DIKLAT PENGUATAN KEPALA SEKOLAH DALAM JARINGAN ( BAGIAN 2 )

Bagian 2. Mengidentifikasi Masalah Pembelajaran Di Sekolah

Whats-App-Image-2020-07-12-at-12-39-54

Oleh: Drs. Yuli Cahyono, M.Pd
Widyaiswara Ahli Madya
Kemdikbud, LPPKSPS, Karanganyar-Jawa Tengah


Artikel ini bagian kedua dari seri Diklat Penguatan Kepala Sekolah. Kita memfokuskan pembahasan pada tahap awal dari siklus pengembangan sekolah Model ORPAER, yakni melakukan observasi dan refleksi terhadap situasi dan kondisi di sekolah untuk menemukan masalah pembelajaran siswa (kemdikbud, 2020). Pada artikel sebelumnya, kita sudah membahas bahwa pengembangan sekolah didasarkan atas dua aspek, yakni bukti-bukti (evidence) dan pengalaman-pengalaman (experience) yang dimiliki oleh kepala sekolah (Henry Minzberg, 2019). Salah satu bukti (evidence) yang dapat digunakan untuk menggambarkan situasi dan kondisi nyata di sekolah, adalah hasil penilaian Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI). Pertanyaannya adalah bagaimana sekolah, dalam hal ini kepala sekolah dan guru mengidentifikasi dan menentukan masalah pembelajaran siswa dalam program pengembangan sekolah (PPS)?

Sekolah dapat melakukan langkah-langkah kegiatan, sebagai berikut:
•    Mengidentifikasi data hasil Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI)
Misalnya, berdasarkan Rapor Mutu tahun 2018, dari 8 Standar Nasional Pendidikan (SNP), SDN 001 Merdeka Belajar memiliki 3 (tiga) SNP yang rendah dengan urutan dari terendah, yaitu Standar Sarana dan Prasarana Pendidikan 3,64; Standar pendidik dan Tenaga Kependidikan 4,52; dan Standar Penilaian Pendidikan 5,33. Maka kita bisa simpulkan bahwa Standar Penilaian yang mempunyai nilai 5,33 menempati urutan terbawah ketiga, setelah Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan dan Standar Sarana dan Prasarana Pendidikan.
•    menentukan prioritas peningkatan dan pengembangan kinerja sekolah;
Dengan mencermati hasil rekapitulasi data di atas, dan berdasarkan pertimbangan bahwa Standar Sarana dan Prasarana Pendidikan dan Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan menjadi kewajiban pemerintah pusat/daerah dalam pemenuhannya, maka kita bisa menentukan prioritas peningkatan dan pengembangan kinerja sekolah pada Standar Penilaian.
•    menentukan permasalahan pembelajaran utama yang akan diatasi;
Untuk menentukan permasalahan utama yang mana yang akan diatasi, diperbaiki, ditingkatkan dan dikembangkan maka kita harus melihat bagian rekomendasi dari hasil penilaian Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI). Misalnya, dari rekomendasi yang diberikan, kita menemukan bahwa penyebab rendahnya pencapaian standar penilaian di sekolah tersebut adalah karena rendahnya pencapaian beberapa indikator, antara lain:
1)    indikator no 3, yakni guru dalam menginformasikan hasil penilaian kepada peserta didik mengenai Rubrik Penilaian belum sesuai dengan standar atau bahkan mungkin tidak dilakukan;
2)    indikator no 4, yakni guru tidak melakukan pengamatan dalam proses pembelajaran;
3)    indikator no 8, yakni guru menentukan KKM setiap mata  pelajaran dengan tidak memperhatikan karakteristik peserta didik, tidak memperhatikan karakteristik mata pelajaran, atau tidak memperhatikan kondisi satuan pendidikan melalui tidak melalui rapat dewan pendidik;
4)    indikator no 9, yakni sekolah tidak berkoordinasi dengan pihak terkait dalam penyelenggaraan kegiatan evaluasi pembelajaran;
5)    indikator no 12, yakni sistem pelaporan hasil penilaian guru tidak sesuai dengan standar atau bahkan mungkin tidak tersistem.

Namun demikian, perlu dipahami bahwa beberapa indikator capaian di atas terfokus pada tanggungjawab sekolah, yakni pada indikator nomor 9 dan nomor 10; dan pada guru, yakni pada indikator nomor 3, nomor 4 dan nomor 8.  Kita masih belum menyentuh pada aspek permasalahan pembelajaran siswa. Kita perlu memperdalam dan memperluas kajian dengan melakukan penelitian lebih mendalam apa saja akibat yang ditimbulkan dari rendahnya capaian Standar Penilaian ini terhadap pembelajaran siswa. Penelitian lebih mendalam dapat dilakukan kepala sekolah, bersama kelompok kerja sekolah melakukan survei dengan menggunakan kuesioner, atau wawancara, atau observasi, atau Focus Group Discussion (FGD), yang melibatkan guru, siswa, dan orang tua siswa.

Penelitian awal dilakukan untuk mengungkap mengapa sesuatu terjadi dan berhasil dan mengapa sesuatu menjadi tidak efektif dan gagal; bagaimana sesuatu itu terjadi dan berhasil dan bagaimana sesuatu menjadi tidak efektif dan tidak maksimal hasilnya. Sehingga kita menemukan sebuah kebenaran yang terjelaskan (explanatory truth). Instrumen survei bisa dikembangkan dari indikator-indikator capain Standar Penilaian yang masih rendah nilainya. Sedangkan Focus Group Discussion (FGD) dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai Teknik Analisis Statistik (TAM), misalnya Fishbone Analysis, Field Force Analysis, Causal Map Analysis, Diagram Pohon Masalah, Matriks Identifikasi Masalah, Lotus Blossom Analysis, dan teknik analisis lain yang relevan.

Dari hasil penelitian awal tersebut, sekolah menemukan berbagai permasalahan pembelajaran yang dialami oleh siswa sebagai akibat dari rendahnya capaian Standar Penilaian di sekolah. Misalnya, 1) siswa kesulitan menyeleseikan soal buatan guru. 2) Siswa merasa hasil penilaian guru tidak sesuai dengan kenyataan. 3) Siswa terbebani dengan batas ketuntasan belajar yang terlalu tinggi. 4) Siswa tidak siap mengikuti ujian (formatif, tengah semester ataupun semester). 5) Orang tua siswa meragukan hasil penilaian belajar anaknya. Dan berbagai persoalan pembelajaran siswa lainnya. Permasalahan pembelajaran siswa yang utama dapat dianalisis dengan memanfaatkan Teknik Analisis Statistik (TAM), misalnya Analisis Prioritas, Paretto Analysis, Brainstorming, Matriks USG, Skala Nilai atau dengan menggunakan Check Sheet.

Beberapa pertanyaan berikut sangat bagus untuk menguji apakah permasalahan pembelajaran siswa yang akan diatasi itu berkualitas dan benar-benar terjadi dan dialami oleh siswa di sekolah tersebut, antara lain: 1) apakah permasalahan pembelajaran siswa yang akan diatasi itu merefleksikan masa depan pembelajaran siswa di sekolah itu nantinya; 2) apakah permasalahan pembelajaran siswa yang akan diatasi itu memperlihatkan perkembangan pembelajaran siswa di sekolah itu nantinya; 3) apakah permasalahan pembelajaran siswa yang akan diatasi itu memiliki harapan atau kans positif untuk diterapkan di sekolah itu; 4) apakah permasalahan pembelajaran siswa yang akan diatasi itu meluas sampai ke keterhubungan secara pribadi dan jaringan semua warga di sekolah itu; 5) apakah permasalahan pembelajaran siswa yang akan diatasi itu memungkinkan orang lain mencari peluang baru; dan 6) apakah permasalahan pembelajaran siswa yang akan diatasi itu memberikan arahan strategis pada setiap warga di sekolah untuk mengeksplorasi secara lebih meluas dan mendalam (Natalie Turner, 2018).

Kebijakan
Kemdikbud. 2020. Panduan Diklat Penguatan Kepala Sekolah Tahun 2020. Direktorat Pendidikan dan Pembinaan Profesi Guru dan Tenaga Kependidikan. Jakarta
Kemdikbud 2020. Bahan Bacaan Diklat Penguatan Kepala Sekolah. LPPKSPS. Karanganyar. Jawa Tengah.

Referensi
Henry Mintzberg.2019. Bed Time Stories or Managers. Barret-Koehler Publishers, Inc. 1333 Broadway, Suite 1000, Oakland, CA 94612-1921

 

Share this Post: