Anda Berada di halaman : Berita » SMA Muhammadiyah 2 Solo "Giatkan semangat belajar melalui metode Edutainment"
 

Layanan Utama

Berita Foto

<a href='http://lppks.kemdikbud.go.id/berita_foto/129'>Pembukaan Diklat IN 1 Prov. Sumatera Barat</a> <a href='http://lppks.kemdikbud.go.id/berita_foto/130'>Peserta Diklat IN 1 Prov. Sumatera Barat</a> <a href='http://lppks.kemdikbud.go.id/berita_foto/131'>Pembukaan Diklat In Service Learning-2 Program PKB KS/M SMP Prov. Jatim Peserta Th. 2014</a> <a href='http://lppks.kemdikbud.go.id/berita_foto/133'>Peserta IN 1 Prov. Riau mengikuti Kegiatan Pembukaan</a> <a href='http://lppks.kemdikbud.go.id/berita_foto/134'>Kasi SI LPPKS menghadiri Pembukaan Kegiatan Diklat In 1 Prov. Riau</a>
Prev Next

Polling

Seberapa penting pelaksanaan Diklat Kepala Sekolah Pembelajar yang merupakan tindak lanjut hasil Uji Kompetensi Kepala Sekolah dalam upaya meningkatkan Kompetensi Kepala Sekolah?





SMA Muhammadiyah 2 Solo "Giatkan semangat belajar melalui metode Edutainment"
Kategori : Profil Sekolah Oleh : administrator Ditulis : Rabu, 30 Mei 2012 Hits : 1920
imageMemasuki gedung berlantai II SMA Muhammadiyah 2 Solo yang beralamat di Jalan Yosodipuro No. 95, Mangkubumen, Solo, Kamis (11/5), sekilas tampak sejumlah pekerja tengah sibuk membenahi taman dan cat tembok yang terlihat usang. Fisik bangunan sekolah yang dipercantik ini memang disiapkan secara khusus, pasalnya pada tanggal 19 Mei 2012 mendatang pihak sekolah bakal kedatangan mantan Pemimpin Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof Dr Muhammad Amien Rais MA atau yang akrab disapa Amien Rais.
 
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Mantan Ketua MPR itu diagendakan untuk meresmikan Humanizing The Classroom yang merupakan penerapan metode Edutainment. Diungkapkan Kepala SMA Muhammadiyah 2 Solo, Sri Darwati SPd, MPd, metode Edutainment ini berasal dari kata education yang berarti pendidikan dan entertaiment yang berarti hiburan. Dengan demikian, edutaiment merupakan pendidikan yang menghibur dan menyenangkan bagi murid maupun guru.
“Kami membikin konsep Edutainment yang menggabungkan sistem moving class (kelas yang berpindah-pindah), tematic class (kelas bertema) dan entertainment (hiburan),” jelas dia saat dijumpai Prinsipals di sela-sela kesibukannya.
 
Metode yang efektif diterapkan pada Februari lalu, diwujudkan dalam bentuk humanizing the classroom atau memanusiakan ruang kelas. Secara rinci, Sri Darwati memaparkan konsep humanizing class yang menempatkan ruang kelas tidak hanya sebagai tempat namun juga dapat menjadi media belajar. Ada beberapa kelas yang didesain unik dan menarik dengan beragam kelengkapan laboratorium kecil sebagai sarana penunjang. Sementara, penataan kursi pun disesuaikan kebutuhan pelajaran apakah dibentuk formasi Chevron atau penataan kursi yang disusun miring membentuk huruf  “V”.  Maupun membentuk formasi “U Ganda” yang memudahkan murid-murid melakukan diskusi pada saat jam pelajaran berlangsung.
Sejumlah ruangan yang disusun secara khusus tersebut, di antaranya kelas Geografi, bahasa Jawa, Matematika, Sejarah, Ekonomi dan lainnya. Menurut dia, kelas ini bisa dimanfaatkan semua murid dari kelas X-XII, rencananya konsep ini akan terus dikembangkan sesuai dengan kebutuhan.
Mengapa dipilih konsep pembelajaran dengan mengajak murid-murid berpindah dari satu ruang ke ruang berikutnya? Apakah hal ini tidak merepotkan guru maupun murid? Dia mengungkapkan konsep belajar dengan cara berpindah-pindah tempat ini dinilai paling cocok diterapkan lantaran sebagian besar murid memiliki kecenderungan belajar dengan gaya kinestetik. Ciri murid yang memiliki sistem belajar ini, biasanya dia tidak dapat berdiam dalam waktu lama dan selalu ingin melakukan sesuatu dengan gerakan tubuh sekalipun saat mereka diminta membaca buku.
“Murid-murid itu justru makin fresh tatkala diajak pindah dari satu kelas ke kelas lainnya,” jelasnya.  
Untuk menuntaskan rasa penasaran, Prinsipals pun berkeliling di sejumlah kelas yang berada di lantai II. Ruang pertama yang dikunjungi yakni kelas geografi dengan formasi Chevron. Nuansa kelas yang mendominasi warna hijau, tampak makin menarik karena murid-murid  juga diajak lebih peka terhadap bumi. Mereka mengangkat isu lingkungan hidup seperti go green sebagai tema ruangan. Hiasan kelas yang lengkap dengan gambar pohon rindang, beragam artikel tentang ajakan penghijauan, membikin mereka lebih kreatif dan kaya informasi.
Sementara itu, ruangan lainnya pun didesain serupa sesuai dengan tema pelajaran yang ingin dipelajari. Di kelas Bahasa Jawa, misalnya. Di ruang ini, sejumlah gambar tokoh wayang, aksara Jawa, beragam alat permainan tradisional, hingga perlengkapan dapur khas Jawa menghiasi di sudut kelas. Melalui sejumlah alat peraga yang sederhana ini diharapkan murid-murid dapat mengetahui bentuk dan ragamnya .
Konsep berbeda ditampilkan di kelas Ekonomi dan kelas Sejarah, beragam alat peraga yang merupakan hibah Bank Indonesia (BI), PT Reksa Dana dan Balai Pelestarian Situs Manusia Purbakala Sangiran (BPSDMPS) terpajang rapi di ruang kelas. Di sudut kelas ekonomi, beragam mata uang lawas, koleksi mata uang dari berbagai negara, berbagai buku-buku yang berisi informasi perbankan hingga reksadana ditata rapi di lemari kaca. Sejumlah sarana belajar itu dimanfaatkan guru dan murid untuk menjelaskan berbagai tema pelajaran.
Sedangkan di kelas Sejarah, penampilan poster manusia purba berukuran besar menjadi background salah satu dinding. Di ruangan ini juga terdapat pajangan berbagai fosil binatang seperti taring hiu, buaya, rahang hewan dan kerang yang berusia lebih dari satu juta tahun silam. Pastinya, kelengkapan sarana belajar ini membikin guru dan murid dapat mempelajari lebih mendalam tentang benda-benda purbakala.
Lebih lanjut, Sri Darwati, mengatakan untuk memajukan sekolah dibutuhkan sikap proaktif dari semua pihak untuk mengedepankan mutu pendidikan. Perkembangan ilmu dan pendidikan yang demikian pesat, mau tak mau sekolah harus mengikuti kemajuan zaman. Apabila tidak dibarengi dengan kerja keras tersebut, mustahil konsep segar mengenai pendidikan  yang bermanfaat dan dibutuhkan bagi murid dan guru bisa terwujud.