yang disampaikan Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid dalam sambutannya di acara pembukaan Rakor kebudayaan tersebut, Rabu (01/03/2017).
 
Hilmar memberikan contoh ruang budaya yang belum dimaksimalkan penggunaannya, seperti museum. Ruang yang dimiliki museum ini, kata Hilmar, jika menggunakan meter persegi, luasnya bisa lebih dari seratus ribu meter persegi. “Tetapi kita lihat berapa meter persegi yang betul-betul digunakan secara efektif untuk menampilkan warisan budaya yang dimiliki? Kita harus memaksimalkan ruang-ruang yang sesungguhnya tersedia dalam lingkungan kita untuk kepentingan kebudayaan,” tutur Hilmar.
 
Hilmar mengajak para pelaku kebudayaan untuk berpikir secara strategis, dan membagi rata penggunaan ruang-ruang seni dan budaya. Melalui Rakor yang mengangkat tema “Membangun dari Pinggiran: Perspektif Kebudayaan dalam Pendidikan Vokasional dan Pendidikan Karakter”, para peserta dapat mengupas tuntas hal-hal yang dibutuhkan dalam pemanfaatan sarana dan prasarana untuk pengembangan dan memajukan kebudayaan Indonesia.
 
Rakor Pusat dan Daerah Bidang Kebudayaan Tahun 2017 merupakan pertemuan yang sangat strategis sebagai upaya untuk memantapkan sinergitas seluruh stakeholder untuk membuat dan menetapkan kebijakan serta strategi program pembangunan bidang kebudayaan yang berbasis kinerja. Dalam Rakor ini menghadirkan pembicara yakni Bupati Belu Provinsi NTT, Kepala SMK Negeri 1 Kasihan Bantul, Dewan Pakar Pusat Studi Pancasila Universitas Gajah Mada, Senior Community Relation British Petroleum Oil, dan General Coordinator Europalia.
 
Rakor kebudayaan tahun ini diikuti 293 peserta dan panitia terdiri yang terdiri dari Kepala Dinas Provinsi yang membidangi kebudayaan, Kepala Dinas Kabupaten/Kota yang membidangi kebudayaan, Asosiasi Profesi Bidang Kebudayaan (IAAI, MSI, AAI, AMI, MLKI, HISKI), Dewan Kebudayaan/Kesenian Provinsi, Komunitas Budaya, para pejabat di lingkungan Ditjen Kebudayaan dan seluruh Kepala UPT di Lingkungan Ditjen Kebudayaan.

 

sumber: click here