Anda Berada di halaman : Berita » PENILAIAN POTENSI KEPEMIMPINAN (2)
 

Layanan Utama

Berita Foto

<a href='http://lppks.kemdikbud.go.id/berita_foto/129'>Pembukaan Diklat IN 1 Prov. Sumatera Barat</a> <a href='http://lppks.kemdikbud.go.id/berita_foto/130'>Peserta Diklat IN 1 Prov. Sumatera Barat</a> <a href='http://lppks.kemdikbud.go.id/berita_foto/131'>Pembukaan Diklat In Service Learning-2 Program PKB KS/M SMP Prov. Jatim Peserta Th. 2014</a> <a href='http://lppks.kemdikbud.go.id/berita_foto/133'>Peserta IN 1 Prov. Riau mengikuti Kegiatan Pembukaan</a> <a href='http://lppks.kemdikbud.go.id/berita_foto/134'>Kasi SI LPPKS menghadiri Pembukaan Kegiatan Diklat In 1 Prov. Riau</a>
Prev Next

Polling

Seberapa penting pelaksanaan Diklat Kepala Sekolah Pembelajar yang merupakan tindak lanjut hasil Uji Kompetensi Kepala Sekolah dalam upaya meningkatkan Kompetensi Kepala Sekolah?





PENILAIAN POTENSI KEPEMIMPINAN (2)
Kategori : Kepala Sekolah Oleh : administrator Ditulis : Rabu, 30 Oktober 2013 Hits : 5826

imageMENGENAL PENILAIAN POTENSI KEPEMIMPINAN DARI WAKTU KE WAKTU

OLEH: DRS. YULI CAHYONO, M.Pd/WIDYAISWARA MUDA


A.   PENDAHULUAN

Artikel berikut ini secara komprehensif akan menyajikan beberapa poin pembelajaran penting terkait dengan pelaksanaan Penilaian Potensi Kepemimpinan (PPK) di sejumlah kabupaten/kota yang telah diselenggarakan oleh LPPKS Indonesia di Surakarta melalui piloting seleksi akademik calon kepala sekolah selama kurun waktu Tahun 2009-2012.

Dengan memahami tahapan pengembangan PPK maka kita akan bisa menyadari bahwa pengembangan model terkait dengan kreatifitas intelektual tidak akan pernah surut dan bahkan akan terus berkembang dari waktu ke waktu. Pengembangan akan memacu peningkatan mutu. Peningkatan mutu berupa peningkatan akurasi, kecepatan, efisiensi dan efektifitas dalam penilaian potensi kepemimpinan akan melahirkan model penilaian yang secara signifikan berbeda dengan model penilaian potensi yang khas Indonesia.

 

B. PEMBAHASAN

  1. Penilaian Potensi Kepemimpinan (PPK) Periode Tahun 2009

Penilaian Potensi Kepemimpinan (PPK) periode tahun 2009 diperkenalkan pertama kali pada Pelatihan Asesor Tingkat Nasional tahun 2009 di Hotel Millenium, Jakarta. Karakteristik dari Penilaian Potensi Kepemimpinan (PPK) pada periode ini adalah:

  • Tentang pelatihan. Pelatihan yang dilakukan lebih bersifat sosialisasi Penilaian Potensi Kepemimpinan (PPK) kepada widyaiswara dari LPPKS, LPMP dan PPPPTK serta dosen dari beberapa perguruan Tinggi, yang di kemudian hari direncanakan akan difungsikan sebagai asesor Penilaian Potensi Kepemimpinan (PPK) pada seleksi akademik calon kepala sekolah dalam program penyiapan kepala sekolah yang baru. Namun, pelatihan yang dilaksanakan sudah mengarah ke terbentuknya National Core Team (NCT) dan Provincial Core Team (PCT).
  • Tentang instrumen Penilaian Potensi Kepemimpinan (PPK). Instrumen yang digunakan dalam pelatihan masih murni/asli dari konsultan tanpa ada modifikasi/penyesuaian dari sisi pendekatan, prosedur, bentuk soal, bahasa yang digunakan masih bahasa terjemahan, demikian juga dengan rubrik dan penilaiannya. Konstruk soal dibangun dari kondisi nyata di sekolah tanpa ada modifikasi yang signifikan.
  • Tentang konstruk soal. Masalah yang harus diidentifikasi calon kepala sekolah lebih banyak dan calon harus memilih satu masalah utama yang harus diatasi.
  • Tentang pendekatan. Pendekatan yang digunakan murni kualitatif melalui analisis respon tertulis dan tidak ada mekanisme wawancara atau respon lisan.
  • Tentang penentuan keputusan. Keputusan yang diambil sebagai rekapitulasi hasil analisis respon yang dilakukan oleh asesor diklasikasikan dalam 3 kriteria, yakni Buruk, Memuaskan dan Sangat Memuaskan.
  1. Penilaian Potensi Kepemimpinan (PPK) Periode Tahun 2010

Penilaian Potensi Kepemimpinan (PPK) periode tahun 2010 diperkenalkan pada Sinkronisasi Pemahaman Penilaian Potensi Kepemimpinan (PPK) Tingkat Nasional tahun 2010 di PPPPTK Bisnis dan Pariwisata Jakarta. Karakteristik dari Penilaian Potensi Kepemimpinan (PPK) pada periode ini adalah:

  • Tentang pelatihan. Pelatihan yang dilakukan lebih bersifat pendalaman atas substansi Penilaian Potensi Kepemimpinan (PPK) yang telah diperkenalkan sebelumnya. Peserta sinkronisasi adalah widyaiswara dari LPPKS, LPMP dan PPPPTK serta dosen dari beberapa perguruan Tinggi. Namun, pelatihan ini ternyata banyak dihadiri oleh widyaiswara baru yang tidak mengikuti pelatihan sebelumnya di Hotel Millenium, Jakarta.
  • Tentang instrumen Penilaian Potensi Kepemimpinan (PPK). Instrumen yang digunakan dalam pelatihan masih murni/asli dari konsultan tanpa ada modifikasi/penyesuaian dari sisi pendekatan, prosedur, bentuk soal, demikian juga dengan rubrik dan penilaiannya. Namun dari sisi bahasa yang digunakan sudah disempurnakan sehingga penjabaran dan pemahamannya lebih sederhana.
  • Tentang konstruk soal. Masalah yang harus diidentifikasi calon kepala sekolah masih banyak dan calon harus memilih satu masalah utama yang harus diatasi.
  • Tentang pendekatan. Pendekatan yang digunakan murni kualitatif melalui analisis respon tertulis dan tidak ada mekanisme wawancara atau respon lisan.
  • Tentang penentuan keputusan. Keputusan yang diambil sebagai rekapitulasi hasil analisis respon yang dilakukan oleh asesor diklasikasikan dalam 3 kriteria, yakni Kurang Memuaskan, Memuaskan dan Sangat Memuaskan.
  1. Penilaian Potensi Kepemimpinan (PPK) Periode Tahun 2011

Penilaian Potensi Kepemimpinan (PPK) periode tahun 2011 diperkenalkan pada Piloting Penyiapan kepala sekolah Tingkat Nasional di 15 lokasi oleh LPPKS Indonesia-Surakarta tahun 2011 di Hotel Riyadi Palace, Solo. Karakteristik dari Penilaian Potensi Kepemimpinan (PPK) pada periode ini adalah:

  • Tentang pelatihan. Pelatihan yang dilakukan lebih bersifat murni pelatihan calon asesor. Peserta pelatihan adalah widyaiswara dari LPPKS, LPMP dan PPPPTK serta dosen dari beberapa perguruan Tinggi yang akan dilibatkan sebagai asesor pada seleksi akademik calon kepala sekolah di 15 lokasi tersebut. Pelatihan dilakukan dengan model In-On-In. In 1 dilakukan selama 5 hari yang bertujuan untuk memperkuat pemahaman asesor tentang konsep Penilaian Potensi Kepemimpinan (PPK), pengembangan instrumen, rambu-rambu dan rubrik serta wawancara. Kegiatan OJL bertujuan untuk memberikan kesempatan calon asesor mengembangkan instrumen, rambu-rambu dan rubrik. In 2 dilakukan untuk menguji validitas instrumen yang sudah dikembangkan oleh calon asesor. Sebagai akhir dari pelatihan calon asesor harus melakukan uji kompetensi dengan menjadi asesor pada program piloting di 15 lokasi dengan didampingi dan dinilai kinerjanya oleh Master Asesor dari Tim Pengembang Penilaian Potensi Kepemimpinan (PPK) Nasional.
  • Tentang instrumenPenilaian Potensi Kepemimpinan (PPK). Instrumen yang digunakan dalam pelatihan masih menggunakan instrumen sebelumnya namun sudah dimodifikasi dari sisi pendekatan, kontruks soal, instrumen, rambu-rambu, rubrik dan wawancara.
  • Tentang konstruk soal. Masalah yang harus diidentifikasi calon kepala sekolah disederhanakan cukup satu masalah saja dan calon harus menemukan satu masalah yang harus diatasi.
  • Tentang pendekatan. Pendekatan yang digunakan kualitatif melalui analisis respon tertulis dan dilakukan mekanisme wawancara atau respon lisan untuk mengkonfirmasi, mengeksplorasi dan mengelaborasi respon tertulis calon kepala sekolah.
  • Tentang penentuan keputusan. Keputusan yang diambil sebagai rekapitulasi hasil analisis respon yang dilakukan oleh asesor diklasifikasikan dalam 3 kriteria, yakni Kurang Memuaskan, Memuaskan dan Sangat Memuaskan.
  1. Penilaian Potensi Kepemimpinan (PPK) Periode Tahun 2012-2013

Penilaian Potensi Kepemimpinan (PPK) periode tahun 2012-2013 diperkenalkan pada Penguatan Asesor PPK-MK sebagai persiapan penyelenggaraan Piloting Penyiapan kepala sekolah Tingkat Nasional di 142 lokasi oleh LPPKS Indonesia-Surakarta tahun 2012 di Hotel Sahid Jaya, Solo. Karakteristik dari Penilaian Potensi Kepemimpinan (PPK) pada periode ini adalah:

  • Tentang pelatihan. Pelatihan yang dilakukan lebih bersifat murni penguatan asesor. Peserta pelatihan adalah widyaiswara dari LPPKS, LPMP dan PPPPTK serta dosen dari beberapa perguruan Tinggi yang terlibat sebagai asesor pada seleksi akademik calon kepala sekolah di 15 lokasi pada tahun 2011. Pelatihan dilakukan dengan model In Service Learning yang dikombinasikan di dalamnya dengan workshop. In Service learning dilakukan selama 5 hari yang bertujuan untuk memperkuat pemahaman asesor tentang konsep Penilaian Potensi Kepemimpinan (PPK), penilaian PPK dan MK, simulasi penyelenggaraan seleksi akademik dan praktek penggunaan Software Umpan Balik dan Software Deskripsi Potensi.
  • Tentang instrumenPenilaian Potensi Kepemimpinan (PPK). Instrumen yang digunakan dalam pelatihan menggunakan instrumen yang sudah dimodifikasi dari sisi pendekatan, kontruks soal, instrumen, rambu-rambu, rubrik dan wawancara serta penyempurnaan dari petunjuk pengisian respon tertulis dan pemberkasan soal yang lebih akuntabel.
  • Tentang konstruk soal. Masalah yang harus diidentifikasi calon kepala sekolah disederhanakan cukup satu masalah saja dan calon harus menemukan satu masalah yang harus diatasi. Namun sistem penomoran item soal pada instrumen menggunakan penataan penomoran yang baru. Alokasi waktu juga disesuaikan dengan kebutuhan penyelenggaraan seleksi akademik yang lebih singkat dari sebelumnya. Di hampir semua instrumen baik PPK maupun MK mengalami penurunan alokasi waktunya.
  • Tentang pendekatan. Pendekatan yang digunakan kualitatif melalui analisis respon tertulis dan dilakukan mekanisme wawancara atau respon lisan untuk mengkonfirmasi, mengeksplorasi dan mengelaborasi respon tertulis calon kepala sekolah.
  • Tentang penentuan keputusan. Keputusan yang diambil sebagai rekapitulasi hasil analisis respon yang dilakukan oleh asesor diklasifikasikan dalam 3 kriteria, yakni Kurang Memuaskan, Memuaskan dan Sangat Memuaskan.
  • Deskripsi potensi sebagai bagian akhir dari pemetaan potensi kepemimpinan calon, yang memungkinkan hasilnya bisa dibaca dan dipahami oleh khalayak umum dan bukan hanya asesor saja, ditampilkan secara elegan dalam bentuk software “Despot” yang bekerja efektif, efisien dan rapi. Namun mengingat banyaknya lembar kertas yang harus disiapkan bila harus dicetak, maka disepakati deskripsi potensi dilaporkan dalam bentuk soft-file. Namun, bisa dicetak bila diperlukan.

C. PENUTUP

Dari hasil pembahasan di atas maka kita bisa menyimpulkan bahwa selama kurun waktu tahun 2009-2012, LPPKS Indonesia di Surakarta sudah mengembangkan model penilaian potensi kepemimpinan sebanyak 4 kali. Masing masing model memiliki perbedaan yang signifikan, namun juga memiliki persamaan yang menjadi standar bagi pengembangan sebelum dan sesudahnya. Model terakhir sebagai model terbaik masih digunakan sampai saat ini.