DIKLAT PENGUATAN KEPALA SEKOLAH DALAM JARINGAN ( BAGIAN 3)

Bagian 3. Menemukan Gagasan Baru Pemecahan Masalah Pembelajaran Siswa Untuk Pengembangan Sekolah

Whats-App-Image-2020-07-08-at-10-54-23

Oleh: Drs. Yuli Cahyono, M.Pd
Widyaiswara Ahli Madya
Kemdikbud, LPPKSPS, Karanganyar-Jawa Tengah


Artikel ini bagian ketiga dari seri Diklat Penguatan Kepala Sekolah. Kita memfokuskan pembahasan pada tahap Plan dari siklus pengembangan sekolah Model ORPAER, yakni menemukan gagasan baru untuk menjawab masalah pembelajaran siswa yang di temukan di sekolah (Kemdikbud, 2020). Pada artikel sebelumnya, kita sudah membahas bahwa pengembangan sekolah didasarkan atas dua aspek, yakni bukti-bukti (evidence) dan pengalaman-pengalaman (experience) yang dimiliki oleh kepala sekolah (Henry Minzberg, 2019). Nah, bagian terpenting di tahap In Service Training (IST) pada Diklat Penguatan Kepala Sekolah, adalah Berbagi Praktik Baik (Sharing Best Practice). Pertanyaannya adalah bagaimana sekolah, dalam hal ini kepala sekolah dan guru menemukan gagasan baru untuk menjawab masalah pembelajaran siswa dalam rencana pengembangan sekolah (RPS)?

Sekolah dapat melakukan langkah-langkah kegiatan, sebagai berikut:

• Menemukan gagasan baru untuk pengembangan sekolah dengan menggunakan Tehnik Analisis Manajemen (TAM)

Analisis SWOT dilakukan terhadap situasi dan kondisi ekosistem sekolah yang mencakup aspek: kondisi ekologis sekolah, kondisi sosial sekolah, dan kondisi spiritual sekolah. Kondisi ekologis sekolah mencakup sumber daya alam, sumber daya manusia, lokasi geografis, historis, dan daya dukung pemerintah. Kondisi sosial mencakup peserta didik, pendidik, sarana dan prasarana, pembiayaan, dan daya dukung komite sekolah. Sedangkan kondisi spiritual mencakup agama dan budaya. Analisis SWOT memberikan informasi tentang berbagai alternatif pilihan strategi yang diperlukan untuk menjawab permasalahan pembelajaran siswa di sekolah. Strategi adalah segala daya dan upaya yang bisa dilakukan sekolah untuk mendekati masalah pembelajaran dan lalu menyeleseikannya secara akurat. Itulah makanya dari satu permasalahan pembelajaran siswa saja, bisa jadi, memerlukan lebih dari satu program kegiatan, misalnya untuk mengatasi masalah siswa yang mengalami kebosanan melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ), sekolah perlu memfasilitasi guru dengan program kegiatan tertentu. Sekolah perlu memfasilitasi orang tua dengan program kegiatan tertentu. Sekolah perlu memfasilitasi siswa dengan program kegiatan tertentu. Sekolah perlu memfasilitasi program pengadaan sarana dan prasarana baru tertentu. Sekolah perlu memfasilitasi program kegiatan tertentu dengan alokasi pembiayaan khusus, dan sebagainya (Kemdikbud, 2020).

Analisis SWOT menjadi sangat penting untuk dilakukan, Pertama, Analisis SWOT memungkinkan sekolah untuk mengekplorasi kelebihan, kekurangan, peluang, dan ancaman terhadap ekosistem sekolah dan lalu menjawabnya dengan penuh kreatifitas, berupa gagasan baru atau sering disebut sebagai Deskripsi Inovasi. Kedua, Analisis SWOT memungkinkan sekolah untuk berani menerima dan menjawab situasi, tidak hanya dengan cara mengcopy paste strategi dari sekolah lain, namun dengan melihat sepenuhnya (open mind), mengerti sepenuhnya (open heart), dan menerima sepenuhnya (open will) untuk kemudian mengembangkan keputusan bersama warga sekolah berdasarkan hasil penerimaan itu menjadi sebuah gagasan baru yang spesifik dan unik untuk sekolah itu. Kepala sekolah bersama warga sekolah membuat deskripsi inovasi atau desain/pola inovasi berupa skenario kegiatan yang akan dilakukan.

