DIKLAT PENGUATAN KEPALA SEKOLAH DALAM JARINGAN (BAGIAN 1)

Bagian 1. Siklus Pengembangan Sekolah Dari Teori U Ke ORPAER

Whats-App-Image-2020-07-16-at-10-20-51-1

Oleh: Drs. Yuli Cahyono, M.Pd
Widyaiswara Ahli Madya
Kemdikbud, LPPKSPS, Karanganyar-Jawa Tengah


Artikel ini bagian pertama dari seri Diklat Penguatan Kepala Sekolah. Kita memfokuskan pembahasan pada siklus pengembangan sekolah terbaru yang segera akan di-release oleh Direktorat Pendidikan Profesi dan Pembinaan Guru dan Tenaga kependidikan (PPPGTK) awal bulan Agustus 2020 ini. Anggaplah artikel ini sebagai sebuah sinopsis promosi program Diklat Penguatan Kepala Sekolah terbaru keluaran produser diklat kepala sekolah nasional kita, yakni LPPKSPS, Karanganyar Jawa Tengah.

Aspek pengembangan sekolah menjadi sangat penting untuk dibahas, khususnya terkait dengan adaptasi 1) kepengawasan sekolah; 2) kepemimpinan sekolah; dan 3) pembelajaran guru di sekolah terhadap hal-hal baru yang sedang dan makin kencang perkembangannya terjadi di sekolah. Pertanyaannya adalah bagaimana siklus pengembangan sekolah yang efektif dan mudah diterapkan di sekolah di jaman yang sedang berubah saat ini? Pada beberapa bagian dari artikel ini, saya mengambil dari implikasi atas riset dan pengembangan praktek baik saya tahun 2019-2020 (Yuli Cahyono, 2020) dan Panduan Diklat Penguatan Kepala Sekolah Tahun 2020 (Kemdikbud, 2020).

Model pengembangan sekolah yang akan diterapkan pada Diklat Penguatan Kepala Sekolah Tahun 2020 adalah siklus pengembangan sekolah ORPAER (Observe, Reflect, Plan, Act, Evaluate, dan Reflect). Dengan tahapan pelaksanaan disesuaikan dengan pola Diklat Penguatan Kepala Sekolah Tahun 2020, yakni On The Job Training 1 (OJT-1); In Service Training (IST); dan On The Job Training 2 (OJT-2). Rincian kegiatannya bisa digambarkan seperti ini.

1. Strategi pembelajaran tahap On The Job Training 1 (OJT-1) menerapkan unsur “Observe” dan “Reflect”. Peserta bersama seluruh elemen sekolah melakukan observasi (pengamatan, wawancara, dialog) terkait kondisi nyata di sekolah secara menyeluruh untuk mengidentifikasi berbagai masalah pembelajaran yang ditemukan dan penyebabnya, serta melakukan refleksi untuk menemukan masalah pembelajaran utama yang perlu diatasi. Kunci keberhasilan agar kepala sekolah mampu menentukan masalah utama terkait pembelajaran adalah adanya keterlibatan seluruh warga sekolah (community) dalam mengidentifikasi masalah pembelajaran, sehingga mendapatkan suatu masalah yang dirasakan bersama oleh pemangku kepentingan sekolah. Bukan masalah menurut pemikiran kepala sekolah sendiri. Peserta juga dapat mencermati bahan bacaan yang disediakan di Learning Management System (LMS) sebagai bahan referensi untuk memperkaya informasi/pengetahuan, khususnya terkait masalah pembelajaran yang muncul sehubungan dengan kompetensi manajerial, supervisi guru dan tendik, atau pengembangan kewirausahaan.

2. Strategi pembelajaran tahap In Service Training (IST) menerapkan tahapan Plan berupa deskripsi inovasi yang merupakan hasil modifikasi dari “Teori U” oleh Otto Schamer (2007). Sintak pembelajaran yang digunakan pada tahap ini adalah ILEAD (Introduction, Link, Enforcement, Awareness, dan Development). Peserta menyusun rencana pengembangan sekolah (RPS) untuk dilaksanakan pada tahap On The Job Training 2 (OJT-2. Penyusunan RPS dilaksanakan setelah peserta berdiskusi dan berbagi praktik baik untuk menemukan berbagai alternatif solusi masalah yang telah ditemukan berdasarkan pengalaman kepala sekolah selama ini yang sudah disusun menjadi praktek baik pada saat On The Job Training 1 (OJT-1).

3. Strategi pembelajaran tahap On The Job Training 2 (OJT-2) menerapkan unsur “Act”, “Evaluate”, dan “Reflect”. Peserta bersama seluruh pemangku kepentingan dan warga sekolah melaksanakan pengembangan sekolah yang telah disusun pada IST, menyusun laporan pelaksanaan RPS, dan melaksanakan evaluasi pelaksanaan pengembangan sekolah yang telah dilaksanakan oleh semua warga sekolah.

Proses adaptasi dari Teori U ke ORPAER sebenarnya merupakan kreatifitas intelektual teman teman di LPPKSPS, bagaimana menerapkan Teori U yang komprehensif dan rumit menjadi lebih mudah dan efektif untuk diterapkan di sekolah yang beragam situasi dan kondisinya. Teori U adalah sebuah metode berbasis kesadaran untuk mengubah sistem berdasarkan hasil pengkajian atas kondisi ekologis, sosial dan spiritual untuk kemudian membuat design berpikir, inovasi dan melakukan perubahan (C. Otto Scharmer, 2018). Teori U sebagai sebuah metode mengintegrasikan 4 metode perubahan yang efektif, antara lain a) Action Research; b) Design Thinking; c) Mindfullnes, Cognition Science, Phenomenology; dan d) Civil Society.

Mengapa Teori U menjadi sangat penting untuk diterapkan di sekolah-sekolah di era pendidikan sekarang ini? Pertama, Teori U memungkinkan kepala sekolah untuk memfasilitasi perubahan dari sisi dalam untuk menangkap masa depan dan mengekplorasinya dengan penuh kreatifitas, berupa deskripsi inovasi. Kedua, Teori U memungkinkan kepala sekolah untuk berani menerima dan menjawab situasi, tidak hanya dengan cara mengcopy paste tindak kepemimpinan dari sekolah lain, namun dengan melihat sepenuhnya (open mind), mengerti sepenuhnya (open heart), dan menerima sepenuhnya (open will) untuk kemudian mengembangkan keputusan bersama berdasarkan hasil penerimaan bersama.

Bagaimana Teori U bekerja efektif membuat perubahan? Karena cara pandang yang holistik dari Teori U diperlukan oleh kepala sekolah kita sekarang ini. Kepala sekolah kita merasa semakin berat beban kerja dan kesulitan menghadapi fixed-mindset, pola pikir negatif kadang tidak rasional, karakter dan moralitas yang buruk, kebiasaan yang tidak produktif, dan perilaku menyimpang di luar kesadaran (unconscious) diantara para siswa, guru, staff, orang tua, masyarakat, dan di lingkungan di sekitar sekolah yang sudah berurat berakar. Maka, sebuah problematika yang kompleks membutuhkan strategi baru yang sudah terbukti BEKERJA EFEKTIF dan MUDAH untuk diterapkan oleh semua kepala sekolah di Indonesia.

Kedua, hal lain yang mendasari adaptasi Teori U menjadi ORPAER adalah pencerahan tentang perbedaan antara bukti (evidence) dan pengalaman (experience) dari Henry Minzberg (Henry Minzberg, 2019). Ilustrasi keterkaitan antara bukti dan pengalaman seperti ini. Ketinggian gunung Semeru yang menjulang tinggi lebih dari 3000 kaki adalah sebuah bukti (evidence). Dan cerita tentang orang yang pernah mendaki gunung Semeru yang selalu berbeda-beda adalah pengalaman (experience). Bagaimana sesuatu yang secara rasional bisa dibuktikan sama dalam hal jarak tetapi tidak pernah menghasilkan cerita yang sama. Fenomena yang lain, misalnya tentang per-sepeda-an yang sedang menjadi trend gaya hidup kita saat ini. Ukuran pelek sepeda racing menjadi bukti bahwa bersepeda menjadi terasa lebih cepat dan ringan. Atau tentang manajemen rumah sakit: bagaimana obat bekerja berdasarkan bukti dan bagaimana obat bekerja berdasarkan pengalaman. Pesan yang ingin saya sampaikan adalah perlu kesimbangan antara 1) Pembelajaran di kelas yang berbasis bukti; dengan 2) pembelajaran di dunia nyata (real work-world) yang berbasis pengalaman (action learning). Teori U dengan sintak ORPA, yakni Co-Observe, Co-Reflect, Co-Plan, Co-Act/evolve) beradaptasi menjadi ORPAER (Observe, Reflect, Plan, Act, Evaluate, dan Reflect) yang lebih sederhana, dalam pandangan teman-teman di LPPKSPS.

Sebagai penutup, saya mengajak para pengawas sekolah di semua jenjang pendidikan, untuk mendampingi para kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, dan siswa di sekolah binaan, melakukan pengembangan sekolah. Misalnya dalam pengembangan pembelajaran jarak jauh (PJJ), Blended Learning (BL), daring dan luring untuk menyesuaikan pembelajaran sekolah dengan situasi dan kondisi sekolah di saat Belajar Dari Rumah (BDR) karena Pandemik Covid 19. Lalu, pengembangan sekolah untuk menyesuaikan dengan program Kemdikbud yang sekarang sedang dan makin kencang saja arusnya, yakni Merdeka Belajar. Kemudian, penguatan pendidikan karakter bangsa yang sudah sejak 3-4 tahun ini berjalan di sekolah, dan tentu harus disesuaikan juga dengan dampak perubahan pembelajaran di sekolah di jaman yang sedang berubah saat ini. Dan hal lain yang segera akan menyusul, ruh-nya segala tetek bengek perubahan, yakni pengembangan kurikulum sekolah. Kurikulum 2013 mesti juga harus direnovasi kembali. Semuanya adalah bentuk-bentuk pengembangan sekolah yang harus dihadapi sekolah saat ini.

Kebijakan

Kemdikbud. 2020. Peta Jalan Pendidikan Indonesia 2020-2035. Kemdikbud, Jakarta

Kemdikbud. 2020. Panduan Diklat Penguatan Kepala Sekolah Tahun 2020. Direktorat Pendidikan dan Pembinaan Profesi Guru dan Tenaga Kependidikan. Jakarta

Kemdikbud 2020. Buku Pegangan Pengajar Diklat Penguatan Kepala Sekolah. LPPKSPS. Karanganyar. Jawa Tengah.

Referensi

C. Otto Scharmer, 2018, The Essentials of Theory U: Core Principles and Applications, Berret-Koehler Publishers. Inc, 1333 Broadway, Suite 1000, Oakland CA 94612-1921 USA

Henry Mintzberg.2019. Bed Time Stories or Managers. Barret-Koehler Publishers, Inc. 1333 Broadway, Suite 1000, Oakland, CA 94612-1921 Best Practice Yuli Cahyono. 2020.

Best Practice:

Yuli Cahyono. 2020. Meningkatkan potensi kepemimpinan dan kompetensi kepala sekolah melalui pendampingan penerapan Teori U dalam pelaksanaan program pengembangan kewirausahaan di SMA Negeri 1 Tenjolaya Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat. LPPKSPS, Karanganyar, Jawa Tengah. 081328823475.

Share this Post: