COACHING PEMBELAJARAN DARING OLEH KEPALA SEKOLAH DAN PENGAWAS SEKOLAH SELAMA MASA PANDEMIK COVID 19

COACHING PEMBELAJARAN DARING OLEH KEPALA SEKOLAH DAN PENGAWAS SEKOLAH SELAMA MASA PANDEMIK COVID 19

Oleh: Drs. Yuli Cahyono, M.Pd

Widyaiswara Ahli Madya

LPPKSPS Karanganyar-Jawa Tengah

Tayangan di Web Seminar bisa diakses di Youtube: https://www.youtube.com/watch?v=q8uzIGnZdnY&t=4120s

Sampai tanggal 9 Mei 2020, di Indonesia sudah 12.071 orang positif Corona, 2.197 orang sembuh dan 872 orang meninggal dunia. Untuk memutus penularan dan penyebarannya, melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2020, pemerintah memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, secara cepat menyikapi situasi dan kondisi yang membahayakan bagi keselamatan pendidik dan peserta didik di semua jenjang pendidikan ini dengan menerbitkan Surat Edaran Nomor: 2 Tahun 2020 tentang Pencegahan, Penanganan Covid 19. Disusul kemudian dengan penerbitan Surat Edaran Nomor: 3 Tahun 2020 tentang Langkah Pencegahan Covid 19 pada Satuan Pendidikan. Dan kemudian disusul dengan penerbitan Surat Edaran Nomor: 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Pendidikan Dalam Masa Darurat Covid 19. Inti sari dari ketiga kebijakan tersebut adalah Belajar di Rumah, Bekerja di Rumah dan Beribadah di Rumah.

Tugas dan fungsi kepala sekolah dan pengawas sekolah melakukan supervisi pembelajaran guru, menjadi berbeda. Teknik supervisi kepala sekolah dan pengawas sekolah harus disesuaikan dengan perubahan pola pembelajaran dari tatap muka menjadi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Teknik supervisi yang tepat untuk dilakukan pada saat Belajar Dari Rumah (BDR) adalah Coaching. Lalu bagaimana coaching di saat BDR ini dilakukan? Coaching di masa BDR menggunakan filosofi Pendidikan Sistem Among (PSA) yang digagas oleh Ki Hajar Dewantara, dimana guru berperan sebagai Pamong. Asih-Asah-Asuh. Mengapa? Karena PSA memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada siswa untuk belajar selama tidak ada bahaya yang mengancam. Jadi, implementasi PSA di masa BDR ini diramu dengan icon-icon baru pembelajaran modern dan pembelajaran Dalam Jaringan (Daring).

Yang kita sedang hadapi sekarang adalah situasi dan kondisi yang tidak biasa dan membahayakan. Bagaimana pembelajaran bisa berjalan dengan baik dengan tetap memperhatikan protocol kesehatan. Kita tidak lagi membutuhkan pelatihan atau kursus. Kita membutuhkan metode belajar lain yang bisa membuat guru belajar lebih efektif. Coaching bisa membuat guru belajar lebih cepat karena guru bekerja adalah belajar, belajar adalah bekerja, dan belajar terjadi pada saat guru bekerja. Mengapa? Karena sebagai pamong, guru bersikap saling mengasah, saling mengasuh, saling mengasihi, saling mengajari, saling melatih, saling membimbing, dan saling meng-coach/mentor.

Siapa saja yang berperan secara formal dan informal terhadap kinerja guru? Pertama, di internal sekolah, guru senior yang berpengalaman mengatasi permasalahan terkait pembelajaran. Atau bukan guru senior tetapi memiliki kemampuan dan keterampilan istimewa di bidang tertentu, misalnya teknologi, informasi dan komunikasi (TIK). Disamping tentu saja kepala sekolah dan pengawas sekolah.

Coaching masa BDR bertujuan membantu guru mencapai tujuan yang terkait pekerjaan, memberikan pengetahuan dan keterampilan bekerja yang terkini, meningkatkan target capaian kinerja guru, dan mengembangkan produktivitas kerja guru terkait pelaksanaan pembelajaran Daring. Coaching dilakukan secara formal dan informal, sewaktu-waktu bisa dilakukan, sebagai budaya dan bukan sebagai sekedar jadwal/kalender semata, dan bisa secara klinis atau bantuan kelompok, bisa dilakukan pada saat guru sedang tidak melaksanakan pembelajaran Daring tetapi juga bisa dilaksanakan pada saat guru sedang melaksanakan pembelajaran Daring. Coaching lebih ditekankan pada interaksi, komunikasi atau silaturahmi antara kepala sekolah atau pengawas sekolah dengan guru, untuk mendorong, memotivasi, mendukung guru bekerja dari rumah dengan lebih baik dan lebih baik lagi dari waktu ke waktu.

Coaching masa BDR dilakukan dengan memberikan pertanyaan yang efektif untuk membuat guru sadar dan berpikir apa yang harus dilakukan agar pembelajaran Daring menjadi lebih baik lagi. Guru juga didorong untuk berbagi hasil pekerjaan, supaya guru bisa saling melihat hasil pembelajaran, saling mencontoh dan saling mengadaptasi hasil pembelajaran satu sama lain, saling menguatkan, saling meningkatkan kemampuan diri dan saling mempertajam praktek pembelajaran Daring. Cerita tentang praktek baik (best practices story) lebih penting untuk dibagikan agar guru semakin profesional dalam seluk beluk pembelajaran Daring.

Seperti apa Coaching masa BDR dilakukan? Seperti pertandingan olahraga singkat dan taktis. Misalkan, pertandingan bola voli, pada saat tim dalam kondisi lemah maka pelatih akan meminta waktu time-out, untuk menganalisis apa yang terjadi, menjelaskan kepada tim supaya sadar apa yang sedang terjadi dan menutup coaching dengan sebuah rencana apa selanjutnya yang akan dilakukan.  Demikian seterusnya berulang dan terus menerus. Supaya guru selalu sadar dan menjadi cepat belajar dengan mendapatkan lesson-learnt baru.  Coaching pada dasarnya adalah sebuah komunikasi, wawancara, percakapan atau dialog.  Orang yang ditanya adalah orang yang diperhatikan merasa diperhatikan keluhannya; dan kesulitannya didengarkan. Orang yang kesulitannya didengarkan dan bahkan dibantu penyelesaiannya adalah orang-orang yang bahagai (well-being). Jika coaching seperti ini dilakukan secara terus menerus maka kinerja guru meningkat, kompetensi guru meningkat, well-being siswa dan guru terjamin serta gaya kepemimpinan baru kepala sekolah terbentuk, yakni gaya kepemimpinan coaching yang mengandalkan integritas (sidik, amanah, fathonah); kharismatik (kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi dan empati); serta komunikasi (sosial, tabligh). (Daniel Goleman; 2004).

Model coaching yang bisa dipilih, antara lain GROW, OSCAR, OSKHAR, ACHIEVE, CIGAR, atau FUEL. Model yang dipilih disesuikan dengan ketepatan terhadap tujuan, kesukaan, dan relevan dengan situasi dan kondisi sekolah yang pasti berbeda satu dengan yang lain.  Model bisa dipilih mana yang paling tepat tetapi instrumen dan pertanyaan coaching dikembangkan sendiri oleh coach. Bagaimana coaching dikembangkan menjadi sebuah budaya di sekolah? Beberapa ikon-ikon pembelajaran modern berikut ini penting untuk diterapkan, antara lain, 1) Mindset Tumbuh (Growth Mindset; Carrol Dweck: 2007); 2) Belajar dari kesalahan (Value Mistakes: Cannon and Edmondson: 2005); 3) Berbagi Praktik Dalam Komunitas (Community of Practice: Lave and Wenger: 2016); perubahan berulang dan terus menerus (Iterative improvement: Kipling Society) dan Pembelajaran Dalam Jaringan (Daring).   

Coaching adalah salah satu dari implementasi tugas dan fungsi kepala sekolah dan pengawas sekolah. Kepala sekolah atau pengawas sekolah harus membuat perencanaan yang baik. Perencanaan coaching mencakup, penyusunan program, penetapan team coaching, penyusunan instrumen dan penyediaan peralatan. Pelaksanaan coaching, mencakup penyusunan skenario coaching (sebagai SOP), pelaksanaan coaching (dibuat secara terprogram untuk satu periode BDR) tetapi tidak perlu terjadwalkan dalam hari/tanggal/jam).  Hasil pelaksanaan direkapitulasi, dianalisis dan disimpulkan. Perlu juga dibuat evaluasi kegiatan, meliputi evaluasi program dan evaluasi pelaksanaan coaching. Hasil pengumpulan data lalu direkapitulasi, dianalisis dan disimpulkan. Laporan akhir disusun dari hasil pelaksanaan dan hasil evaluasi program coaching, menyatu di dalam sebuah laporan semester atau laporan tahunan kepala sekolah atau pengawas sekolah.

Share this Post: