PENGEMBANGAN SEKOLAH UNTUK KEMANDIRIAN SEKOLAH

 

Whats-App-Image-2020-06-30-at-07-31-43

Oleh: Drs. Yuli Cahyono, M.Pd
Widyaiswara Ahli Madya
LPPKSPS Karanganyar-Jawa Tengah


Artikel ini membahas peran kepala sekolah dalam pengembangan sekolah di era keterampilan Abad 21, yakni keterampilan memecahkan masalah (problem solving), menganalisis proses (process analysis), berpikir sistem, (design system thinking), dan mengelola hubungan sosial (sosial management) (World Economy Forum-Analisa Kearney). Dalam dimensi standar kepala sekolah sering disebut sebagai kepala sekolah sebagai manajer. Peran kepala sekolah untuk mengelola perubahan. Atau kepala sekolah sebagai agent of change (Permendiknas 13 Tahun 2007). Pertanyaannya adalah bagaimana kepala sekolah mengelola perubahan sehingga kualitas pendidikan dan pembelajaran di sekolah terus tumbuh dan berkembang dengan baik.

Pernah melihat bagaimana seorang anak kecil pertama kali belajar naik sepeda? Menangis, ketakutan dan cemas. Untuk bisa naik sepeda saja sebagian besar anak tidak siap karena mereka belum punya tujuan yang jelas dan ketiadaan keterampilan bersepeda. Sejalan dengan bimbingan dan pelatihan bersepeda yang diberikan oleh orang tuanya, anak menjadi terbiasa dan terampil bersepeda. Setelah itu yang terjadi adalah anak berusaha untuk melepaskan diri dari kontrol orang tuanya. Kemudian yang terjadi adalah tumbuhnya perasaan pada diri si anak “merasa bisa melakukannya sendiri”. Main bersepeda dengan kelompok teman dekatnya menjauh dari pengawasan orangtuanya. Begitulah kemandirian itu ditanamkan, dilatihkan dan ditumbuhkan pada diri seorang anak kecil. Ada perubahan mental dari takut menjadi berani. Ada perubahan orientasi dari sekedar ingin tahu bagaimana rasanya bersepeda menjadi ingin tahu lebih mendalam dan meluas lagi dengan pergi jauh dari lingkungan rumah. Ada perubahan fisiologis dari tidak terampil mengayuh pedal sepeda menjadi ngebut sekencang-kencangnya. Ada perubahan kognitif dari tidak tahu bagian detil mekanik sederhana sepeda lalu menjadi sebuah ide kreatif inovatif untuk memodifikasi sepeda dengan ornamen baru sepeda lain yang menjadikan sepedanya lebih indah, lebih cepat, dan lebih berdaya guna untuk berbagai kebutuhan hidup si anak. Perjalanan kemandirian ditanamkan, ditumbuhkan, dilatihkan dan dipanen dengan begitu cair (Nick Shackleton Jones, 2019).

Demikian juga dengan sekolah. Pengembangan sekolah, sebenarnya, adalah sebuah upaya untuk memandirikan sekolah (Ken Robinson and Lou Aronica, 2015). Pengembangan sekolah menjadikan sekolah sebagai tempat menanam, menumbuh-kembangkan, melatih siswa menjadi manusia yang berkepribadian mandiri yang mampu menjawab tantangan kehidupan di dunia nyata, yakni permasalahan kehidupan yang ada di masyarakat. Singkat kata, kegiatan pembelajaran di sekolah harus mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia demi pencapaian kinerja pembangunan pemerintah daerah provinsi/kab/kota dan pembangunan nasional. Bagaimana visi dan misi yang begitu mulia ini bisa dimainkan oleh sekolah, yang dalam hal ini adalah para guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan dan pengawas sekolah? 

Sekolah menjadi problem solver berbagai persoalan ketidak-adilan, ketimpangan, ketidak-harmonisan, kesenjangan sosial, pembangunan nasional (Ken Robinson, 2019). Misalnya membantu mengurangi pengangguran di daerahnya dengan pembelajaran kewirausahaan yang mendorong wira usaha di kalangan warga usia produktif; atau membantu mengatasi masalah stunting dengan pembelajaran berbasis proyek sosial berupa bantuan makanan bergizi, susu vitamin, dll melalui kegiatan sosial mengelola donasi / sumbangan dari masyarakat; atau membantu mengatasi perkawinan usia dini di daerahnya dengan pembelajaran berbasis proyek kegiatan sosial; atau membantu mengatasi kesulitan petani dengan pembelajaran yang inovatif menciptakan alat penyiram tanaman jagung; atau membantu mengatasi permasalahan persampahan dengan pembelajaran kreatif yang menciptakan tempat sampah pintar bagi semua warga masyarakat di daerahnya; atau membantu mempromosikan pariwisata di daerahnya dengan program kegiatan ekstrakurikuler membuat tayangan film pendek yang mengangkat nilai-nilai budaya lokal. Pengembangan sekolah menjadikan semua sekolah menjadi Sekolah Nasional Plus. Sekolah di waktu pagi untuk mengejar target kurikulum nasional. Dan sekolah di waktu sore untuk pembelajaran pengembangan kewirausahaan, pembelajaran proyek kegiatan sosial, pembelajaran STEM, pembelajaran STEAM, dan seterusnya. Jadi, pembelajaran seperti apa yang mesti dilakukan di sekolah?

Guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan dan pengawas sekolah secara bersama-sama mendisain pengalaman belajar siswa dengan berbagai skenario kegiatan, misalnya melalui pembelajaran STEM dan STEAM yang berbasis inkuiri, proyek, masalah dan desain berpikir. Ini Best Practice di SMAN 1 Tenjolaya, Kab Bogor Jawa Barat. Tahapan kegiatan terdiri dari dua tahap, yakni tahap prototyping dan tahap piloting (C. Otto Scharmer, 2018). Pada tahap prototyping pembelajaran berlangsung di sekolah dengan tatap muka di kelas, tugas kokurikuler dan ekstrakurikuler selama jangka waktu periode tertentu bisa 3 sampai dengan 6 bulan. Pada tahap ini kegiatan pembelajarannya antara lain: 1) mengidentifikasi masalah (kesenjangan dan peluang);  2) mengidentifikasi materi apa saja (kompetensi inti dan kompetensi dasar) yang diperlukan untuk mengatasi masalah; 3) membuat daftar alternatif solusi untuk perbaikan, peningkatan dan pengembangan; 4) membuktikan dan menguji solusi ketergunaan dan ketepatannya; 5) mengimplementasikaan desain, menganalisis, mendesain ulang kembali; 6) merefleksikan proses terhadap keefektifan kesalahan dan dunia nyata; dan 7) publikasi ilmiah dan temuan. Prinsip-prinsip pengembangan sekolah modern misalnya growth mindset, menghargai kesalahan, community of practice, banana principles, dll diterapkan. Pada tahap ini ruang lingkupnya masih terbatas di lingkungan pembelajaran sekolah, oleh karena itu kesalahan masih dibolehkan. 

Tahap selanjutnya, adalah piloting. Tahap dimana sekolah mewujudkan visi dan misi mulianya menjadi problem solver permasalahan nyata di masyarakat. Tahap dimana sekolah menyatukan tujuan pembelajaran di sekolah dengan tujuan pembangunan nasional. Sekolah melalui guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan dan pengawas sekolah bekerja secara bersama-sama dalam sebuah program pengembangan sekolah. Misalnya, Program STEAM Untuk Inovasi Produk Berbasis Hasil Pertanian. Pada kegiatan piloting, pengembangan wira usaha menggunakan Model Bisnis Canvas. Sekolah dapat bekerja sama (MoU) dengan berbagai pihak eksternal, misalnya Perguruan Tinggi/Universitas terdekat, Badan Penelitian dan Pengembangan di daerahnya, birokrasi, yakni dinas-dinas pemerintahan yang relevan), Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI), organisasi kemasyarakatan dan sosial dan unit-unit pelaksana teknis pemerintahan lain seperti BUMN, UMKM, BNSP, HAKI, dll. 

Pada pelaksanaan kegiatan sekolah juga melibatkan komite sekolah, kecamatan, kelurahan/desa, pejabat pembina desa, puskesmas, tokoh masyarakat dan warga masyarakat yang sekaligus orang tua/wali siswa. Pada tahap ini, prototyping diimplementasikan kembali secara lebih meluas di masyarakat.  Karena produk karya siswa langsung digunakan oleh masyarakat maka tidak boleh lagi ada kesalahan (error), ketidak-efektifan dan rendah guna. Siswa perlu dilatih dengan penjaminan produk yang baik itu seperti apa dan bagaimana proses bekerjanya. 

Program selanjutnya berupa pertanyaan terbuka. Yakni, tema apalagi yang bisa dilakukan di sekolah? Itu yang harus terus digulirkan, dan tidak pernah dihentikan, dan tidak pernah pula berulang sama pada setiap tahun pelajaran. Berganti tahun pelajaran adalah berganti pikiran, berganti ide/gagasan dan berganti pula kegiatannya. Semuanya untuk kemandirian siswa agar mau dan bisa belajar, dan menjadi manusia baru yang bisa hidup di jamannya. Kualitas pembelajaran di sekolah terus tumbuh dan berkembang dengan baik sebagai alat pendidikan yang mampu berkontribusi secara signifikan, tepat dan berguna bagi pembangunan bangsa (Moura Quayle, 2017).

Kebijakan 
Kemdikbud. 2020. Peta Jalan Pendidikan Indonesia 2020-2035. Kemdikbud, Jakarta
Kemdikbud. 2017. Panduan Implementasi Kecakapan Abad 21 Kurikulum 2013 di SMA. Kemdikbud, Jakarta
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 13 tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 15 Tahun 2018 tentang Pemenuhan Beban Kerja Guru, Kepala Sekolah, dan Pengawas Sekolah

Referensi
C. Otto Scharmer, 2018, The Essentials of Theory U: Core Principles and Applications, Berret-Koehler Publishers. Inc, 1333 Broadway, Suite 1000, Oakland CA 94612-1921 USA
Ken Robinson and Lou Aronica, 2015, Creative Schools: Revolutioning Education from The Ground Up, Viking Penguin, Pinguin Groups, 375 Hudson Street, New York, 10014 U
Ken Robinson, 2019, You, Your Child and School, Penguin, Random House LLC United Kingdom
Moura Quayle, 2017, Designed Leadership, Columbia University Press, New York, USA
Nick Shackleton Jones, 2019, How People Learn: Designing Education and Training That Works to Improve Performance, Kogan Page Limited, 2nd Floor, 45 Gae Street, London EC1V 3RS United Kingdom

Best Practice
Yuli Cahyono. 2020. Best Practice: Meningkatkan potensi kepemimpinan dan kompetensi kepala sekolah melalui pendampingan penerapan Teori U dalam pelaksanaan program pengembangan kewirausahaan di SMA Negeri 1 Tenjolaya Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat. LPPKSPS, Karanganyar, Jawa Tengah. 081328823475.

Share this Post: