Anda Berada di halaman : Berita » Resensi Buku “Menjadi Pemimpin Efektif”
 

Layanan Utama

Berita Foto

<a href='http://lppks.kemdikbud.go.id/berita_foto/129'>Pembukaan Diklat IN 1 Prov. Sumatera Barat</a> <a href='http://lppks.kemdikbud.go.id/berita_foto/130'>Peserta Diklat IN 1 Prov. Sumatera Barat</a> <a href='http://lppks.kemdikbud.go.id/berita_foto/131'>Pembukaan Diklat In Service Learning-2 Program PKB KS/M SMP Prov. Jatim Peserta Th. 2014</a> <a href='http://lppks.kemdikbud.go.id/berita_foto/133'>Peserta IN 1 Prov. Riau mengikuti Kegiatan Pembukaan</a> <a href='http://lppks.kemdikbud.go.id/berita_foto/134'>Kasi SI LPPKS menghadiri Pembukaan Kegiatan Diklat In 1 Prov. Riau</a>
Prev Next

Polling

Seberapa penting pelaksanaan Diklat Kepala Sekolah Pembelajar yang merupakan tindak lanjut hasil Uji Kompetensi Kepala Sekolah dalam upaya meningkatkan Kompetensi Kepala Sekolah?





Resensi Buku “Menjadi Pemimpin Efektif”
Kategori : Referensi Buku Oleh : administrator Ditulis : Rabu, 30 Januari 2013 Hits : 1208

imageJudul Buku : MENJADI PEMIMPIN EFEKTIF
(On Becoming A Leader)
Penulis : Warren Bennis
Tebal : 283 Halaman
Penerbit : PT ALEX Media Komputindi

Mohammad Ichlas El Qudsi, S.Si. M. Si

Dalam kodratnya, semua manusia adalah pemimpin. Namun dibalik kodrat alamiah kepemimpinan manusia itu. Ada sejumlah soal yang mempertanyakan hakekat, eksistensi dan substansi kepemimpinan. Buku ini lahir dari goresan tangan seorang yang bernama Werren Bennis. Ia merupakan profesor terkemuka di bidang administrasi bisnis di University of Southern California. Ia juga adalah rekan pengarang dari leaders: Strategies for Taking Charge. Ia adalah seorang sarjana-filsuf di bidang organisasi dan teoritikus bisnis serta guru manajemen.
Melalaui buku setebal 283 halaman ini, Warren Bennis menulis tentang beberapa hal berkaitan dengan kepemimpinan efektif. Diantaranya : 1). Penguasaan Lingkungan. 2). Pemahaman hal-hal dasar. 3). Pengenalan diri sendiri. 4). Pengetahuan dunia. 5). Pengoperasiona berdasarkan insting. 6). Pengerahan diri. Berupaya keras, mencoba sesuatu. 7). Bergerak melewati kekacauan. 8). Menarik orang-orang berpihak pada anda. 9). Organisasi dapat membantu dan menghambat. 10). Menempa masa depan.
Warren Bennis memulai studi tentang kepemimpinan ketika tahun-tahun salama ia bekerja di Bufallo dan menduduki jabatan sebagai rektor Universitas Cincinnati. Dan buku ini terilhami ketika ia memasuki apa yang disebutnya sebagai Seimor sarason, sebagai kancah tindakan kekuasaan dan tekanan. Dan disitulah Warren Bennis mulai mempraktikkan teori-teori kepemimpinan yang ia dapatkan. Dan buku “Menjadi Pemimpin yang Efektif ini, bermula dari situ. (Hal : xii).
Selama dasawarsa terakhir itu, Warren Bennis membaktikan dirinya untuk studi kepemimpinan. Mengamati dan mewawancarai beberapa pria dan wanita terkemuka yang merupakan bagian proses merampungkan buku ini. Laporan pertama yang dilakukan Warren Bennis tentang kepemimpinan diterbitkan dalam buku leaders Iharper & Row, 1985, bersama rekannya Burt Nanus). Menuurt Warren Bennis, studi kepemimpinan bukan ilmu pasti. Karena, dunia sosial tidak seteratur dunia eesakta. Dan dunia sosial juga, tidak mudah terkena aturan. Bagi Warren Bennis, tugasnya dalam transformasi studi kepemimpinan adalah memberikan pendapat tentang hal-hal yang berkaitan dengan masalah-masalah kepemimpinan.

Menurut Warren Bennis, kepemimpinan menurut definisi, tidak dapat dijalankan dengan kevakuman. Atau menjaga jarak dari realitas sosial. Maka untuk memulai studi keemimpinan, ia selalu memaulai dari konteks masalah kepepemimpinan di lingkungan sosial kemasyarakatan yang ada di sekitarnya. Dalam masalah kepemimpinan, kesalahan biasanya dilemparkan kepada orang-orang yang belum berhasil. Namun model seperti ini, oleh Warren Bennis lebih disebabkan oleh dorongan problem sosial yang jauh lebih besar dalam suatu gejala pemerintahan. Dan seorang dengan kepemimpinan yang efektif adalah yang mampu mengendalikan hal tersebut dengan kekuatan karakter kepemimpinannya.

Menjadi Pemimpin
Bagian pertama buku ini yang harus kita dalami adalah, bagaimana menjadi pemimpin. Menurut Warren Bennis dalam buku ini (Halaman xix). Ditegaskan bahwa, sebelum seseorang belajar menjadi pemimpin, ia harus belajar lebih dulu tentang dunia baru yang asing ini, yaitu tentang kepemimpinan. Banyak orang yang menguasainya, mereka bersal dari berbagai latar belakang, pengalaman dan pekerjaan. Tapi mereka sama-sama memiliki keinginan yang besar akan harapan hidup yang lebih baik dan kemampuan mengeskpresikan diri sepenuhnya secara bebas. Dan hal ini menurut Warren Bennis, disebutnya sebagai “inti dari kepemimpinan”. Intinya Warren Bennis ingin menyimpulkan bahwa “menjadi pememimpin efektif adalah didasarkan atas asumsi bahwa para pemimpin adalah orang-orang yang mampu mengekspresikan diri sepenuhnya.

Menjadi pemimpin tidaklah muda, sama seperti menjadi dokter atau penyair. Siapapun menyatakan sebaliknya berarti mengelabui diri sendiri. Namun belajar menjadi pemimpin menurut Warren Bennis, itu jauh lebih muda. Darpada yang dibayangkan oleh kebanyakan orang. Karena kita masing-masing memiliki kapasitas kepemimpinan. Namun dari potensi itu, ada dua hal yang mendasari konsepsi kepemimpinan. Pertama : Menjadi pemimpin perlu upaya. Bukan sekedar bakat dari lahir. Dan lebih banyak dibentuk oleh diri sendiri daripada hal-hal eksternal. Kedua : Tidak ada pemimpin yang menyatakan dirinya pemimpin, tetapi sebaliknya mengekspresikan diri secara bebas dan sepenuhnya. Maksudnya, para pemimpin tidak berminat untuk membuktikan diri mereka tetapi selalu berminat untuk mengekspresikan diri. (Hal : xxiii).

Menjadi Pemimpin Efektif

Pada halaman : 1 buku ini Warren Bennis mengutib pemikiran W Gardner dalam Ni Easy Victories bahwa : Para pemimpin memiliki peranan yang berarti dalam menciptakan pandangan hidup masyarakat. Mereka dapat bertindak sebagai simbol dari moral masyarakat. Mereka dapat mengekspresikan nilai-nilai yang mempersatukan masyarakat. Yang penting, mereka dapat memahami dan mengutarakan sasaran-sasaran  yang mengangkat orang ke luar dari kepicikan, membawa mereka mengatasi konflik-konflik yang memecah-belah sauatu masyarakat dan mentukan mereka dalam mengejar tujuan yang patut  mereka upayakan denga sebaik-baiknya.

Dari sudut padang ini, Warren Bennis memberikan penekanan tentang pentingnya kepenguasaan lingkungan oleh seorang pemimpin. Sebab dengan menguasai lingukngan sosial yang ada disekitar, kita bisa memahami sisi-sisi penting yang perlu dikenadalikan secara maksimal oleh seorang pemimpin. Olehnya itu, Warren Bennis, pemimpin yang efektif adalah tidak sekedar terpengaruh oleh arus perubahan lingkungan. Tetapi ia harus bisa menantang dan menguasai lingkungan dengan jalan mengubahnya dengan cara yang mendasar. Langkah pertamanya adalah menolak untuk dikendalikan orang lain dan memilih untuk mengendalikan diri sendiri. (Halaman : 32).

Selain kepenguasaan terhadap lingkungan, syarat kepemimpinan berikut menurut Warren Bennis adalah pemahaman terhadap-hal-hal yang mendasar. Diantaranya adalah : Pertama : Visis penuntun. Pemimpin memiliki pandangan yang jelas apa yang akan dia lakukan. Baik secara profesional ataupun pribadi.  Dan kekuatan untuk menghadapi kemunduran atau kegagalan. Kedua : Keinginan yang Besar.  Keinginan yang  mendasar akan harapan hidup disertai dengan keinginan yang sangat khusus akan suatu pekerjaan, profesi dan tindakan. Menurut Tolstoy, mengatakan, “harapan adalah impian yang terjaga”. Ketiga : Integritas. Menurut Warren Bennis, ada tiga bagian penting tentang integritas. Yaitu, pengetahuan mengenai diri sendiri, keterusterangan dan kedewasaan. Integritas kepemimpinan adalah fondasi yang mendasari seluruh  konstrukt karakter kepemimpinan. Keempat : Keingintahua dan kemauan, Pemimpin yang baik adalah, yang setiap saat selalu terpicu kengintahuannya tentang suatu masalah di sekitar lingkungannya. Dan hal ini harus didorong oleh kemauan yang kuat untuk memahami dan mencari solusi atas setiap problem sosial yang ada di tengah-tengah masyarakat. Dan untuk merai semua itu, seorang pemimpin harus bisa mengapresiaasi dirinya sendiri secara proporsional. Oleh Warren Bennis dikatakan “Bertepuk tangan untuk diri sendiri atas keberhasilan dan membungkuk sedikit, merupakan cara yang baik untuk belajara menikmati hidup dan merupakan bagian dari proses menemukan integritas kepemimpinan dalam diri sendiri (halaman : 50)

Seorang pemimpin yang efektif dalam kepemimpinannya juga, selain mengenal diri sendiri, juga harus memiliki pengetahuan dunia, atau pengetahuan global. Karena ia harus terkooptasi perubahan dalam skala besar. Dalam salah satau adagium kita sering mendengar, pemimpin yang baik adalah yang berfikal global dan bertindak global, bukan sebaliknya berfikir global tapi bertindak lokal. Hal ini berkaitan membangun relasi kepemimpinan yang cakupannya adalah dunia. Agar pemimpin tidak sebatas terkurung dalam kekerdilan sistimnya. Dalam buku ini disebut Warren Bennis sebagai memperluas pengalaman kepemimpinan dengan meyerap seluruh karakter kepemimpinan dunia (Halaman : 99).

Dengan memahami lingkup global kepemimpinan di atas, kita bisa memanfaatkan kesempatan untuk merasakan berbagai pengalaman kepemimpinan di seluruh dunia. Dan disinilah insting kepemimpinan di uji. Dalam istilahnya Warren Bennis dalam buku ini, disebutkanya dengan mengoperasikan potensi kepemimpinan berdasarkan insting. Namun pada dimensi berfikir tentang insting ini, kita perlu memberikan sebuah batasan konsep. Bahwa tidak semua insting bisa dioperasikan sebagaimana yang dimaksudkan Warren Bennis. Insting yang bisa didorong menjadi sebuah praktek kepemimpinan yang konkrit adalah insting positif. Dan hal ini harus didasari dengan kemampuan mengerahkan diri sendiri serta berupaya keras mencoba segala sesuatu. (Halaman 113).

Jika kemampuan yang dibekali dengan integritas kepemimpinan yang tinggi, baru seorang pemimpin diperkenankan menarik orang-orang untuk berpihak pada konsepsi-konsepsi kepemipinan yang dianutnya. Karena membangkitkan dan menggunakan secara penuh potensi seseorang, merupakan tugas sesungguhnya dari organisasi. Dengan dasar konsep ini, Warren Bennis berharap pemimpin yang afektif bisa terlahir dari suatu organisasi secara alamia.

Dalam bagian terakhir ini Warren Bennis juga menegaskan dalam buku ini bahwasanya, seorang pemimpin yang efektif juga harus mampu menyiapkan segala kesiapan diri dan masyarakat untuk menempa masa depan. Dan hal itu harus dilakukan dengan memenuhi 10 faktor masa depan. 1). Pemimpin mengelola impiannya. 2). Pemimpin yang bisa menerima kesalahan. 3). Pemimpin yang menganjurkan sanggahan balik. 4). Pemimpin yang menganjurkan ketidaksetujuan. 5). Pemimpin memiliki faktor nobel. 6). Pemimpin memahami pengaruh Pygmalion  dalam manajemen. 7). Pemimpin memiliki faktor Gretzky . 8). Pemimpin memandang jauh ke depan. 9). Memahami simetri bundar. Atau pemimpin yang mampu memadukan semua persoalan dalam satu-kesatuan proses pengambilan keputusan. 10). Pemimpin menciptakan kerjasama dan keimtraan strategis.

Apa yang ditawarkan oleh Warren Bennis dalam buku ini adalah, konsep kepemimpinan yang ideal. Ditengah-tengah krisi kepemimpinan multi dimensi, buku ini sangat pantas menjadi sebuah bacaan referensial. Untuk membedah dan memadukan konsepsi-konsepsi kepemimpinan efektif Warren Bennis dan realitas kepemimpinan saat ini.

Sumber : http://media.kompasiana.com/buku/2010/04/28/resensi-buku-menjadi-pemimpin-efektif-128498.html