• Menemukan gagasan baru untuk pengembangan sekolah dengan kewirausahaan sekolah;

Pengembangan sekolah pada dasarnya adalah sebuah kegiatan pengembangan kreatifitas dan inovasi sekolah. Itulah makanya pengembangan sekolah sangat erat kaitannya dengan pengembangan kewirausahaan sekolah. Kreatifitas adalah salah satu kemampuan manusia untuk mengintegrasikan stimuli-luar (yang sedang dihadapinya sekarang) dengan stimuli-dalam (memori lama yang telah dimiliki) sehingga tercipta satu kebulatan memori baru yang bermutu. Memori yang telah dimiliki di-integrasikan (dicerna) oleh ambang sadar dan tak sadar hingga tercipta memori baru. Dalam proses mencerna inilah timbul ide, gagasan, ilham yang orisinil, baru dan berbeda dari yang pernah ada sebelumnya. Untuk menyalakan ide atau gagasan baru, bisa dilakukan dengan 1) menghasilkan alternatif ide baru sebanyak-banyaknya; 2) secara terus menerus mencari pengetahuan di luar area perhatian yang sudah biasa (out of box); 3) menantang cara berpikir kita sendiri; dan 4) mencari hubungan antara ide-ide yang berbeda dan tidak saling berhubungan. 
      Ide atau gagasan itu tidak selalu sesuatu yang orisinal. Tetapi sesuatu yang mampu mengkombinasikan cara berpikir yang berbeda untuk menjadi sesuatu yang baru juga sebuah kreatifitas. Misalnya, sebuah sekolah luar biasa (SLB) biasanya muridnya sedikit dibandingkan dengan sekolah umum. Namun ada sebuah sekolah di Jepara, Jawa Tengah yang memiliki kantin yang besar sekali. Ketika ditanya, mengapa sekolah SLB ini memiliki kantin yang besar, padahal siswanya sedikit. Ternyata, kita baru disadarkan bahwa ketika para siswa SLB bersekolah, mereka diantarkan oleh orang tua, saudara atau pengasuh yang senantiasa menunggui mereka selama bersekolah dari pagi sampai sore. Maka jumlah pengunjung kantin adalah dua tiga kali lebih besar dari jumlah siswanya. Bagaimana ide seperti ini bisa muncul di benak kepala sekolah adalah sebuah pengembangan unit produksi sekolah yang kreatif dan inovatif.

• Menemukan gagasan baru untuk pengembangan sekolah melalui Berbagi Praktek Baik;

Di artikel sebelumnya saya pernah membahas tentang ini. Keterkaitan antara bukti (evidence) dan pengalaman (experience). Singkatnya seperti ini. Ketinggian gunung Semeru yang menjulang tinggi lebih dari 3000 kaki adalah sebuah bukti (evidence). Dan cerita tentang orang yang pernah mendaki gunung Semeru yang selalu berbeda-beda adalah pengalaman (experience). Bagaimana sesuatu yang secara rasional bisa dibuktikan sama dalam hal jarak tetapi tidak pernah menghasilkan cerita yang sama. Intinya, perlu kesimbangan antara pembelajaran berbasis pengetahuan dengan pembelajaran berbasis pengalaman (action learning).
     Atau barusan yang saya alami tadi malam. Idul Adha 1441 H ini, seperti kebanyakan keluarga lain, kami membuat Lepet, yakni makanan tradisional yang terbuat dari Ketan yang dibungkus Janur, yakni pelepah daun kelapa. Membungkus Lepet pun tidak sembarangan, harus dilakukan secara khusus, sehingga perlu pelatihan dulu secara khusu. Dan cara mengikat Lepet pun khusus juga, yakni dengan menggunakan lidi dari Janur itu. Satu Lepet memerlukan satu lidi dari Janur itu. Karena keterbatasan waktu, kami hanya berniat membuat Lepet saja, dan tidak ingin membuat Ketupat, yakni makanan tradisional juga yang terbuat dari beras yang dibungkus Janur juga. Nah, karena kami hanya membuat Lepet saja, maka kami membeli hanya sedikit Janur. Sebuah cara pemikiran yang rasional kan? Ya, tapi apa akibatnya? Karena kami hanya sedikit membeli Janur, maka ketika membungkus Lepet, baru sampai sepertiganya saja maka lidi Janur sudah habis. Maka, karena sudah tengah malam, kami mengganti lidi itu dengan tali rafia. Sebuah cara pemikiran yang rasional kan? Ya, tapi apa akibatnya? Mengikat Lepet dengan tali rafia ternyata jauh lebih sulit dan makan waktu lama serta membuat jari tangan sakit. Dan ikatan tali rafia pada Lepet, ternyata berbeda dengan ikatan lidi Janur pada Lepet. Ikatan lidi janur membuat Lepet terikat dengan kuat dan lebih elastis mengikuti pemekaran Ketan jika dikrebus. Sedangkan ikatan tali rafia membuat Lepet tidak mekar secara elastis dan ikatannya melorot, dan nggak cantik lagi. 
     Pesan yang ingin saya sampaikan adalah, dengan berbagi cerita, dalam kegiatan In Service Training (IST), yakni Berbagi Praktek Baik, pemahaman dan pengetahuan kepala sekolah jauh lebih tajam dan mendalam, jauh lebih meluas dan menjangkau banyak aspek, operasional dan teknis. Ini membantu kepala sekolah untuk lebih elastis dalam menyusun gagasan baru pemecahan masalah pembelajaran siswa, mengembangkan strategi dan langkah-langkah kegiatan dalam menyusun rencana pengembangan sekolah di tahap selanjutnya.

• Karakteristik pemecahan masalah pembelajaran siswa untuk pengembangan sekolah;
        Untuk menyalakan ide atau gagasan baru, suasana di sekolah harus bebas. Kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, orang tua, masyarakat dan secara khusus siswa perlu diberikan kebebasan untuk berpikir, berbicara dan bertindak dan terus menerus mengeluarkan ide dan gagasannya. Sekolah yang seperti ini akan menciptakan lingkungan yang dipercaya oleh semua warga sekolah bebas menyampaikan pendapat, ide, gagasannya tanpa rasa takut untuk dinilai jelek oleh siapapun. Mereka yang memiliki kepercayaan diri tinggi akan menjadi generator lahirnya ide baru atau solusi baru. Mereka akan menawarkan energi kreatif dan keaslian ide. Suasana sekolah yang seperti ini, melahirkan rasa ingin tahu yang akan mendorong lahirnya inisiatif berpikir baru dan menantang status quo, yakni dengan melihat sesuatu dengan cara berpikir yang berbeda, untuk melahirkan sesuatu yang lebih baik. Mereka yang beride cemerlang biasanya berpikir tentang masa depan dan berorientasi perubahan. Ide-ide baru itu menjadi mesin pendorong inovasi yang paling utama.

Gagasan baru yang bagus itu yang seperti apa? Untuk menilai sebuah gagasan baru atau deskripsi inovasi untuk pemecahan masalah pembelajaran siswa, kita bisa menggunakan beberapa pertanyaan berikut ini: 1) apakah pemecahan masalah pembelajaran siswa itu mengandung banyak pilihan dan kemungkinan baru untuk diterapkan di sekolah itu nantinya; 2) apakah pemecahan masalah pembelajaran siswa itu menantang asumsi yang sekarang sedang terjadi di sekolah itu nantinya; 3) apakah pemecahan masalah pembelajaran siswa itu melihat bagaimana ide dikombinasikan dan dikoneksikan di sekolah itu nantinya; 4) apakah pemecahan masalah pembelajaran siswa itu memperluas wawasan warga sekolah untuk belajar sesuatu yang baru di sekolah itu nantinya; 5) apakah pemecahan masalah pembelajaran siswa itu merangsang semua warga sekolah untuk menyumbangkan idenya di sekolah itu nantinya; dan 6) apakah pemecahan masalah pembelajaran siswa itu membangun kultur baru untuk tumbuhnya kebebasan berekspresi di sekolah itu nantinya (Natalie Turner, 2018).

Kebijakan 
Kemdikbud. 2020. Panduan Diklat Penguatan Kepala Sekolah Tahun 2020. Direktorat Pendidikan dan Pembinaan Profesi Guru dan Tenaga Kependidikan. Jakarta
Kemdikbud 2020. Bahan Bacaan Diklat Penguatan Kepala Sekolah. LPPKSPS. Karanganyar. Jawa Tengah.

Referensi
Henry Mintzberg.2019. Bed Time Stories or Managers. Barret-Koehler Publishers, Inc. 1333 Broadway, Suite 1000, Oakland, CA 94612-1921
Natalie Turner, 2018, Yes, You Can Innovate, Pearson Education Limited, KAO Two, KAO Park, Harlow CM17 9NA United Kingdom
 

Share this Post: