Endang Setyowati : Kepala Sekolah yang Gemar ”Nongkrong”

Oleh :

Sumber : http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000009312247

BAGI Endang Setyowati, Kepala SMAK 1 BPK Penabur, Jakarta Barat, menjadi kepala sekolah berarti harus menjadi kaki di sekolah. Kepala sekolah harus berjalan, turun, dan membaur bersama sesama rekan guru serta murid. Berjalan bersama disadari sebagai pilihan tepat.

Kesadaran Endang ini diimplementasikan ke dalam banyak hal. Salah satunya, program meningkatkan kinerja guru dengan cara memberikan pendampingan yang digagasnya. Gagasan yang diimplementasikan itu berhasil mengantarkannya menjadi juara pertama Lomba Kepala Sekolah SMA Berprestasi Nasional pada Agustus 2014.

”Kepala sekolah tidak boleh hanya duduk di kantor dan menunggu laporan kinerja. Harus keluar dan mau mendengarkan curhat, baik dari siswa, guru, sampai pegawai kebersihan,” kata Endang (57) ketika ditemui di ruang kerjanya, di Jakarta.

Kesenangan turun ke bawah di lingkungan sekolah yang dia kepalai membuat Endang jarang berada di ruang kepala sekolah. Dia lebih sering berbincang-bincang di ruang guru. Tidak jarang, Endang nongkrong di selasar atau anak tangga bersama para murid.

”Guru-guru muda sering memiliki ide-ide segar tentang metode dan topik mengajar. Namun, (sebagian) mereka segan mengungkapkannya dalam forum resmi,” ujar Endang menjelaskan alasannya mendekati para guru.

Karena kesediaan Endang mendengarkan gagasan-gagasan para rekan guru yang berusia muda, metode pengajaran yang diterapkan di SMAK 1 BPK Penabur pun mulai berubah. Guru menjadi lebih kreatif dan komunikatif dengan para murid. Perubahan ini menciptakan suasana belajar yang aktif.

”Murid-murid juga demikian. Mereka butuh didengar dan diberi perhatian. Dengan demikian, mereka merasa nyaman di sekolah. Apalagi sekarang ini mendidik anak-anak bisa dikatakan semakin susah,” lanjut Endang.

SMAK 1 BPK Penabur dikenal sebagai sekolah yang muridnya sering menjuarai berbagai lomba ilmiah. Namun, menurut Endang, ketersediaan sarana dan prasarana di rumah dan di sekolah membuat para murid yang cerdas sekalipun menjadi manja, konsumtif, suka menggampangkan masalah, dan cenderung amat bergantung kepada orangtua.

Oleh karena itu, pendidik harus terus merangsang rasa ingin tahu murid dan ”memaksa” mereka untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya. Guru kemudian berperan seperti bidan yang membantu kelahiran ide-ide dan gagasan kreatif. Prinsip yang dipegang Endang adalah guru profesional tidak boleh langsung pulang begitu jam kerja berakhir.

Dia berusaha terus memantau aktivitas ekstrakurikuler, sembari membaur dan ngobrol dengan para murid secara informal dan rileks. Pasalnya, murid cenderung tidak suka apabila dinasihati guru secara formal.

Menurut Endang, yang menjadi guru sejak tahun 1982, murid lebih menyukai berdiskusi secara terbuka dan santai. Dalam kesempatan inilah, guru bisa menyelipkan pesan-pesan moral kepada murid.

Endang mengaku, pada awalnya dia tidak berencana menjadi guru. Selepas SMA, dia diterima untuk kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya. Akan tetapi, keadaan keuangan keluarga yang pas-pasan membuat dia tidak bisa mengejar impiannya menjadi dokter.

Amarah yang luluh

Sebagai pelipur lara lantaran pupusnya cita-cita menjadi dokter, salah seorang kakaknya mendaftarkan Endang kuliah pada Jurusan Pendidikan Kimia Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Jakarta (sekarang Universitas Negeri Jakarta).

Pada masa-masa awal, Endang bercerita, dia sempat ogah-ogahan menjalani kuliah karena merasa masih marah terhadap keluarganya. Endang merasa keluarga menghalangi dia untuk mencapai cita-citanya.

Akan tetapi, ketika Endang memulai praktik mengajar di sekolah-sekolah negeri di Jakarta, dia melihat banyak dari murid yang diajar berasal dari keluarga dengan keadaan ekonomi yang lebih buruk daripada keadaan ekonomi keluarganya.

Kenyataan tersebut meluluhkan amarah yang sebelumnya berkecamuk di dalam diri Endang. Ia mulai menyadari bahwa menjadi seorang pengajar merupakan pekerjaan yang mulia. Endang mulai menerima dan memperjuangkan jalan hidupnya sebagai guru, bukan dokter seperti cita-cita awalnya.

Setelah lulus kuliah, Endang melamar sebagai guru SMA di Yayasan BPK Penabur. Konsistensi dalam bekerja membuat Endang dipercaya menjadi ketua laboratorium kimia. Dalam beberapa tahun, kariernya menanjak menjadi wakil kepala
sekolah bidang kurikulum, dan pada 2000, ia dipercaya menjadi Kepala SMAK 7 Penabur yang baru
dibangun di Kalimalang, Jakarta Timur.

Tantangan untuk memasarkan sekolah yang baru dibuka membuat Endang memutar otak. Apalagi, SMAK 7 dikelilingi sekolah negeri bermutu baik, dengan biaya yang lebih murah. Jalan yang ditempuh Endang adalah menjadikan SMAK 7 sekolah yang fokus pada pembelajaran teknik informatika, sebuah hal yang jarang pada masa itu.

Minat khusus

Untuk itu, Endang membangun laboratorium komputer dan membuat program lokakarya yang mengundang murid-murid SMP agar datang mencoba laboratorium tersebut. Hasilnya, murid yang memiliki minat di bidang komputer dan informatika pun beramai-ramai masuk bersekolah di SMAK 7.

Setelah mengembangkan SMAK 7, Endang dipercaya memimpin SMAK Penabur Gading Serpong di Tangerang. Di bawah kepemimpinan Endang-lah program Brilliant Class dibuka bekerja sama dengan fisikawan yang mengantarkan banyak anak Indonesia menjuarai kompetisi tingkat dunia, yaitu Yohanes Surya.

Program dirancang untuk merekrut murid-murid SMP cerdas di bidang Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) guna dididik dengan tujuan mengikuti berbagai lomba ilmiah di tingkat nasional dan internasional.

Dalam pencarian bibit unggul, Endang mengepak kopernya dan mendatangi sejumlah SMP di Indonesia. Kegiatan itu dilakukan berminggu- minggu. Semacam upaya menjemput bola, tidak hanya menunggu. Karena usahanya itu, pada tahun ajaran 2008/2009, angkatan pertama Brilliant Class pun terwujud.

Upaya menemukan anak-anak cerdas ini menyadarkan Endang tentang keseimbangan. Kecerdasan yang ditempa lantas diperoleh tidak cukup. Pendampingan untuk pengembangan karakter dilakukan lebih intensif. Kecerdasan tanpa karakter telah terbukti membawa petaka, bukan manfaat bagi masyarakat banyak. Ini yang menjadi kesadaran Endang saat mendampingi murid-muridnya dan nongkrong bersama.

—————————————————————————

Endang Setyowati

♦ Lahir: Bojonegoro, Jawa Timur, 19 September 1957

♦ Suami:  Agustinus Titi

♦ Pendidikan: 

- Pendidikan Teknik Kimia IKIP Jakarta, 1979-1982

- Magister Manajemen Persekolahan Universitas Kristen Krida Wacana, 2004-2007

♦ Pekerjaan: 

- Kepala SMAK 1 BPK Penabur, 2012-kini

- Kepala SMAK BPK Penabur Kelapa Gading, Jakarta, 2009-2012

- Kepala SMAK BPK Penabur Gading Serpong, Tangerang Selatan, 2007-2009

- Kepala SMAK 7 BPK Penabur, Kalimalang, Jakarta Timur, 2000-2007

♦ Penghargaan:

- Juara Pertama Lomba Kepala Sekolah SMA Berprestasi Nasional, Agustus 2014

- Kepala Sekolah BPK Penabur Terbaik, 2005

Share this Post: